- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Dorong Pelindungan Kekayaan Intelektual UMKM Binaan
- Kolaborasi Dinas Kesehatan dan PT RAPP Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Riau
- Dukung Pelestarian Pesisir, RAPP Tanam 2.000 Mangrove di Desa Bagan Melibur
- RAPP Perkuat Upaya Pelestarian Mangrove di Kepulauan Meranti
- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual, Dorong Produk Lokal Naik Kelas
- Inhu Expo 2026 Jadi Panggung UMKM dan Kreativitas Generasi Muda, Resmi Ditutup Wabup Hendrizal
- Rakerda KORMI Dibuka Wako
- Dukung Generasi Bebas Stunting, Agrinas Palma Nusantara Salurkan Bantuan Susu di Rohil
- Stand Pendaftaran PRB 2027 Resmi Dibuka: Langkah Awal Menuju Ajang Kompetisi Sains
- Operasi Patuh Lancang Kuning 2026, Satlantas Polres Meranti Beri 135 Teguran
BKKBN Perwakilan Riau Gencarkan Lima Strategi Aksi Turunkan Prevalensi Stunting

Pekanbaru, VokalOnline.Com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah Riau menggencarkan lima strategi aksi dalam upaya menurunkan prevalensi stunting di daerah itu yang tercatat sebesar 22,3 persen sesuai Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021.
"Kelima strategi tersebut sesuai dengan Peraturan Kepala BKKBN Nomor 12 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (Ranpasti) Tahun 2021-2024," kata Kepala BKKBN Perwakilan Riau Mardalena Wati Yulia di Pekanbaru, Senin.
Strategi tersebut disampaikannya pada seminar Kesehatan nasional bertema "Inisiatif Pendampingan Percepatan Pencegahan Stunting (INI PENTING) Menuju Generasi Sehat" digelar BKKBN Riau bersama Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai diikuti seratus lebih mahasiswa di Pekanbaru, Senin (4/7).
Dia mengatakan, kelima strategi aksi tersebut, yakni pertama penyediaan data keluarga berisiko Stunting yang dimutakhirkan melalui sistem informasi keluarga. Kedua, pendampingan pasangan usia subur yang berisiko Stunting.
Kemudian yang ketiga survei keluarga berisiko Stunting, keempat pendampingan calon pengantin atau pasangan usia subur, dan terakhir mengaudit kasus Stunting.
"Khusus untuk audit kasus stunting tidak hanya fokus pada audit kasus baduta atau balita stunting. Fokusnya diarahkan pada upaya pencegahan lahirnya bayi stunting yang dimulai sejak audit kasus kelompok sasaran calon pengantin, ibu hamil atau nifas serta baduta atau balita yang bersisiko stunting," katanya.
Pada kesempatan itu, ia mengimbau mahasiswa sebagai calon generasi penerus bangsa agar dapat mendampingi keluarga yang berisiko stunting melalui program mahasiswa peduli stunting.
Dalam upaya mendukung kelima strategi dalam upaya menurunkan prevalensi stunting tersebut maka pihaknya juga sudah membntuk 10.674 tim pendamping keluarga risiko stunting. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021 prevalensi stunting di Provinsi Riau tercatat sebesar 22,3 persen atau masih rendah dibawah nasional yang tercatat 24,4 persen. Pemerintah tahun 2024 menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi sebesar 14 persen. **Fira
Berita Terkait :
- Forki Pekanbaru Syukuran Juara Umum Kejurprov 20220
- Gubernur Riau Terus Perjuangkan Harga TBS Sawit 0
- Selain Sukses Memecah Belah DPRD Juga Sukses Memecah Belah Jurnalis0
- Plt Bupati Jangan Berdalih Tidak Terlibat Susun APBD 20220
- Lulus Pasing Grade, 1.253 Guru Honorer Pemprov Riau Diangkat Jadi PPPK0
_Black11.png)









