Digitalisasi UMKM, Optimisasi Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Publisher Vol/Din Bisnis
19 Nov 2021, 17:27:01 WIB
Digitalisasi UMKM, Optimisasi Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Yuli memperlihatkan papan QR Code di gerainya beberapa hari lalu. (FOTO: Dina)


PEKANBARU (VOKALONLINE.COM)-“Pakai ini saja. Ada m-banking, kan? Mudah, kok. Sebentar juga. Cobalah,” Yuli Meliani menawarkan kepada penulis untuk melakukan pembayaran dengan sistem digital. Dengan terlebih dulu memindai QR Code yang tersedia.

 

Itu terjadi di gerai oleh-oleh serta produk UMKM lain yang dikelolanya, Gerai Sangsa, Jalan Datuk Setia Maharaja Nomor 223, Pekanbaru, beberapa hari lalu.

 

Pembayaran melalui aplikasi atau transfer secara digital adalah salah satu inovasi yang ikut diterapkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dimiliki Yuli. Juga diberlakukan bagi seluruh komunitas UMKM yang dikumpulkannya di bawah wadah Gerai Sangsa. Jumlahnya ada 103 UMKM.

 

Selain pembayaran dengan sistem digital, dirinya juga menerapkan pengelolaan keuangan usaha melalui aplikasi keungan sederhana yang sudah tersedia di Google Play untuk pengguna sistem operasi telepon selular melalui Android. Yakni, Si Apik.

 

Kemudian di luar itu semua, tentu dirinya memanfaatkan berbagai fasilitas digital dan media sosial yang ada untuk melakukan pemasaran produk. Sejauh ini, ia tergabung di marketplace Tokopedia, Sophie dan Bukalapak. Ada lagi Warung Segar, Google Bisnis.

 

Tentunya, ia memanfaatkan pula akun di Instagram dan Facebook. Satu lagi, secara regular Yuli dan kawan-kawan memanfaatkan digitalisasi pelelangan, melalui lembaga resmi lelang KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang).

 

Omzet Naik

 

Sebagaimana pengakuannya, berbagai sistem digital itu telah menyelamatkan usahanya beberapa waktu belakangan. Terutama, karena terjangan pandemi Covid-19 sepanjang dua tahun terakhir.

 

“Memang bisnis mengalami masa paling sulit sejak pandemi. Tapi, alhamdulillah di saya, malahan sejak pandemi omzet saya naik berlipat-lipat.”

 

Yuli menceritakan usahanya berupa penjualan lauk ayam olahan dan siap masak, berupa ayam ungkep. Ia memberi nama usaha UMKM miliknya satu ini dengan nama Ayam Ungkep Bu Yuli.

 

“Kalau sebelum PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, red), saya biassanya menyiapkan sepuluh kilogram ayam ungkep sehari. Setelah PPKM malahan omzet usaha ini mencapai dua puluh hingga tiga puluh kilogram sehari,” ungkap Yuli.

 

Ia memperkirakan, selama ada aturan PPKM atau secara umum semasa pandemi, masyarakat enggan untuk keluar rumah, bila tidak benar-benar perlu. Sehingga, ibu-ibu juga tidak ke pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Perilaku itu justru meningkatkan omzet ayam ungkepnya.

 

Jadi, sebagian besar masyarakat khususnya ibu-ibu sudah beralih berbelanja dengan cara online. Dengan adanya marketplace di dunia digital, sangat memungkinkan itu. Termasuk, beberapa aplikasi lain seperti Gojek dan kawan-kawan. Tentu, termasuk adanya alat pembayaran digital semakin mempermudah lagi. Seperti e-wallet, dengan beragam produk yang ada.

 

Sari, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja, mendukung pendapat Yuli bahwa masyarakat, khususnya ibu-ibu, semakin  terbiasa dan lebih memilih alat pembayaran digital. Beragam alasannya. Salah satunya, bersih. Mengingat, saat ini zaman pandemi, sehingga kemungkinan penularan melalui uang kartas sangat besar. Kemudian, aman karena jauh dari risiko dicuri, dirampok dan sebagainya.

