Pengurus Ditangkap, LSM George Soros Protes Junta Myanmar

Publisher Vol/Ivn Internasional
18 Mar 2021, 09:39:35 WIB
Pengurus Ditangkap, LSM George Soros Protes Junta Myanmar

kudeta-myanmar/kompas


Vokalonline.com - Dilansir dari CNN Indonesia -- Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang didirikan dermawan George Soros, Open Society Foundation, mendesak junta Myanmar membebaskan perwakilan mereka di negara itu yang ditahan.Media masa pemerintah Myanmar melaporkan menahan seorang pengurus Open Society Myanmar dan masih mencari 11 karyawan lainnya lantaran dicurigai membiayai gerakan pembangkangan sipil."Open Society Foundation (OSF) sangat prihatin dengan laporan bahwa seorang anggota staf Open Society Myanmar telah ditahan di Myanmar," demikian isi pernyataan OSF yang dikirim melalui surel kepada Reuters, Rabu (17/3)."Kami mendesak untuk segera dibebaskan. Kami khawatir dengan laporan bahwa pihak berwenang berusaha menginterogasi anggota staf lainnya," lanjut isi pernyataan itu.

Menurut laporan surat kabar Global New Light of Myanmar (GNLM) dikelola militer, Open Society Myanmar (OSM) mengirim dana tanpa meminta izin dari Departemen Manajemen Valuta Asing. Diduga dana itu didapat dari hibah OSF milik George Soros.Kelompok itu kemudian menukar US$1,4 juta atau sekitar Rp 20 miliar ke mata uang Kyat Myanmar tanpa mengikuti aturan dan regulasi."Klaim pelanggaran keuangan, termasuk bahwa OSM bertindak ilegal dengan menarik dana mereka sendiri dalam mata uang lokal dari Small & Medium Industrial Development Bank (bank SMID), adalah palsu," tulis Open Society Foundations."Klaim bahwa OSM menggunakan dana ini untuk tujuan ilegal adalah palsu. Dana ini digunakan sepenuhnya sesuai tujuan OSM," lanjut OSF.Sejak Jumat pekan lalu, GNLM mengatakan petugas keuangan OSM, Phyu Pa Pa Thaw, sudah diinterogasi mengenai alur kas yang masuk ke dalam gerakan pembangkangan sipil.Kelompok oposisi melakukan gerakan pembangkangan sipil untuk menekan junta agar mengembalikan kekuasaan kepada pemimpin terpilih, membebaskan para tahanan dan mengakui kemenangan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dalam pemilu 2020.

Sejauh ini, Bantuan Perhimpunan untuk Para Tahanan Politik mencatat jumlah korban tewas selama gelombang unjuk rasa mencapai lebih dari 200 orang.Ribuan warga Myanmar yang tak tahan dengan brutalitas militer memilih kabur dari negara tersebut. Namun, junta mengambil langkah yang lebih keras, dengan mengancam akan menjatuhkan hukuman mati kepada para demonstran, terutama di kota-kota yang memberlakukan status darurat militer.

(isa/ayp)

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment