- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
BI Tak Khawatir Taper Tantrum Market AS

(Liputan6.com)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak khawatir terhadap potensi taper tantrum AS akibat pengetatan kebijakan moneter The Fed. Pasalnya, bank sentral memperkirakan kondisi pasar keuangan Indonesia berbeda dengan 2013 lalu ketika taper tantrum terjadi.
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI Riza Tyas Utami mengatakan BI sudah memiliki tiga strategi intervensi (triple intervention) untuk mengatasi risiko tersebut.
"Tetapi yang perlu diingat, kami dulu mengalami taper tantrum 2013, dengan sekarang, kondisinya jauh berbeda. Dulu, kami hanya punya spot intervention (intervensi di pasar spot), sekarang kami bahkan punya triple interventions," ungkapnya dalam sesi jumpa wartawan, Kamis (24/3).Strategi pertama, kata dia, BI akan melakukan intervensi di pasar, tidak hanya di pasar spot. Strategi itu akan digunakan untuk menangkal dampak kenaikan yield treasury AS (US Treasury) yang bisa membuat investor asing kabur dari pasar obligasi RI.
"Kami punya spot, punya intervensi di domestic non-delivery forward (DNDF), dan kita juga sekarang punya SBN," jelasnya. Kedua, Indonesia juga telah memiliki Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang lebih tangguh. Penguatan ini dilakukan bank sentral bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lain, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"SSK kita 2013 dan sekarang berbeda. SSK kita sekarang begitu kuat," tuturnya.Ketiga, BI juga memperkuat kerja sama internasional baik dengan negara maupun lembaga keuangan internasional. Salah satunya adalah kerjasama transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung atau Local Currency Settlement (LCS) dengan sejumlah negara.
"LCS sekarang kami punya, bahkan tidak hanya dengan satu negara, dengan Malaysia, Jepang, Thailand. Dengan China masih proses," tuturnya. Selain itu, pejabat sektor keuangan Indonesia aktif ikut serta dalam berbagai forum koordinasi sektor keuangan internasional seperti G20, OECD, IMF, dan sebagainya. "Akan ada kondisi gejolak kecil dalam jangka pendek iya. Tapi, kami sudah melakukan persiapan jauh hari ke belakang, bahkan sebelum covid-19 ini berjalan, sehingga alhamdulillah ketika ini terjadi kami lebih siap," ujarnya.
(ulf/bir)
Berita Terkait :
- Harga Emas Antam 26 Maret, Turun ke Rp.921 PerGram0
- Batas Waktu Kartu ATM Kena Blokir0
- Optimis Ekonomi Pulih di 2021, Pemerintah Lanjutkan BLT0
- Mengulas Rasio Pajak RI yang Kian Ciut0
- BRI Bentuk Divisi Khusus Untuk Lindungi Data Nasabah0
_Black11.png)