 

Berikutnya, juga menggampangkan dalam hal transaksi. Tinggal memindai, lalu uang sudah berpindah dari rekening pembeli kepada penjual. Tanpa perlu ke ATM untuk menarik uang dan sebagainya.

 

Ada juga alasan ketepatan perhitungan. Karena, dengan digitalisasi, berapapun nilai pecahan yang ditransaksikan, tetap bisa dilakukan. Sehingga, semakin menghemat.

 

Pasar Tradisional

 

Digitalisasi transaksi juga mulai diterapkan di pasar-pasar tradisional di Pekanbaru, seperti Pasar Dupa. Beberapa waktu belakangan, para pedagang yang memiliki kios dan lapak di sini mulai disosialisasikan  metoda pembayaran digital oleh salah satu bank pemerintah, juga melalui QRIS.

 

Beberapa di antara mereka sudah menerapkan pilihan pembayaran metoda digital itu. Walaupun, belum banyak masyarakat atau konsumen yang berbelanja memanfaatkan teknologi tersebut. Para pedagang berpendapat, karena program tersebut terbilang baru, sehingga belum tersosialisasi secara luas.

 

Selain itu, juga ada kendala atau pilihan berbeda dari pembeli. Kendala dimaksud utamanya berupa keterampilan memanfaatkan teknologi tersebut yang belum mumpuni. Selain itu, juga karena ada alasan tersendiri bagi pedagang dan pembeli, yakni dalam efisiensi waktu.

 

Rezi, seorang pedagang Pasar Dupa, menuturkan, jika nilai transaksi kecil seperti pada pedagang sayur, rempah dan sebagainya, maka konsumen lebih merasa leluasa dengan uang kartal. Karena, mereka ingin transaksi dan pengembalian uang jika ada bisa berlangsung cepat. Apalagi, nilai uang kembalian itu sangat kecil. Hanya seharga Rp1.000,-

 

“Akan tak sebanding rasanya jika harus menunggu cukup lama. Dengan menggunakan uang digital, pasti akan ada sekian waktu untuk proses di teknologinya. Namun, kalau hanya dengan uang kertas, mereka ingin seketika selesai belanja dan membayar, seketika itu pula uang kembalian diambil. Apalagi, mereka berbelanja dengan antrean yang cukup banyak,” demikian penjelasan Rezi, Kamis, 18 November 2021.

 

Walau begitu, optimisme juga muncul dari pedagang. Bagi Syamsurizal, pedagang ayam potong, pembayaran dengan cara digital sudah niscaya. Apalagi, karena paksaan pandemi ini.

 

“Sangat terbuka kemungkinannya. Karena, manusia sekarang rata-rata, kan, malas bergerak. Inginnya instan dan semua dipermudah. Jadi, kalau belanja tak perlu keluar rumah. Itu kita saksikan di banyak bisnis sudah,” katanya.

 

Sistem Pencatatan

 

Ada satu lagi digitalisasi yang telah diikuti Yuli, yakni pencatatan keuangan atau akuntansi yang sudah mengikuti Si Apik. Yaitu, aplikasi akuntansi sederhana pada sistem operasi telepon selular. Sistem ini sudah diakui bermacam perbankan.

 

“Banyak bank menerima catatan keuangan UMKM yang menggunakan Si Apik. Bahkan, mereka memudahkan UMKM untuk mendapatkan permodalan jika sudah menerapkan Si Apik,” demikian Yuli.

 

Yuli juga mengakui, dengan Si Apik, dirinya sebagai satu-satunya manajemen dalam usahanya, tidak direpotkan dengan catatan keuangan. Apalagi, harus membuat laporan keuangan tahunan. Cukup menginput data harian, laporan sudah bisa dibaca. Apakah ingin bulanan atau tahunan.

 

“Banyak bank juga bisa menerima salinan laporan keuangan itu melalui aplikasi langsung. Sangat memudahkan dan memberi manfaat besar,” ujar Yuli lagi. (din)

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment