- Sisir Kampung Bersinar, Satresnarkoba Meranti Temukan Pondok Mencurigakan
- Rektor UIR Dukung Penuh Pelaksanaan Seminar dan UKW JMSI Riau
- Syahrul Aidi Dorong Optimalisasi Peran TNI dalam Penanganan Karhutla
- Terima Aspirasi Warga Tanjung Sawit, Syahrul Aidi Soroti Kerusakan Jalan
- Hendry Munief Dorong Pelaku IKM Pekanbaru Terus Kembangkan Usaha
- Dukung Program MBG, SPPG Pematang Reba 02 Ikuti Peresmian Serentak 980 SPPG
- 320 Posyandu Diperkuat, RAPP Bekali Ribuan Kader dengan Edukasi Kesehatan dan Gizi di Riau
- Merawat Silaturahmi, Menguatkan Kontribusi: IKA Unri RAPP Punya Nahkoda Baru
- Alam Cahayo Tuah Nagoghi dan Sari Jadi Gementar Alam Melaju ke Final Pacu Jalur 2026
- Dari Konflik Menuju Kolaborasi, RAPP dan Petani Beruk Sepakati Pengelolaan Lahan yang Kondusif
Smelter Nikel dengan Produksi Terbesar Dunia Dibangun di Pomalaa

VokalOnline.Com-- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan meresmikan pembangunan smelter nikel di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Minggu (27/11).
Kawasan industri nikel Blok Pomalaa ini merupakan kerja sama PT Vale Indonesia Tbk dengan perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt Company. Setelah beroperasi, pabriknya diperkirakan bisa menghasilkan 120 ribu ton nikel per tahun.
Dalam sambutannya, Luhut mengatakan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) ini akan memiliki produksi terbesar di dunia.
"HPAL yang terbesar di dunia itu ada di Indonesia dan orang nggak bisa bikin baterai kalau nggak ada HPAL ini. Jadi HPAL ini menjadikan satu ekosistem yang sangat penting buat kita," kata Luhut di Blok Polamaa, dikutip dari detikcom.
Luhut juga mengapresiasi dan mendukung penuh kerja sama yang dilakukan antara Vale dan Huayou. Ia pun bercerita kenal dengan bos Huayou Chen Xuehua.
"Saya bersama-sama dengannya (Chen) pergi ke Jerman, negosiasi dengan BMW, dengan VW dan dia dikejar-kejar karena punya teknologi yang bagus. Jadi begitu saya dengar dia kawin dengan Vale Indonesia, saya bilang ini adalah pilihan yang tepat," jelas Luhut.
Tidak hanya itu, Luhut juga menyebut kinerja perusahaan juga terlihat dari hasil pabrik pengolahan nikel HPAL milik Vale di Morowali Sulawesi Tengah. Saat ini, produksi maupun teknologinya dilihat telah berkembang cepat.
Maka dari itu, Luhut percaya proyek ini akan mendorong produksi HPAL hingga perkembangan electric vehicle (EV) di Indonesia.
"Proyek ini harus jalan, karena proyek ini membangu satu ekosistem, bukan membangun satu proyek. Kita ingin membangun satu ekosistem untuk satu litium baterai yang nanti bisa lari ke mobil listrik, bisa lari ke mana-mana," ujar Luhut.**Syafira
Berita Terkait :
- Ukraina Ingin Harga Minyak Rusia Dibatasi US$40 per Barel0
- Harga Emas Antam Loyo ke Rp979 Ribu per Gram di Awal Pekan0
- UMP Jatim Naik 7,8 Persen Jadi Rp2,04 Juta0
- Harga Daging hingga Telur Ayam Naik Pekan Ini0
- 29 Bank Gabung Jadi Peserta BI-Fast, Biaya Transfer Cuma Rp2.5000
_Black11.png)








