- Paksa 10 Pekerja Teken Surat Pengunduran Diri, HRD dan Manager SPPBE PT Awal Bros Dilaporkan
- Penuh Kehangatan Kapolres Meranti Dalam Kenal Pamit Pejabat Usai Pelantikan
- BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome
- Revolusi Keuangan Puskesmas di Inhil, Satu Rekening untuk Banyak Transaksi
- JMSI Riau Targetkan Seluruh Wartawan Anggota Bersertifikat UKW pada 2027
- Minta Masukan atas RUU Daerah Kepulauan, Hendry Munief: Menyesuaikan Kebutuhan Daerah
- Antisipasi Dampak AI pada Industri Pers, Syahrul Aidi Minta DPR Siapkan RUU Regulasi Digital
- VokalOnline ikuti Webinar Merajut Nusantara
- BKSAP DPR RI Dorong Riau Perkuat Kerja Sama dengan Jepang
- Anugerah Voice of The Ummah, JMSI Riau Apresiasi Kiprah Dakwah UAS
Kawanan Gajah Rusak 15 Pondok Warga di Palas Pekanbaru

Pondok di Desa Koto Garo, Kabupaten Kampar, yang roboh oleh kawanan gajah liar. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Kelompok sebelas dari kawasan hutan taman raya (Tahura) Minas, Kabupaten Siak, kembali mengamuk. Setelah dari Koto Garo, Kabupaten Kampar, dengan merusak tiga pondok warga, kawanan gajah Petapahan ini mendekati pemukiman warga di Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru.
Masuk ke perkebunan di sekitar kelurahan itu, gajah menyasar sejumlah pondok yang menghalangi jalannya. Setidaknya ada 15 pondok petani porak-poranda karena diamuk gajah sumatra ini.
Plh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Hartono menyebut tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Kerugian bersifat materil karena hunian petani luluh lantak.
"Kejadiannya pada Senin lalu, saat ini petugas tengah mengiring gajah menjauhi perkebunan dan pemukiman," kata Hartono, Kamis siang, 10 Februari 2022.
Saat ini, tambah Hartono, gajah sudah menjauh dari pemukiman. Petugas mengusir secara manual dan membuat suara gaduh agar gajah tidak mendekat lagi.
"Petugas menggunakan petasan," kata Hartono.
Sebagai antisipasi gajah berbalik arah, BBKSDA Riau juga menurunkan sejumlah gajah jinak ke lokasi.
Selain pondok, gajah juga memakan tanaman di perkebunan. Tanaman yang ada di hadapannya dicabut lalu dimakan bagian lunaknya.
Menurut Hartono, konflik gajah dengan manusia di perlintasan satwa liar itu sudah sekian kalinya.
Sebagai informasi, kelompok sebelas atau kawanan gajah Petapahan merupakan satwa liar yang punya perlintasan dari Tahura Minas, Palas, dan menuju Kabupaten Kampar.
Dari Kampar, rute gajah kembali lagi ke Tahura Minas yang memang habitatnya di sana. Setiap tahun, jalur perlintasan ini tidak pernah diubah gajah.
Yang berubah adalah kawasan di perlintasan. Perlintasan yang dulunya hutan berubah menjadi kebun yang tidak diketahui apakah legal atau ilegal.
Keadaan ini membuat konflik gajah di Riau tidak pernah selesai. Terkadang ada manusia yang menjadi korban karena amukan gajah dan ada juga gajah menjadi korban karena dijerat ataupun diracun. (syu)
Berita Terkait :
- Inkanas Jalin Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru0
- Polda Riau Musnahkan 82,94 Kilogram Sabu0
- Gubri Syamsuar dan Dua Tokoh Lain Diangkat Jadi Anggota Dewan Kehormatan JMSI Riau0
- Menpora Apresiasi Komitmen Gubri, Jadikan Riau Centra DBON Cabor Dayung0
- Gubernur Syamsuar Tandatangani Komitmen Percepatan Rehabilitasi Mangrove0
_Black11.png)









