Persepsi
Oleh K.Suheimi

Publisher Syafira Lacitra Amanda Tausyiah
29 Jun 2022, 11:21:50 WIB
Persepsi

Prof. dr. HK Suhaimi Sp.OG


 VokalOnline.Com - Pekerjaan yang didasarkan persepsi atau prasangka akan berujung dengan penyesalan, Pekerjaan yg berdasarkan emosi akan berujung dengan kekecewaan.

Kekecewaan dan penyesesalan. Adalah dua hal yang akan menghantarkan pada penyakit - penyakit yang banyak di idap manusia zaman sekarang.

Rasul berbuat dan bertindak berdasarkan spiritual,sehingga buahnya dan kisahnya abadi sepanjang masa, simaklah kisah di bawah ini.  

Nabi Muhammad tinggal dekat pasar, setiap dia kali beliau meninggalkan rumah atau kembali kerumah beliau selalu singgah di pasar. Setiap singgah di pasar beliau ketemu orang yahudi pengemis buta.

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya" .

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat, Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".

Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". "Apakah Itu?",  tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?". Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."

"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku" , bantah si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah, Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada, Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim

Dari kisah ini kentara sekali bahwa Nabi Muhammad bekerja dan mengambil keputusan dengan menyingkirkan emosi dan persepsi. Kalaulah beliau bekerja melibatkan emosi jelas pengemis buta yang menghinanya itu tak akan disapanya apalagi disuapinya.

Nabi pun berbuat sesuatu dengan menjauhkan persepsi atau sangka-sangka, Orang yang berlainan agama pengemis dan buta lagi lalu memaki dan menghina, Tentu nabi tak akan membawakan makanan, khawatir kalau2 makanan itu di tolak dan di campakkan. Memang kita sadari bila pekerjaan berdasarkan emosi ujungnya adalah kekecewaan.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai Rasulullahmu.

Salam teriring do"a

K. Suheimi

____________________

Prof. dr. HK Suhaimi Sp.OG adalah Guru Besar Kedokteran Unand Padang. Saat ini Komisaris Utama Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) Pekanbaru, Riau. **Fira

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment