- Tambang Batu Bara PT Era Perkasa Mining di Inhu Disorot, Lokasi Aktivitas Diduga Berbeda dengan IUP
- Kebakaran Rumah di Selatpanjang, Begini Penjelasan Polisi
- Hendry Munief Soroti Privatisasi Pesisir dan Abrasi dalam Pembahasan RUU Daerah Kepulauan
- Syahrul Aidi dan Hendry Munief Kompak Motivasi Mahasiswa UNRI Mandiri Sejak Kuliah
- Trisakti School of Multimedia Gandeng CIP Pekanbaru,Bahas Digital Marketing hingga Personal Branding
- Pesangon 10 Pekerja Tak Dibayar Usai PHK Sepihak, PT Awal Bros Bumi Pusaka Diduga Kebal Hukum
- Paksa 10 Pekerja Teken Surat Pengunduran Diri, HRD dan Manager SPPBE PT Awal Bros Dilaporkan
- Penuh Kehangatan Kapolres Meranti Dalam Kenal Pamit Pejabat Usai Pelantikan
- BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome
- Revolusi Keuangan Puskesmas di Inhil, Satu Rekening untuk Banyak Transaksi
Korsel Catat Kematian Pertama Kasus Ameba Pemakan Otak

Pria di Korea Selatan meninggal setelah didiagnosa terinfeksi Naegleria fowleri atau ameba pemakan otak.
Jakarta, VokalOnline.Com -- Korea Selatan melaporkan kematian pertama dari Naegleria fowleri atau biasa disebut "ameba pemakan otak" pada Senin (26/12).
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (Korea Disease Control and Prevention Agency/KDCA) membeberkan pasien yang merupakan laki-laki berusia 50 tahun itu meninggal dunia tak lama setelah melakukan perjalanan dari Thailand.KDCA memaparkan pria tersebut kembali ke Korsel pada 10 Desember setelah empat bulan bertugas di Thailand.Dikutip The Straits Times, sehari usai tiba di Korsel atau pada 11 Desember, pria itu dilarikan ke rumah sakit. Ia lalu meninggal pada 21 Desember.Badan kesehatan Korsel itu juga menerangkan untuk memastikan penyebab kematian, pihaknya melakukan tes genetik terhadap tiga jenis patogen penyebab Naegleria fowleri.Berdasarkan hasil tes gen dalam tubuh laki-laki itu 99,6 persen mirip dengan yang ditemukan di pasien meningitis yang dilaporkan di luar negeri.Ini menjadi kasus pertama dari penyakit semacam itu di Korea Selatan. Kasus pertama Naegleria fowleri dilaporkan terjadi di Virginia pada 1937.Naegleria fowleri adalah ameba atau organisme hidup bersel tunggal yang hidup di tanah dan air tawar hangat. Mereka hidup di tempat seperti mata air panas, danau, dan sungai, di seluruh dunia.Ameba memasuki tubuh dengan menghirup melalui hidung dan menjalar ke otak.KDCA menjelaskan gejala awal penyakit ini mungkin berupa sakit kepala, demam, mual atau muntah, dan gejala lain yang menyebabkan sakit kepala parah serta kaku leher.Masa inkubasi Naegleria fowleri biasanya berlangsung dua hingga tiga hari dan paling banyak sampai 15 hari.Namun, KDCA mengatakan penularan Naegleria fowleri dari manusia ke manusia tak mungkin terjadi.Meski begitu, badan tersebut mengimbau agar warga tak berenang di daerah dan lingkungan yang berpotensi terdapat ameba."Untuk mencegah infeksi Naegleria fowleri, kami merekomendasikan agar menghindari aktivitas berenang dan rekreasi, menggunakan air bersih saat bepergian ke daerah di mana kasus telah dilaporkan," kata kepala KDCA, Jee Young Mee, dalam pernyataan resmi, seperti dikutip Korea Herald.Air bersih yang dimaksud mengacu pada semua jenis air yang belum terkontaminasi. Namun, KDCA juga menekankan orang tak bisa terinfeksi penyakit itu dengan meminum air yang terkontaminasi.Mereka juga mencatat risiko terinfeksi Naegleria terjadi saat suhu air naik selama musim panas. **Syafira
Berita Terkait :
- Covid Jepang 100 Ribu Kasus, Anak-anak Sehat Meninggal usai Terinfeksi0
- 4 Fakta Gelombang Covid-19 China hingga Disebut Tembus 250 Juta kasus 0
- Menutup Akhir Tahun 2022, JMSI Riau Taja Diskusi Sawit Bersama Apkasindo0
- Kenapa Salman al Farisi Sangat Disayangi Allah SWT, Berikut Cerita Nabi Muhammad SAW 0
- Emir Qatar Sang Penggila Bola Gelontorkan Rp3.114 T untuk Piala Dunia 0
_Black11.png)









