- Matahari 08 Riau Hadir di Tengah Dampak Karhutla, Ribuan Masker Gratis Dibagikan ke Masyarakat
- FORKI Riau Gelar Karate Kid Serie 3 Riau Open 2026, Dipantau Langsung Puspresnas
- Gemilang di Kejurprov Forki Riau 2026, Dojo Rumah PAN Sabet 2 Emas, 3 Perak, 1 Perunggu dan 1 BOB
- Dugaan Mark-Up Anggaran Desa Talang Durian Cacar Mencuat, BPD Diminta Periksa Kegiatan 2024-2025
- Gokasi Dumai Minta FORKI Mengundang Pengcab Perguruan Karate untuk Bahas Calon Ketua KONI
- Diduga PETI Beroperasi di Sungai Bawang F5, Polda Riau Diminta Bertindak
- Inkanas Riau Pimpin Klasemen Sementara Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Masuki Hari Kedua, 1.050 Karateka Berebut Gelar Juara
- INKAI Riau Juara Umum Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
Smelter Nikel dengan Produksi Terbesar Dunia Dibangun di Pomalaa

VokalOnline.Com-- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan meresmikan pembangunan smelter nikel di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Minggu (27/11).
Kawasan industri nikel Blok Pomalaa ini merupakan kerja sama PT Vale Indonesia Tbk dengan perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt Company. Setelah beroperasi, pabriknya diperkirakan bisa menghasilkan 120 ribu ton nikel per tahun.
Dalam sambutannya, Luhut mengatakan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) ini akan memiliki produksi terbesar di dunia.
"HPAL yang terbesar di dunia itu ada di Indonesia dan orang nggak bisa bikin baterai kalau nggak ada HPAL ini. Jadi HPAL ini menjadikan satu ekosistem yang sangat penting buat kita," kata Luhut di Blok Polamaa, dikutip dari detikcom.
Luhut juga mengapresiasi dan mendukung penuh kerja sama yang dilakukan antara Vale dan Huayou. Ia pun bercerita kenal dengan bos Huayou Chen Xuehua.
"Saya bersama-sama dengannya (Chen) pergi ke Jerman, negosiasi dengan BMW, dengan VW dan dia dikejar-kejar karena punya teknologi yang bagus. Jadi begitu saya dengar dia kawin dengan Vale Indonesia, saya bilang ini adalah pilihan yang tepat," jelas Luhut.
Tidak hanya itu, Luhut juga menyebut kinerja perusahaan juga terlihat dari hasil pabrik pengolahan nikel HPAL milik Vale di Morowali Sulawesi Tengah. Saat ini, produksi maupun teknologinya dilihat telah berkembang cepat.
Maka dari itu, Luhut percaya proyek ini akan mendorong produksi HPAL hingga perkembangan electric vehicle (EV) di Indonesia.
"Proyek ini harus jalan, karena proyek ini membangu satu ekosistem, bukan membangun satu proyek. Kita ingin membangun satu ekosistem untuk satu litium baterai yang nanti bisa lari ke mobil listrik, bisa lari ke mana-mana," ujar Luhut.**Syafira
Berita Terkait :
- Ukraina Ingin Harga Minyak Rusia Dibatasi US$40 per Barel0
- Harga Emas Antam Loyo ke Rp979 Ribu per Gram di Awal Pekan0
- UMP Jatim Naik 7,8 Persen Jadi Rp2,04 Juta0
- Harga Daging hingga Telur Ayam Naik Pekan Ini0
- 29 Bank Gabung Jadi Peserta BI-Fast, Biaya Transfer Cuma Rp2.5000
_Black11.png)









