- Anggota DPRD Pekanbaru Geram, Dugaan Pesta LGBT di Cafe Laksamana Muda
- Sumpah Pemuda ke-98, Polres Inhu Ajak Generasi Muda Pantang Menyerah dan Peduli Sesama
- Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Kuala Cenaku Kunjungi Petani Cabai di Inhu
- Coming Soon Pekan Raya Biologi 2027 \"SAINTIS MUDA, CERDAS BERKARYA\"
- Sembilan Bulan Mengendap, MKD DPR RI Diminta Tegas Sikapi Laporan
- Raih 54 Mendali Dari MIS OPEN 2026 Medan
- Publik Berhak Tahu! Siti Aisyah Soroti Pembukaan Kembali Enam PKS di Kuansing
- Dojo Tirex Pekanbaru Raih Juara Umum 1 Kejuaraan Karate GDR Open Championship se-Riau
- Dari Rohil untuk Dunia Kerja, Politeknik Mulia Rokan Kantongi Izin Pendirian
- Anggota DPR RI Dapil Riau-1 Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau
Myanmar Minta Perlindungan ke Milisi

Ilustrasi. Kerusuhan yang terjadi di Negara Myanmar (foto: Lampung post)
Vokalonline.com- Dilansir dari CNN Indonesia -- Kelompok oposisi Myanmar meminta bantuan kepada sejumlah milisi untuk melindungi warga sipil yang menolak kudeta dari kejaran aparat keamanan. Permohonan itu disampaikan oleh Komite Mogok Nasional Myanmar (GSCN) melalui unggahan di media sosial Facebook.
"Kami memohon untuk secara kolektif melindungi para penduduk, muda-mudi, perempuan, anak-anak dan lansia," demikian isi pernyataan itu.Sejumlah kelompok milisi di Myanmar ada yang masih aktif dan bertahun-tahun bertempur melawan pasukan pemerintah.
Mereka adalah Tentara Arakan di negara bagian Kachin dan Kayin, Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) di Rakhine, Tentara Kemerdekaan Kachin di negara bagian Kachin, Tentara Nasional Kuki di negara bagian Chin, Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar di negara bagian Shan, Tentara Nasional Shanni di negara bagian Kachin, Tentara Pembebasan Ta'ang di negara bagian Shan, dan Tentara Revolusioner Zomi di negara bagian Chin dan perbatasan India-Myanmar.
Aparat keamanan Myanmar semakin gelap mata menghadapi gelombang aksi unjuk rasa.Menurut laporan aparat keamanan Myanmar tega menembaki massa yang melayat persemayaman jenazah seorang pedemo yang tewas di Bago, dekat Yangon, pada Minggu (28/3) kemarin.
Dilansir Reuters, Senin (29/3), menurut keterangan tiga saksi peristiwa itu terjadi saat sejumlah orang menghadiri persemayaman jenazah seorang mahasiswa, Thae Maung Maung (20), yang menjadi korban meninggal dalam unjuk rasa.
Sepanjang akhir pekan lalu tercatat ada 114 penduduk yang meninggal akibat aksi represif aparat keamanan Myanmar menghadapi unjuk rasa di 44 kota kecil dan besar. Di antara yang meninggal termasuk anak-anak hingga remaja. Sampai saat ini jumlah korban jiwa dalam unjuk rasa itu merupakan yang terbesar dalam satu hari.
Bentuk-bentuk kekejaman militer Myanmar terhadap para pedemo juga diungkap oleh sejumlah saksi. Seorang saksi menyatakan aparat Myanmar tega menembak mati dan membakar jasad seorang pedemo berusia sekitar 40 tahun di Kota Mandalay.Penasihat Khusus PBB untuk Pencegahan Genosida, Alice Wairimu Nderitu, dan Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, menyebut militer Myanmar sebagai pengecut karena membunuh penduduk sipil yang menggelar unjuk rasa damai. Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mendesak para jenderal militer Myanmar segera menghentikan kekerasan terhadap penduduk.
"Kami akan terus melanjutkan kebijakan Uni Eropa, termasuk sanksi, yang ditujukan kepada pelaku kekerasan dan dan pihak yang bertanggung jawab atas kemunduran demokrasi dan perdamaian di Myanmar," kata Borrell.Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, turut mengecam kekerasan militer Myanmar terhadap penduduk sipil.
"Kami tidak memberikan toleransi terhadap sikap militer yang brutal kepada penduduk Myanmar," kata Maas melalui Twitter.
(ayp/ayp)
Berita Terkait :
- Wisata di Kota Pesisir dengan Jalur Laut Tersibuk di Dunia 0
- Terusan Suez Macet Karena Kapal Kargo0
- 114 Pedemo Myanmar Dibunuh0
- Dua Kapal Malaysia Kepergok Menangkap Ikan di Perairan Rokan Hilir0
- Kepolisian Skotlandia Temukan Paket Mencurigakan di Rumah Ratu Elizabeth0
_Black11.png)








