- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
- Walikota Pimpin Upacara HUT Kota Dumai ke-27, Soroti Program Unggulan
- Pesan Menteri Nusron untuk Jajaran di Riau: Pemimpin Harus Memudahkan Pelayanan bagi Masyarakat
- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
Harimau Seret Remaja di Inhil Dari Pondok Hingga Tewas

Bekas cakaran harimau di pondok tempat remaja diseret hingga meninggal dunai. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Konflik harimau dengan manusia kembali terjadi di Riau. Kali ini di areal hutan tanaman industri PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa, Desa Teluk Kabung, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir pada 31 Oktober 2021.
Saat itu, remaja perempuan diseret dari pondok kerja dari terpal oleh seekor harimau sumatra. Jasadnya ditemukan dengan luka di bagian tengkuk dan kepala.
Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Mahfud menyebut petugas sudah di lokasi melakukan mitigasi konflik satwa. Petugas menghimbau pekerja di sana tidak bertindak sendiri.
"Jangan berbuat anarkis kepada satwa liar yang dilindungi," kata Mahfud, Rabu siang, 3 November 2021.
Mahfud mewakili BBKSDA Riau menyampaikan duka mendalam atas kejadian ini. Petugas juga sudah mengunjungi keluarga korban.
"Masyarakat ataupun pekerjaan di sana jangan memasang jerat," kata Mahfud.
Mahfud menerangkan, korban MS berumur 12 tahun merupakan anak salah satu pekerja di PT Usaha Berkat Fangarato. Perusahaan ini merupakan kontraktor penanaman PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa.
"Lokasi kejadian sedang dilakukan penanaman," kata Mahfud.
Minggu dini hari, 31 Oktober 2021, ibu korban mendengar jeritan minta tolong dari anaknya. Sebelum jeritan itu, korban dan ibunya tengah tidur di dalam pondok kerja terbuat dari terpal.
Mendengar jeritan itu, ibu korban terbangun dan dan samar samar melihat anaknya seperti ada yang menyeret keluar dari pondok kerja. Ibu korban bergegas keluar dari pondok tapi anaknya tidak terlihat lagi karena kondisi gelap.
Ibu korban kembali masuk ke pondok untuk mengambil lampu senter untuk mencari korban. Selanjutnya ibu korban menemukan anaknya sekitar 60 meter dari pondok dalam kondisi meninggal dunia.
"Ada bekas luka luka cakaran dan gigitan di bagian kepala serta tengkuk korban," kata Mahfud.
Melihat kondisi anaknya tersebut, ibu korban meminta tolong ke camp pekerja lain yang tak jauh dari lokasi. Saat kejadian, ayah korban tidak berada di pondok karena sedang belanja keperluan untuk lokasi kerja.
"Tidak berapa lama kemudian tenaga kerja yang berada di dekat lokasi menghubungi keluarga korban di PT Bina Duta Laksana dan keluarga korban menghubungi sekuriti," jelas Mahfud.
Satu jam kemudian, sekuriti PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa datang ke lokasi dan mengevakuasi korban ke pos kesehatan perusahaan.
Selanjutnya dilakukan visum oleh pihak kepolisian dan medis dengan hasil diagnosis awal kematian disebabkan oleh Death On Arrival atau oleh gigitan binatang buas.
"Korban selanjutnya dibawa ke rumah duka dan dimakamkan," kata Mahfud. (syu)
Berita Terkait :
- Polresta dan Polda Riau Buru Tahanan Kabur0
- Permigastara Dorong Pelibatan Pengusaha Lokal Tingkatkan Produktivitas Migas0
- Bupati Kampar Sampaikan KUA-PPAS TA 2022 ke DPRD0
- Gajah Sakit yang Sempat Diobati BBKSDA Riau Ditemukan Mati0
- Bank BJB Gelar Rangkaian Talkshow Mesrakan UMKM0
_Black11.png)









