- Legislator Dapil Riau Dr Karmila Sari Raih detikSumatera Award 2026
- Hendry Munief Dorong RUU Daerah Kepulauan Berbasis Realitas dan Keadilan Geografis
- Vendor Security RS Awal Bros Dumai Diduga Tarik Uang Pelicin, Manajemen Sebut Sudah Berganti Vendor
- INPEST Inhu Soroti Dugaan Tipikor, Kades Talang Durian Cacar dan Ketua BPD Bakal Dilaporkan
- IPP Pekanbaru Buka Layanan Hapus Tato Gratis di Senapelan
- Selain Bantu UMKM, Hendry Munief Dorong Pelaku Industri Kembangkan Industri Halal
- Kabut Asap Menurun, PDIP Kuansing Turun ke Jalan Bagikan Masker
- DPR Janji Sahkan RUU Perampasan Aset Korupsi: Harus Tegas Hukuman Mati Efek Jera Untuk Koruptor
- FORKI Dumai Disebut Tak Koordinasi dengan Perguruan Karate Terkait Pencalonan Ketua KONI
- Aksi Warga Kepayang Sari di Lahan Eks Tasma Puja, PT Agrinas Palma Sepakati Penghentian Operasional
Penyair Kita Kurang Riset

JAKARTA, VokalOnline.Com - Untuk dapat menghasilkan karya puisi yang bagus, salah satu yang sebaiknya dilakukan para penyair, melakukan riset, atau pengamatan yang mendalam terhadap objek yang bakal ditulis. Namun justeru kekurangan banyak penyair kita, kurang melakukan riset yang memadai.
Demikian dikemukan pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Ibnu Wahyudi, dalam diskusi peluncuran antologi puisi “Ketika Jakarta Tak Lagi Menjadi Ibukota Negara,” di ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Kamis, 24/5.
Pada Acara yang diprakarsai oleh Komunitas Literasi Betawi itu, Ibnu Wahyudi yang juga seorang penyair dan menulis bagian epilog di buku, menegaskan, agar para penyair dapat memahami dan menghayati aspek-aspek yang bakal ditulisnya, diperlukan “riset” pribadi mendalam. Tanpa riset, tambah Ibnu Wahyudi, sulit dihasilkan karya puisi yang mencerminkan objek penulisannya.
Sedangkan penyair Wina Armada Sukardi yang juga tampil sebagai pembicara, mengungkapkan, setidaknya ada tiga elemen yang perlu dipenuhi oleh para penyair dalam menulis karya puisi.
Pertama, para penyair perlu benar-benar menyadari mereka menulis puisi, bukan prosa. Konsekuensinya, dalam pemilihan dan penyusunan kata serta struktur kalimat, sejak awal sudah diniatkan untuk karya puisi. “Masih banyak karya puisi yang ditulis tak beda dengan karya prosa,” tutur Wina Armada yang juga dikenal sebagai kritikus film.
Menurut Wina, memang ada juga puisi yang prosais. Walau begitu, Wina mengingatkan, penulisannya puisi prosais sekalipun, harus tetap memenuhi kaedah-kaedah puisi.
Kedua, pemaknaan. Puisi, tambah Wina, sebaiknya mengandung subtansi gagasan yang kuat, baik yang bersifat filosofis, renungan atau pun estetis. Wina yang juga seorang advokat, menilai masih banyak puisi yang “zong” alias tak memiliki kandungan nilai yang berarti.
Selanjutnya, ketiga, Wina mengutip Presiden Penyair Indonesia Sutardji Chalzoum Bachri, puisi haruslah menunjukkan identitas diri penulisnya. DNA penulisnya. “Namun terus terang masih banyak penyair belum berupaya menunjukkan jati dirinya, karena cuma memamah biak dari yang sudah banyak dilakukan penyair sebelumnya,” tandas Presiden Festival Film Wartawan Indonesia yang sudah menjadi wartawan lebih dari 45 tahun.

Acara dimeriahkan dengan membacakan puisi. Berbagai macam gaya baca puisi tampil di acara yang dihadiri para penyair dan wartawan itu.**
Berita Terkait :
- FH UIR dan FH UIB Sepakati Kegiatan Bersama Dalam Benchmarking Pengembangan Kurikulum MBKM0
- BEM UI Tetapkan Debat Capres Anies, Ganjar & Prabowo 14 September0
- 8 Konglomerat RI Siap Bangun IKN0
- Ramai Respons Isu Pembubaran KPK, PDIP Klarifikasi Maksud Megawati0
- Masyarakat Desan PTUN Jakarta Tolak Gugatan PT TUM0
_Black11.png)









