- Tambang Batu Bara PT Era Perkasa Mining di Inhu Disorot, Lokasi Aktivitas Diduga Berbeda dengan IUP
- Kebakaran Rumah di Selatpanjang, Begini Penjelasan Polisi
- Hendry Munief Soroti Privatisasi Pesisir dan Abrasi dalam Pembahasan RUU Daerah Kepulauan
- Syahrul Aidi dan Hendry Munief Kompak Motivasi Mahasiswa UNRI Mandiri Sejak Kuliah
- Trisakti School of Multimedia Gandeng CIP Pekanbaru,Bahas Digital Marketing hingga Personal Branding
- Pesangon 10 Pekerja Tak Dibayar Usai PHK Sepihak, PT Awal Bros Bumi Pusaka Diduga Kebal Hukum
- Paksa 10 Pekerja Teken Surat Pengunduran Diri, HRD dan Manager SPPBE PT Awal Bros Dilaporkan
- Penuh Kehangatan Kapolres Meranti Dalam Kenal Pamit Pejabat Usai Pelantikan
- BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome
- Revolusi Keuangan Puskesmas di Inhil, Satu Rekening untuk Banyak Transaksi
BIN Australia Memutuskan Setop Gunakan Ekstremisme Islam

bendera-australia/gunnaressiason
Vokalonline.com - Dilansir dari CNN Indonesia -- Badan intelijen domestik memutuskan berhenti menggunakan istilah "ekstremisme " dan "ekstremisme sayap kanan" dalam menggambarkan kekerasan yang dimotivasi agama atau gerakan politikBos Australia Security and Intelligence Organisation (ASIO), Mike Burgess, menganggap "kata-kata" itu penting dan berpengaruh dalam membentuk pandangan setiap orang dalam melihat masalah. Karena itu, menurutnya, penggunaan istilah "ekstremisme Islam" selama ini merusak dan menyesatkan umat Islam."Beberapa kelompok Muslim-dan lain-lain-melihat istilah ini merusak dan menyesatkan Islam, dan menganggap sebutan itu menstigmatisasi mereka dan mendorong stereotip serta memicu perpecahan," kata Burgess saat menyampaikan pidato tahunan tentang ancaman negara pada Rabu (17/3).
Berita Terkait :
_Black11.png)









