- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
Polisi Kesulitan Temukan Alat Bukti
>Misteri Kematian PNS Pemprov Tergantung di Basement DPRD Riau >Polisi Sudah Periksa 23 Saksi Dari Berbagai Kalangan

Gedung DPRD Riau di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. IST
PEKANBARU, VokalOnline.Com -Misteri kematian Fitria Yulisunarti di basement DPRD Riau masih menjadi misteri. Polresta Pekanbaru belum menyimpulkan apakah pegawai negeri sipil itu bunuh diri di mobil atau ada campur tangan orang lain, pembunuhan.
Sejak kejadian penemuan mayat di basement DPRD Riau pada Sabtu siang pekan lalu itu, petugas sudah memeriksa 23 saksi secara maraton. Sejumlah rekaman CCTV juga masih dipelajari penyelidik.
Dari rangkaian itu semua, petugas belum menaikan status perkara ini dari penyelidikan ke penyidikan. Artinya, petugas belum menemukan bukti cukup telah terjadi tindak pidana.
"Saat ini masih cukup baik penyelidikannya, perlu waktu untuk pendalaman," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru Komisaris Andrie Setiawan, Rabu siang, 14 September 2022.
Andrie menjelaskan, tim penyelidik masih menganalisa petunjuk alat bukti, baik itu alat komunikasi korban dan rekaman CCTV. Pihaknya juga sudah melakukan gelar perkara.
"Gelar perkara sifatnya untuk memberikan masukan dalam penyelidikan dan menentukan rencana tindak lanjut," ucap Andrie.
Sebelumnya, penyidik Polresta Pekanbaru sudah mengantongi hasil otopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau. Otopsi itu menyatakan pada leher korban ada kekerasan tumpul.
Kekerasan tumpul ini menekan jalan napas korban sehingga timbul asfiksia atau mati lemas. Kekerasan tumpul ini ditimbulkan adanya lilitan kain pada leher korban yang tergantung pada pegangan kursi penumpang bagian tengah.
Hanya saja, tidak diketahui apakah lilitan itu merupakan perbuatan orang lain atau disebabkan oleh korban karena ingin mengakhiri hidupnya di parkiran gedung di Jalan Jenderal Sudirman itu.
Sebagai informasi, jasad korban ditemukan oleh petugas sekuriti di basement DPRD Riau pada Sabtu siang, 10 September 2022. Pagi harinya, sekuriti sudah melihat mobil itu tapi tak memeriksa karena korban sudah biasa datang ke DPRD Riau.
Sehari sebelum kejadian, korban datang ke DPRD menemui seorang pria inisial F. Keduanya disebut punya hubungan, tak hanya urusan pekerjaan sebagai aparatur sipil negara.
Keduanya, ditemani seorang pria lainnya, disebut sempat keluar memakai mobil dari DPRD Riau. Tak lama setelah itu, korban kembali ke basement DPRD Riau, tapi saksi F tidak terlihat.
Pada malam harinya, ada informasi menyebut F kembali ke DPRD Riau. Tidak diketahui apakah pegawai di Bagian Protokoler DPRD itu menemui korban di basement.
Tak lama setelah itu, saksi F meninggalkan gedung DPRD Riau. Sementara korban tidak pernah terlihat keluar lagi hingga akhirnya ditemukan tewas di dalam mobilnya. (syu)
Berita Terkait :
- Sudah Ada Titik Terang Polisi Segera Ungkap Kematian ASN di DPRD Riau0
- Kapolda Riau Suport Penuh Kejurda Inkanas 2022 Merupakan Kejurda Besar di Riau0
- Wagub Riau: Salat Berjamaah Upaya Memakmurkan Masjid0
- TNI Angkatan Darat Harus Hadir di Tengah-tengah Masyarakat0
- Gubri Apresiasi Kongres IPMR, Gubri: Dari Riau Untuk Indonesia 0
_Black11.png)









