- Sumpah Pemuda ke-98, Polres Inhu Ajak Generasi Muda Pantang Menyerah dan Peduli Sesama
- Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Kuala Cenaku Kunjungi Petani Cabai di Inhu
- Coming Soon Pekan Raya Biologi 2027 \"SAINTIS MUDA, CERDAS BERKARYA\"
- Sembilan Bulan Mengendap, MKD DPR RI Diminta Tegas Sikapi Laporan
- Raih 54 Mendali Dari MIS OPEN 2026 Medan
- Publik Berhak Tahu! Siti Aisyah Soroti Pembukaan Kembali Enam PKS di Kuansing
- Dojo Tirex Pekanbaru Raih Juara Umum 1 Kejuaraan Karate GDR Open Championship se-Riau
- Dari Rohil untuk Dunia Kerja, Politeknik Mulia Rokan Kantongi Izin Pendirian
- Anggota DPR RI Dapil Riau-1 Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau
- Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026
Alasan Kominfo Ingin Pangkas Ribuan Aplikasi: Jadi Celah Peretasan

Dirjen Aptika Kominfo Semuel Abrijani mengungkap alasan usaha menyatukan ribuan app pemerintahan.
Jakarta, VokalOnline.Com - Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan alasan upaya memangkas ribuan aplikasi pemerintah yang saling tumpang tindih menjadi sebuah super app adalah terkait peretasan.
"Kita akan melakukan asesmen mana aplikasi yang dibutuhkan. Kalau tidak dibutuhkan bisa jadi penyakit, bisa jadi robot lah, bisa jadi tempat orang masuk untuk nge-hack lah," ujar Direktur Jendral Aplikasi dan Informatika (Dirjen Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, di seminar gerakan menuju kota cerdas (Smart City), Jakarta, Kamis (1/12).
Berdasarkan data yang ia paparkan, setidaknya di Indonesia memiliki 27.400 aplikasi pemerintah. Nantinya, kata dia, itu akan disuntik mati apabila tidak diperlukan.
Namun, jika ada kementerian atau lembaga membutuhkan untuk membuat aplikasi agar meningkatkan kinerja, maka hal itu diperbolehkan.
Di samping itu Semuel menyinggung server milik pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintahan kerap mengacuhkan server yang sudah tidak terpakai.
"Nah ini kelemahanya di pemerintahan, kalau sudah tidak dipakai itu didiemin. Termasuk server. Server itu dicabut kalau enggak dipakai itu dicabut listriknya, Karena bisa jadi robot," tuturnya.
Di forum yang sama, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Setiaji menyadari ihwal banyaknya aplikasi di kementerian yang digawangi Budi Gunadi Sadikin itu.
Ia menghitung ada 400 aplikasi yang beredar di Kemenkes. Pihaknya berencana untuk memangkasnya menjadi delapan aplikasi.
"Mengaca dari itu dalam blue print kita akan mengurangi puluhan aplikasi menjadi delapan," ujar Setiaji di seminar gerakan menuju kota cerdas (Smart City), Kamis (1/12).
Setiaji menyadari jika lembaga di bawah Kemenkes kerap membuat aplikasi dengan alasan untuk mengumpulkan laporan medis.
Ke depan, Kemenkes akan merampingkan laporan itu dalam bentuk data yang dilaporkan lewat tiap rumah sakit maupun puskesmas yang sudah lengkap dengan rekam medis, jenis alergi obat pasien hingga golongan darah dalam satu platform.
"Jadi begitu ada orang ke RS Dan didisgnosis diabetes ataupun malaria akan dicatat oleh dokter atau oleh petugas nakes, itulah yang kita ambil langsung dari RS," tandasnya. **Syafira
Berita Terkait :
- Ironi Tunisia: Hajar Prancis, 2 Clean Sheet, Tersingkir di Piala Dunia0
- Ronaldo Digaji Rp1,5 Miliar per Jam di Al Nassr0
- Pelatih Argentina Marah-marah Soal Jadwal 16 Besar Piala Dunia 20220
- Daftar Tim Negara Lolos 16 Besar Piala Dunia 20220
- Rokok, BBM, Harga Tiket Pesawat Bikin Inflasi November 2022 0
_Black11.png)








