- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
Dahlan Iskan Soroti Keuangan BUMN Karya

(Okezonenews)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Mantan menteri BUMN Dahlan Iskan menyoroti kondisi keuangan BUMN karya yang dalam keadaan sulit. Hal tersebut terlihat dari dari laporan keuangan tahunan yang baru saja dirilis perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah tersebut.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk, misalnya, mengalami rugi hingga Rp7,3 triliun. Padahal, pada 2019 perseroan berhasil mengantongi laba bersih Rp 938 miliar.
Kemudian, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk yang labanya terpangkas dari Rp2,28 triliun menjadi kurang dari Rp185,76 miliar, dan PT PP (Persero) yang turun dari Rp819,4 miliar menjadi Rp128,7 miliar."Sudah agak lama para pengamat ekonomi memprediksi: BUMN kelompok infrastruktur tinggal tunggu waktu, sulit atau sulit sekali," terang Dahlan dalam laman pribadinya DI's Way, dikutip Senin (5/4).
Menurut Dahlan, pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir, seperti jalan tol, membuat perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kesulitan pendanaan.
"Ketika bencana tahap 1 datang, harapan tinggal pada obligasi, medium term notes (MTM) dan sejenisnya. Tapi pemilik obligasi pun tahu mana perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok," imbuhnya.
Bahkan, jika menggunakan opsi rights issue di pasar modal, BUMN tetap punya batasan menjual saham ke publik, yaitu 50 persen saja."Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan mereka sebagian besar akibat kemakan bunga tinggi," ujarnya.
Dahlan khawatir para direksi dan komisaris perusahaan tersebut justru tak merasa khawatir dengan keuangan perusahaan mereka. Sebab, berbeda dengan swasta, perusahaan tersebut bukan milik mereka melainkan milik negara.
Di samping itu, masih ada jalan keluar bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Waskita misalnya dapat menjual jalan tol. "Tapi siapa yang mau beli dalam kondisi sulit begini," tanyanya.
(hrf/bir)
Berita Terkait :
- Sayonara, Giant Pamulang Square Tutup Permanen 0
- Rupiah Menguat Usai Libur Paskah 0
- Harga Emas Antam 5 April, Turun ke Rp.921 pergram0
- Gubernur Riau Dukung Pembangunan 1.000 Rumah Buruh Sawit0
- Memasuki Area Jenuh Jual, IHSG Berpotensi Menguat0
_Black11.png)









