- Publik Berhak Tahu! Siti Aisyah Soroti Pembukaan Kembali Enam PKS di Kuansing
- Dojo Tirex Pekanbaru Raih Juara Umum 1 Kejuaraan Karate GDR Open Championship se-Riau
- Dari Rohil untuk Dunia Kerja, Politeknik Mulia Rokan Kantongi Izin Pendirian
- Anggota DPR RI Dapil Riau-1 Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau
- Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026
- Jum'at Keliling, Kapolres Pelalawan Sambangi Masjid Al Aziim
- Polres Inhu Gelar Razia Sarang Narkoba di Kambesko, Dukung Terwujudnya Kampung Bersinar
- Perebutkan Piala Bupati, Kejuaraan Drumband Inhu Resmi Dibuka
- Syahrul Aidi Dukung MUI dan Forkomnas, Minta Pemerintah Konsisten Bela Palestina
- 600 Atlet INKANAS Berlaga di GDR Open Championship 1 Riau, Matangkan Persiapan Menuju Piala Kapolri
Digitalisasi UMKM, Optimisasi Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Yuli memperlihatkan papan QR Code di gerainya beberapa hari lalu. (FOTO: Dina)
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM)-“Pakai ini saja. Ada m-banking, kan? Mudah, kok. Sebentar juga. Cobalah,” Yuli Meliani menawarkan kepada penulis untuk melakukan pembayaran dengan sistem digital. Dengan terlebih dulu memindai QR Code yang tersedia.
Itu terjadi di gerai oleh-oleh serta produk UMKM lain yang
dikelolanya, Gerai Sangsa, Jalan Datuk Setia Maharaja Nomor 223, Pekanbaru,
beberapa hari lalu.
Pembayaran melalui aplikasi atau transfer secara digital adalah salah
satu inovasi yang ikut diterapkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang
dimiliki Yuli. Juga diberlakukan bagi seluruh komunitas UMKM yang dikumpulkannya
di bawah wadah Gerai Sangsa. Jumlahnya ada 103 UMKM.
Selain pembayaran dengan sistem digital, dirinya juga menerapkan
pengelolaan keuangan usaha melalui aplikasi keungan sederhana yang sudah
tersedia di Google Play untuk pengguna sistem operasi telepon selular melalui
Android. Yakni, Si Apik.
Kemudian di luar itu semua, tentu dirinya memanfaatkan berbagai
fasilitas digital dan media sosial yang ada untuk melakukan pemasaran produk.
Sejauh ini, ia tergabung di marketplace
Tokopedia, Sophie dan Bukalapak. Ada lagi Warung Segar, Google Bisnis.
Tentunya, ia memanfaatkan pula akun di Instagram dan Facebook. Satu
lagi, secara regular Yuli dan kawan-kawan memanfaatkan digitalisasi pelelangan,
melalui lembaga resmi lelang KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan
Lelang).
Omzet Naik
Sebagaimana pengakuannya, berbagai sistem digital itu telah
menyelamatkan usahanya beberapa waktu belakangan. Terutama, karena terjangan
pandemi Covid-19 sepanjang dua tahun terakhir.
“Memang bisnis mengalami masa paling sulit sejak pandemi. Tapi, alhamdulillah
di saya, malahan sejak
pandemi omzet saya naik berlipat-lipat.”
Yuli menceritakan usahanya berupa penjualan lauk ayam olahan dan siap
masak, berupa ayam ungkep. Ia memberi nama usaha UMKM miliknya satu ini dengan
nama Ayam Ungkep Bu Yuli.
“Kalau sebelum PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, red), saya biassanya menyiapkan sepuluh
kilogram ayam ungkep sehari. Setelah PPKM malahan omzet usaha ini mencapai dua
puluh hingga tiga puluh kilogram sehari,” ungkap Yuli.
Ia memperkirakan, selama ada aturan PPKM atau secara umum semasa
pandemi, masyarakat enggan untuk keluar rumah, bila tidak benar-benar perlu.
Sehingga, ibu-ibu juga tidak ke pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Perilaku itu justru meningkatkan omzet ayam ungkepnya.
Jadi, sebagian besar masyarakat khususnya ibu-ibu sudah beralih
berbelanja dengan cara online. Dengan
adanya marketplace di dunia digital,
sangat memungkinkan itu. Termasuk, beberapa aplikasi lain seperti Gojek dan
kawan-kawan. Tentu, termasuk adanya alat pembayaran digital semakin mempermudah
lagi. Seperti e-wallet, dengan
beragam produk yang ada.
Sari, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja, mendukung pendapat
Yuli bahwa masyarakat, khususnya ibu-ibu, semakin terbiasa dan lebih memilih alat pembayaran
digital. Beragam alasannya. Salah satunya, bersih. Mengingat, saat ini zaman pandemi,
sehingga kemungkinan penularan melalui uang kartas sangat besar. Kemudian, aman
karena jauh dari risiko dicuri, dirampok dan sebagainya.
