- Dukung Program MBG, SPPG Pematang Reba 02 Ikuti Peresmian Serentak 980 SPPG
- 320 Posyandu Diperkuat, RAPP Bekali Ribuan Kader dengan Edukasi Kesehatan dan Gizi di Riau
- Merawat Silaturahmi, Menguatkan Kontribusi: IKA Unri RAPP Punya Nahkoda Baru
- Alam Cahayo Tuah Nagoghi dan Sari Jadi Gementar Alam Melaju ke Final Pacu Jalur 2026
- Dari Konflik Menuju Kolaborasi, RAPP dan Petani Beruk Sepakati Pengelolaan Lahan yang Kondusif
- Cegah Kabut Asap Makin Tebal Polsek Tebing Tinggi Bagikan Masker kepada Masyarakat
- Tradisi Penghormatan Polri, Welcome and Farewell Parade Tandai Pergantian Kapolda Riau
- DPRD Meranti Panggil Sejumlah OPD, Bahas Persoalan Pergaulan Remaja dan Perlindungan Anak
- Siompu Kampar Riau Tampilkan Parade Manjujuong Dulang dan Baju Bakuduong
- H. Ian Machyar Terpilih Aklamasi sebagai Ketua BPC Perhumas Pekanbaru Periode 2026-2029
Penyair Kita Kurang Riset

JAKARTA, VokalOnline.Com - Untuk dapat menghasilkan karya puisi yang bagus, salah satu yang sebaiknya dilakukan para penyair, melakukan riset, atau pengamatan yang mendalam terhadap objek yang bakal ditulis. Namun justeru kekurangan banyak penyair kita, kurang melakukan riset yang memadai.
Demikian dikemukan pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Ibnu Wahyudi, dalam diskusi peluncuran antologi puisi “Ketika Jakarta Tak Lagi Menjadi Ibukota Negara,” di ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Kamis, 24/5.
Pada Acara yang diprakarsai oleh Komunitas Literasi Betawi itu, Ibnu Wahyudi yang juga seorang penyair dan menulis bagian epilog di buku, menegaskan, agar para penyair dapat memahami dan menghayati aspek-aspek yang bakal ditulisnya, diperlukan “riset” pribadi mendalam. Tanpa riset, tambah Ibnu Wahyudi, sulit dihasilkan karya puisi yang mencerminkan objek penulisannya.
Sedangkan penyair Wina Armada Sukardi yang juga tampil sebagai pembicara, mengungkapkan, setidaknya ada tiga elemen yang perlu dipenuhi oleh para penyair dalam menulis karya puisi.
Pertama, para penyair perlu benar-benar menyadari mereka menulis puisi, bukan prosa. Konsekuensinya, dalam pemilihan dan penyusunan kata serta struktur kalimat, sejak awal sudah diniatkan untuk karya puisi. “Masih banyak karya puisi yang ditulis tak beda dengan karya prosa,” tutur Wina Armada yang juga dikenal sebagai kritikus film.
Menurut Wina, memang ada juga puisi yang prosais. Walau begitu, Wina mengingatkan, penulisannya puisi prosais sekalipun, harus tetap memenuhi kaedah-kaedah puisi.
Kedua, pemaknaan. Puisi, tambah Wina, sebaiknya mengandung subtansi gagasan yang kuat, baik yang bersifat filosofis, renungan atau pun estetis. Wina yang juga seorang advokat, menilai masih banyak puisi yang “zong” alias tak memiliki kandungan nilai yang berarti.
Selanjutnya, ketiga, Wina mengutip Presiden Penyair Indonesia Sutardji Chalzoum Bachri, puisi haruslah menunjukkan identitas diri penulisnya. DNA penulisnya. “Namun terus terang masih banyak penyair belum berupaya menunjukkan jati dirinya, karena cuma memamah biak dari yang sudah banyak dilakukan penyair sebelumnya,” tandas Presiden Festival Film Wartawan Indonesia yang sudah menjadi wartawan lebih dari 45 tahun.

Acara dimeriahkan dengan membacakan puisi. Berbagai macam gaya baca puisi tampil di acara yang dihadiri para penyair dan wartawan itu.**
Berita Terkait :
- FH UIR dan FH UIB Sepakati Kegiatan Bersama Dalam Benchmarking Pengembangan Kurikulum MBKM0
- BEM UI Tetapkan Debat Capres Anies, Ganjar & Prabowo 14 September0
- 8 Konglomerat RI Siap Bangun IKN0
- Ramai Respons Isu Pembubaran KPK, PDIP Klarifikasi Maksud Megawati0
- Masyarakat Desan PTUN Jakarta Tolak Gugatan PT TUM0
_Black11.png)








