- Spanduk Kritik Jalan Rusak Bermunculan, Warga Siak Tagih Janji Perbaikan Infrastruktur
- Kapolres dan Ketua Bhayangkari Kepulauan Meranti Ajak Siswa TK Menjadi Sahabat Lingkungan
- Bupati Asmar Perkuat Sinergi dengan Danposal Selatpanjang, Bahas Stabilitas Wilayah dan Pembangunan
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Siap Digelar, Ribuan Atlet Ditargetkan Berlaga
- Karmila Sari Dukung Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Percepat Pembangunan Daerah
- Indonesia dan Masa Depan Keamanan Kolektif Dunia Islam
- Dugaan Gratifikasi Guncang Inhu, Tiga Kades dan Satu Lurah Dilaporkan Terkait Konflik PT SBP
- BRK Syariah dan Pemkab Inhil Gelar Ramah Tamah ASN Pensiun dan Purnabakti
- Kodam XIX Tuanku Tambusai Perkuat Semangat Gotong Royong Lewat Karya Bakti Massal di Pekanbaru
- Hendry Munief Minta Pengusaha Perhatikan Buffer Zone Kawasan Industri demi Keseimbangan Semua Aspek
Rupiah Menguat Usai Libur Paskah

(marketbisnis.com)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.520 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (5/4) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,03 persen jika dibandingkan perdagangan Kamis (1/4) sore di level Rp14.525 per dolar AS.
Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,10 persen, dolar Singapura menguat 0,06 persen, dolar Taiwan menguat 0,06 persen.
Kemudian, won Korea Selatan menguat 0,03 persen, peso Filipina menguat 0,05 persen, dan rupee India menguat 0,16 persen.Sebaliknya, yuan China melemah 0,03 persen, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen dan bath Thailand terpantau menguat 0,09 persen.
Sementara itu, mata uang di negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,06 persen dan dolar Australia melemah 0,17 persen. Sedangkan, dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing menguat 0,11 persen 0,47 persen.
Analis sekaligus Direktur Utama PT Solid Gold Berjangka Dikki Soetopo memprediksi mata uang garuda akan kembali tertekan pada hari ini dengan pergerakan di rentang Rp14.440-14.590 per dolar AS.
Berbanding terbalik dengan rupiah, sepekan terakhir indeks dolar justru menguat 0,25 persen.
"Penguatan indeks dolar terjadi seiring dengan kenaikan yield surat utang jangka panjang Pemerintah AS," imbuh Dikki melalui keterangan tertulis.
Di dalam negeri, hubungan antara obligasi dan harga saham juga berlawanan arah. Artinya, jika terjadi kenaikan yield, maka harga saham cenderung menurun seperti yang terjadi belakangan ini.
"Capital outflow (arus modal keluar) ini lah yang menjadi pemicu pelemahan rupiah. Di sisi lain prospek perekonomian AS yang lebih cerah juga membuat dolar AS bangkit dari keterpurukan," tandasnya.
(hrf/bir)
Berita Terkait :
- Harga Emas Antam 5 April, Turun ke Rp.921 pergram0
- Gubernur Riau Dukung Pembangunan 1.000 Rumah Buruh Sawit0
- Memasuki Area Jenuh Jual, IHSG Berpotensi Menguat0
- Harga Tes Genose di Bandara dipatok Rp.40 Ribu0
- Cara Menikmati Diskon Tambah Daya Listrik dari PLN0
_Black11.png)









