- Konflik Agraria Inhu, DPR RI Minta Penangguhan Penahanan Mantan Kades Sungai Raya
- Bripda Renhard Bawa Nama Polres Meranti di Riau Challenge 2026, Raih Medali Perak
- LAMR Kepulauan Meranti Siapkan Empat Agenda Besar, Digelar 19–20 September 2026
- Pemkab Meranti dan UIN Suska Riau Buka Peluang Kolaborasi Pengembangan Potensi Daerah
- Diduga Terlibat Kekerasan Seksual terhadap Anak, Pria 64 Tahun di Inhu Masuk DPO Polisi
- Lantik 83 Pejabat, Bupati Siak Afni: Jangan Cari Muka, Promosi Berdasarkan Kinerja
- Puluhan Tahun Berpisah, Alumni SMAN 2 Pekanbaru Kembali Bertemu dalam Reuni
- Kodam XIX/Tuanku Tambusai Intensifkan Pendinginan Karhutla 13 Hektare di Bengkalis
- Perawatan Jalan Berkelanjutan, PT PAS Mitra Agrinas Pastikan Pengangkutan TBS Tetap Lancar
- Firmansyah Resmi Diumumkan Dalam Paripurna Jabat Ketua Fraksi PKS DPRD Pekanbaru
Anies Ungkap Biang Kerok Negara Bisa Kena Jebakan Kelas Menengah

Bakal calon presiden Anies Baswedan mengungkap biang kerok sebuah negara dapat terperangkap dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.
Jakarta, VokalOnline.Com - Bakal calon presiden Anies Baswedan mengungkap biang kerok sebuah negara dapat terperangkap dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.
Menurutnya, middle income trap bisa menjerat sebuah negara karena institusi politik menghasilkan kebijakan yang tak mencerminkan kepentingan publik, melainkan partai politik dan kelompok politik di dalam pemerintahan.
"Hal tersebut menjadi alasan mengapa beberapa negara terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah. Saya pikir kita perlu mengatasi hal itu," kata Anies dalam acara 11th US-Indonesia Investment Summit di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Selasa (24/10).
Awalnya, Anies menyoroti pendanaan partai politik hingga pendanaan pemilu. Ia menyebut banyak negara demokrasi di seluruh dunia telah berurusan dengan masalah itu.
Mereka memiliki pendekatan yang berbeda untuk memecahkan masalah tersebut.
Sementara, menurut dia, Indonesia tak menyentuh masalah tersebut karena belum melakukan reformasi. Anies berpendapat bahwa hal itu adalah satu satu reformasi kebijakan utama yang perlu dikedepankan dan dijalankan.
"Tanpa menangani masalah ini, kita akan selalu memiliki inkonsistensi kebijakan, kita akan selalu dihadapkan pada kepentingan politik yang saling terkait dengan pembuatan kebijakan," lanjut dia.
Selain itu, Anies juga menyinggung soal meritokrasi. Ia mengingatkan bahwa meritokrasi penting untuk menciptakan semangat keterbukaan, kompetisi terbuka, dan optimisme.
"Tidak hanya di bidang birokrasi, tetapi meritokrasi di setiap aspek. Kami ingin agar semangat meritokrasi ini kembali muncul di Indonesia. Kita pernah mengalaminya beberapa tahun yang lalu, dan kami ingin hal itu terjadi kembali," ucap Anies lebih lanjut.(fit)**
Berita Terkait :
- Prabowo: Semua Partai Termasuk PDIP Ada Dinasti Politik0
- Batas Usia Capres-Cawapres Kembali Digugat ke MK0
- Kaesang PSI ke Prabowo-Gibran: Kalau Ada yang Fitnah Jogetin Saja0
- Prabowo: Saya Tidak Ragu, Saya Bangga Tim Joko Widodo0
- PM Anwar Ibrahim Bertemu Erdogan, Bahas Palestina Sampai 2 Jam0
_Black11.png)









