- Sosialisasi Bahaya Narkoba untuk Remaja: Dampak Jangka Panjang pada Otak dan Kesehatan Mental
- ASITA Riau Harap PLT Gubernur Riau Bisa Realisasikan Bandara Udara Baru di Riau
- Business Matching: Rakerda ASITA Riau Hadirkan Pengusaha Wisata Malaysia 2026
- Amerika Bergolak dan Penuh Demonstran; Matinya Seorang Penyair Wanita, Dituduh Sebagai Teroris Domes
- Parisman Ihwan Resmi Buka Forki Riau Open Championship
- Peresmian Kantor SpektrumID.com: Langkah Baru PT Delif Mitra Sejahtera dalam Dunia Digital
- HUT ke-55 ASITA: Mewujudkan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045
- Syahrul Aidi Tinjau Pembangunan Jalan Koto Damai-Suka Menanti yang Berasal dari Inpres 2025
- Bupati Asmar Pimpin Upacara HAB ke-80 Kemenag, Tegaskan Kerukunan Sebagai Energi Pembangunan
- Polres Inhil Gelar Zoom Meeting dan Panen Raya Jagung Kuartal I 2026 Dukung Swasembada Pangan
Anies Ungkap Biang Kerok Negara Bisa Kena Jebakan Kelas Menengah

Bakal calon presiden Anies Baswedan mengungkap biang kerok sebuah negara dapat terperangkap dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.
Jakarta, VokalOnline.Com - Bakal calon presiden Anies Baswedan mengungkap biang kerok sebuah negara dapat terperangkap dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.
Menurutnya, middle income trap bisa menjerat sebuah negara karena institusi politik menghasilkan kebijakan yang tak mencerminkan kepentingan publik, melainkan partai politik dan kelompok politik di dalam pemerintahan.
"Hal tersebut menjadi alasan mengapa beberapa negara terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah. Saya pikir kita perlu mengatasi hal itu," kata Anies dalam acara 11th US-Indonesia Investment Summit di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Selasa (24/10).
Awalnya, Anies menyoroti pendanaan partai politik hingga pendanaan pemilu. Ia menyebut banyak negara demokrasi di seluruh dunia telah berurusan dengan masalah itu.
Mereka memiliki pendekatan yang berbeda untuk memecahkan masalah tersebut.
Sementara, menurut dia, Indonesia tak menyentuh masalah tersebut karena belum melakukan reformasi. Anies berpendapat bahwa hal itu adalah satu satu reformasi kebijakan utama yang perlu dikedepankan dan dijalankan.
"Tanpa menangani masalah ini, kita akan selalu memiliki inkonsistensi kebijakan, kita akan selalu dihadapkan pada kepentingan politik yang saling terkait dengan pembuatan kebijakan," lanjut dia.
Selain itu, Anies juga menyinggung soal meritokrasi. Ia mengingatkan bahwa meritokrasi penting untuk menciptakan semangat keterbukaan, kompetisi terbuka, dan optimisme.
"Tidak hanya di bidang birokrasi, tetapi meritokrasi di setiap aspek. Kami ingin agar semangat meritokrasi ini kembali muncul di Indonesia. Kita pernah mengalaminya beberapa tahun yang lalu, dan kami ingin hal itu terjadi kembali," ucap Anies lebih lanjut.(fit)**
Berita Terkait :
- Prabowo: Semua Partai Termasuk PDIP Ada Dinasti Politik0
- Batas Usia Capres-Cawapres Kembali Digugat ke MK0
- Kaesang PSI ke Prabowo-Gibran: Kalau Ada yang Fitnah Jogetin Saja0
- Prabowo: Saya Tidak Ragu, Saya Bangga Tim Joko Widodo0
- PM Anwar Ibrahim Bertemu Erdogan, Bahas Palestina Sampai 2 Jam0
_Black11.png)