Berikutnya, juga menggampangkan dalam hal transaksi. Tinggal memindai,
lalu uang sudah berpindah dari rekening pembeli kepada penjual. Tanpa perlu ke
ATM untuk menarik uang dan sebagainya.
Ada juga alasan ketepatan perhitungan. Karena, dengan digitalisasi,
berapapun nilai pecahan yang ditransaksikan, tetap bisa dilakukan. Sehingga,
semakin menghemat.
Pasar Tradisional
Digitalisasi transaksi juga mulai diterapkan di pasar-pasar
tradisional di Pekanbaru, seperti Pasar Dupa. Beberapa waktu belakangan, para
pedagang yang memiliki kios dan lapak di sini mulai disosialisasikan metoda pembayaran digital oleh salah satu
bank pemerintah, juga melalui QRIS.
Beberapa di antara mereka sudah menerapkan pilihan pembayaran metoda
digital itu. Walaupun, belum banyak masyarakat atau konsumen yang berbelanja
memanfaatkan teknologi tersebut. Para pedagang berpendapat, karena program
tersebut terbilang baru, sehingga belum tersosialisasi secara luas.
Selain itu, juga ada kendala atau pilihan berbeda dari pembeli.
Kendala dimaksud utamanya berupa keterampilan memanfaatkan teknologi tersebut
yang belum mumpuni. Selain itu, juga karena ada alasan tersendiri bagi pedagang
dan pembeli, yakni dalam efisiensi waktu.
Rezi, seorang pedagang Pasar Dupa, menuturkan, jika nilai transaksi
kecil seperti pada pedagang sayur, rempah dan sebagainya, maka konsumen lebih
merasa leluasa dengan uang kartal. Karena, mereka ingin transaksi dan
pengembalian uang jika ada bisa berlangsung cepat. Apalagi, nilai uang
kembalian itu sangat kecil. Hanya seharga Rp1.000,-
“Akan tak sebanding rasanya jika harus menunggu cukup lama. Dengan
menggunakan uang digital, pasti akan ada sekian waktu untuk proses di
teknologinya. Namun, kalau hanya dengan uang kertas, mereka ingin seketika
selesai belanja dan membayar, seketika itu pula uang kembalian diambil.
Apalagi, mereka berbelanja dengan antrean yang cukup banyak,” demikian
penjelasan Rezi, Kamis, 18 November 2021.
Walau begitu, optimisme juga muncul dari pedagang. Bagi Syamsurizal, pedagang
ayam potong, pembayaran dengan cara digital sudah niscaya. Apalagi, karena
paksaan pandemi ini.
“Sangat terbuka kemungkinannya. Karena, manusia sekarang rata-rata,
kan, malas bergerak. Inginnya instan dan semua dipermudah. Jadi, kalau belanja
tak perlu keluar rumah. Itu kita saksikan di banyak bisnis sudah,” katanya.
Sistem Pencatatan
Ada satu lagi digitalisasi
yang telah diikuti Yuli, yakni pencatatan keuangan atau akuntansi yang sudah
mengikuti Si Apik. Yaitu, aplikasi akuntansi sederhana pada sistem operasi
telepon selular. Sistem ini sudah diakui bermacam perbankan.
“Banyak bank menerima catatan
keuangan UMKM yang menggunakan Si Apik. Bahkan, mereka memudahkan UMKM untuk
mendapatkan permodalan jika sudah menerapkan Si Apik,” demikian Yuli.
Yuli juga mengakui, dengan Si
Apik, dirinya sebagai satu-satunya manajemen dalam usahanya, tidak direpotkan
dengan catatan keuangan. Apalagi, harus membuat laporan keuangan tahunan. Cukup
menginput data harian, laporan sudah bisa dibaca. Apakah ingin bulanan atau
tahunan.
“Banyak bank juga bisa menerima salinan laporan keuangan itu melalui aplikasi langsung. Sangat memudahkan dan memberi manfaat besar,” ujar Yuli lagi. (din)
Berita Terkait :
- Peserta: Workshop SPS Riau Sangat Membantu Kerja Humas dan Kominfo0
- Kunjungi Riau, Dubes UE Bahas Kerja Sama Ekonomi, Perdagangan, Investasi dan Sawit0
- Lusa, EU Keluarkan Aturan Baru Impor CPO dari Indonesia0
- Bank BJB Raih Leadership AA dalam ESG Disclosure Awards0
- Tarik Tunai di ATM Bank BJB Sekarang Bisa Tanpa Kartu0
_Black11.png)








