- Sat Binmas Polres Inhil Cek dan Dampingi Peternakan P2B di Lorong Bunga Padi
- Polsek Enok Dampingi Warga Sulap Halaman Rumah Jadi Lumbung Pangan
- Polsek Enok Ajak Warga Perbanyak Tanam Kunyit dan Serai di Pekarangan
- Polsek Keritang Gencar Monitoring Peternakan Sapi Kotabaru, Cegah Curnak dan Dukung Ketahanan Pangan
- Jadi Sahabat Petani, Polsek Enok Dorong Warga Enok Rawat Cabe Rawit dan Serai Secara Rutin
- Personil Polsek Enok Imbau Warga Optimalkan Lahan untuk Hasil Panen dan Tingkatkan Perekonomian
- Agrinas dan Talang Mamak Bersinergi, Pengelolaan Kebun Eks PT SAL Buka Lapangan Kerja
- Polsek Keritang Monitor Tanaman Padi Menjelang Panen
- 53 SMP di Riau Dapat Pendampingan, RAPP Dorong Pendidikan Unggul Lewat School Improvement
- JMSI dan Bupati Pringsewu Bahas Program Kerakyatan dan HPN 2027 di Lampung
Geger Temuan 1,1 Juta Kg Minyak Goreng, Edy Rahmayadi Buka Suara

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengatakan dugaan penimbunan 1,1 juta kilogram minyak goreng di salah satu gudang di Deliserdang masih diselidiki polisi.
Medan, VokalOnline.Com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengatakan dugaan penimbunan 1,1 juta kilogram minyak goreng di salah satu gudang di Deliserdang masih diselidiki polisi.
"Kemarin ditemukan oleh Satgas Pangan di satu tempat di Deliserdang ada informasi diduga penimbunan. Tapi akan dicek, dipelajari kepastiannya oleh hukum," kata Edy, Senin (21/2) di lansir dari cnn indonesia.
Edy mengatakan berdasarkan informasi yang diperolehnya, minyak goreng yang ada di gudang tersebut ternyata peruntukannya untuk rumah makan, mal dan lainnya.
"Karena dia peruntukannya adalah untuk rumah makan, untuk mal untuk lain semuanya. Saya tidak mau hanya mendengar informasi dari petugas saya. Untuk itu sedang didalami oleh kepolisian," ungkap Edy.
Selain itu menurut Edy, minyak goreng tersebut sebenarnya bukan ditimbun. Sebab minyak goreng di sana setiap dua hari sekali didistribusikan.
"Tapi yang saya dengar bahwa itu keluar masuk waktu dua hari, keluar masuk migor dari tempat tersebut," paparnya
Oleh karena itu, eks Pangkostrad tersebut meminta agar publik tidak membuat gaduh. Sebab kelangkaan minyak goreng subsidi bukan hanya terjadi di Sumut, tetapi juga di daerah lain di Indonesia.
"Nanti kalau sudah pasti, polisi akan menyampaikan. Tapi tolong jangan membuat gaduh!. Iya kalau iya. Kalau tidak, nanti menjadi repot semuanya. Saat ini memang dengan kelangkaan migor, ini bukan hanya terjadi di Sumut. Ini terjadi di Indonesia," paparnya.
Diketahui, Satgas Pangan Sumatera Utara mendapati 1,1 juta kg minyak goreng ditimbun di salah satu gudang milik PT. Salim Ivomas Pratama Tbk di Jalan Sudirman, Petapahan, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang pada Jumat (18/2).
Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sumut, Naslindo Sirait mengatakan minyak goreng itu ditumpuk dan tak diedarkan ke pasar lantaran manajemen perusahaan mengklaim rugi dengan kebijakan satu harga yang ditetapkan pemerintah.
Padahal 1,1 juta kilogram minyak goreng yang ditimbun itu jika dihitung-hitung harusnya bisa memenuhi 6-10 persen kebutuhan masyarakat Sumut per bulannya.
"Waktu kita tanya, mereka sampaikan keluhannya, mereka takut rugi dengan harga HET (harga eceran tertinggi Rp14.000per liter) yang sekarang. Lalu kita sampaikan itukan sudah ada mekanismenya. Mereka bisa klaim untuk harga keekonomiannya," ujarnya.
Naslindo menegaskan tidak ada alasan bagi manajemen perusahaan mengklaim rugi. Karena semuanya sudah diatur pemerintah berdasarkan Permendag No6/2022tentang Penetapan Harga Eceran Minyak Goreng. Bahkan, menurutnya, minyak goreng itu menumpuk di gudang sejak awal Januari 2022.
"Ditimbun sejak mulai kenaikan, kira kira 19 Januari. Datanya mungkin sudah di tangan teman teman Polda. Jadi tidak ada alasan untuk menahan. Karena mereka berfikir secara manajemen mungkin mereka rugi. Tapi pemerintah punya mekanisme. Karena itu baik produsen, distributor, maupun pedagang harus memastikan barang itu harus tersedia di pasar," ucapnya
Saat itu, pimpinan manajemen perusahaan penimbun migor tersebut sedang tidak berada di lokasi. Ternyata minyak goreng itu ditimbun berdasarkan perintah dari Jakarta.
"Saya tanya, saya tegaskan lagi itu siapa yang buat kebijakan? Manajemen, manajemennya dari mana? Dari Jakarta. Kalau itu kebijakan berarti kan ada fax surat. Coba tunjukkan ke kita, jadi itu akan didalami. Waktu itu juga saya telepon pimpinannya siapa? Gak ada di tempat. Bisa dihubungkan melalui telepon ? Saya mau bicara," urainya.
Dari pembicaraan melalui seluler itulah, tambah Naslindo, pimpinan perusahaan migor itu juga mengeluhkan bahan baku mereka lebih mahal.
"Dari telepon saya bicara, ini saya temukan banyak tumpukan migor di tempat bapak. Mereka jawab iya pak kami mengalami kesulitan, kita rugi dengan harga sekarang. Kami beli bahan bakunya dengan harga mahal. Jadi kami enggak bisa. Saya bilang enggak boleh begitu. Inikan sudah ada mekanisme. Saya bilang hari ini paling tidak bapak salurkan ini ke titik distribusi yang kalian punya," pungkasnya.
Saat itu, Edy Rahmayadi dibuat geram dengan penimbunan itu. Di tengah kesulitan masyarakat saat ini, kata Edy, masih ada saja pasti oknum-oknum yang cari kesempatan.
"Kuat dugaan saya, di balik kelangkaan minyak goreng belakangan ini pasti ada pemain di belakangnya. Karenanya saya minta Satgas Pangan melacak siapa ini pemainnya. Dan benar dugaan saya, kita akhirnya berhasil menemukan sekitar 1,1 juta kilogram produk minyak goreng kemasan yang ditimbun dalam gudang suatu produsen di Kabupaten Deliserdang," ungkap Edy lewat laman Instagramnya @edy_rahmayadi.**vol/jn
Berita Terkait :
- SE Menag: Sepiker Luar Masjid Saat Takbiran Sampai Jam 10 Malam0
- Ketua KPK Respon Saran Dirinya Maju di Pilpres 20240
- Belajar dari pandemi yang terlupakan, Flu Spanyol 19180
- Penelitian Ungkap Kekejaman Belanda terhadap Indonesia pada 1945-19500
- Belanda Sudah Minta Maaf, Komnas HAM Minta Indonesia Tuntasi Kasus 650
_Black11.png)









