- Syahrul Aidi Dukung MUI dan Forkomnas, Minta Pemerintah Konsisten Bela Palestina
- 600 Atlet INKANAS Berlaga di GDR Open Championship 1 Riau, Matangkan Persiapan Menuju Piala Kapolri
- Kasus ISPA di Meranti Capai 6.825 Kasus, Dinkes Minta Warga Waspadai Dampak Kabut Asap
- Cegah Masalah Hukum, Pemkab Meranti dan Kejari Ingatkan Kades Tertib Kelola Dana Desa
- Pemkab Meranti Bahas Isu LGBT, Fokus pada Pencegahan dan Pemetaan Titik Rawan
- Hendry Munief Bedah Program Mitra Komisi VII DPR RI saat Bimteknas DPP PKS se-Indonesia
- Persiapan Capai 99 Persen, Kejuaraan Karate GDR Championship Siap Digelar di Pekanbaru
- Gus Muhaimin Ungkap Kegelisahan saat Sowan UAS: Perpecahan Umat Tak Hasilkan Apa-Apa
- DPRD Pekanbaru Dukung Pelebaran Jalan HR Subrantas,
- KNARA Adukan PT SBP ke Komnas HAM RI, Dugaan Perusakan Kebun dan Kriminalisasi Petani Disorot
Prajurit TNI Tewas Saat Bertugas di UNIFIL Lebanon, UN Mulai Selidiki

JAKARTA, VokalOnline.Com - Lembaga pemikir GREAT Institute mengecam serangan yang dilakukan tentara Isral (IDF) ke markas UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di dekat kota Adchit Al Qusayr, Lebanon, pada Minggu malam, 29 Maret 2026. Serangan itu menewaskan seorang prajurit TNI yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian.
Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa menilai, serangan itu merupakan pelanggaran serius hukum internasional.
“Serangan ke markas pasukan penjaga perdamaian yang membawa mandat PBB adalah kejahatan perang. Pemerintahan Benjamin Netanyahu harus mempertanggungjawabkan hal ini,” ujar Teguh dalam keterangan kepada redaksi, Senin, 30 Maret 2026.
UNIFIL dalam keterangannya yang dimuat Al Jazeera mengatakan, tentara Indonesia anggota pasukan penjaga perdamaian itu tewas secara tragis.
“Kami tidak mengetahui asal usul proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menginvestigasi peristiwa ini,” ujar UNIFIL.
Sebelumnya, Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan militer Israel menyerang markas unit Indonesia di sekitar Adchit Al Qusayr pada Minggu. Laporan awal menyebut sejumlah personel terluka imbas serangan tersebut.
Pasukan UNIFIL berada di Lebanon selatan untuk mengawasi konflik antara Lebanon dan Israel di sepanjang garis demarkasi. Di kawasan ini pasukan militer Israel kerap terlibat adu tembak dengan milisi Hizbullah yang didukung Republik Islam Iran.
Sekitar 10 ribu personel dari sejumlah negara memperkuat UNIFIL, sebanyak 1.200 di antaranya adalah prajurit TNI. Ketegangan di kawasan semakin meningkat menyusul serangan AS dan Israel ke Iran sejak akhir Februari 2026. Dalam sebuah serangan di pekan pertama Maret 2026, personel UNIFIL dari Ghana juga terluka.(**)
Berita Terkait :
- Kutub Utara Menjadi Lokasi Latihan Perang Rusia0
- Beberapa Temuan Tim Ahli WHO soal Sumber Virus Corona di China0
- Nato Kerahkan 10 Kali Jet Tempur Untuk Cegat Masuk Bomber Rusia0
- WHO Katakan China Rahasiakan Data Asal Usul Virus Corona0
- AS Minta Diplomat Pergi dari Myanmar0
_Black11.png)








