- Selain Bantu UMKM, Hendry Munief Dorong Pelaku Industri Kembangkan Industri Halal
- Kabut Asap Menurun, PDIP Kuansing Turun ke Jalan Bagikan Masker
- DPR Janji Sahkan RUU Perampasan Aset Korupsi: Harus Tegas Hukuman Mati Efek Jera Untuk Koruptor
- FORKI Dumai Disebut Tak Koordinasi dengan Perguruan Karate Terkait Pencalonan Ketua KONI
- Aksi Warga Kepayang Sari di Lahan Eks Tasma Puja, PT Agrinas Palma Sepakati Penghentian Operasional
- Kodam XIX Tuanku Tambusai Matangkan Program Penyuluhan TNI AD untuk Cegah Karhutla di Riau
- Jalan Sungai Rawa Minim Rambu, Truk Bermuatan Besar PT EPE Disorot
- Matahari 08 Riau Hadir di Tengah Dampak Karhutla, Ribuan Masker Gratis Dibagikan ke Masyarakat
- FORKI Riau Gelar Karate Kid Serie 3 Riau Open 2026, Dipantau Langsung Puspresnas
- Gemilang di Kejurprov Forki Riau 2026, Dojo Rumah PAN Sabet 2 Emas, 3 Perak, 1 Perunggu dan 1 BOB
IHSG Berpotensi Kembali Melemah, Dibayangi Kekhawatiran Resesi Global

Untuk hari ini IHSG berpotensi untuk kembali melemah. Harga minyak yang turun 10 persen diperkirakan akan membalikkan arah pergerakan saham-saham komoditas...
Jakarta, VokalOnline.Com - Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi dibuka melemah, dibayangi kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global.
IHSG dibuka melemah 11,22 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.692,04. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,4 poin atau 0,25 persen ke posisi 954,72.
"Untuk hari ini IHSG berpotensi untuk kembali melemah. Harga minyak yang turun 10 persen diperkirakan akan membalikkan arah pergerakan saham-saham komoditas seperti minyak dan gas, batu bara, dan metal," tulis Tim Riset Surya Fajar Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Kebangkitan IHSG yang terjadi kemarin diperkirakan akan berganti menjadi pelemahan pada hari ini dipicu kekhawatiran resesi global.
Di sisi lain, penurunan harga minyak global akan menguntungkan saham-saham konsumer yang memiliki basis pasar domestik.
Selain itu enam BUMN yaitu KRAS, SMGR, WSKT, ADHI dan GIAA telah memperoleh izin DPR untuk melakukan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.
IHSG hari ini berpotensi bergerak variatif dengan peluang pelemahan dengan indikasi pergerakan sideways ke depan dengan level support 6.580 dan level resisten 6.675.
Dari eksternal, bursa Amerika bergerak variatif dalam perdagangan tadi malam. Indeks Dow Jones ditutup turun namun Indeks Nasdaq berhasil melaju kencang.
Pasar diselimuti kekhawatiran potensi resesi. Hal itu terindikasi dari inversi imbal hasil (yield) di mana yield dari obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun di bawah yield obligasi Pemerintah AS tenor 2 tahun, yang secara historis mengindikasikan potensi resesi.
Di sisi lain, harga minyak global turun 10 persen dan menyebabkan saham-saham minyak menjadi pemberat.
Dari Eropa, bursa saham bergerak melemah kemarin. Mata uang Euro turun tajam terhadap dolar AS ke level terendah dalam dua dekade. Hal itu disebabkan oleh ketakutan terhadap resesi di Zona Eropa.
Sementara itu bursa Asia bergerak menguat. Bank Sentral Australia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin, sesuai dengan estimasi konsensus.
Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain Indeks Nikkei melemah 326,37 poin atau 1,24 persen ke 26.097,1, Indeks Hang Seng turun 130,91 poin atau 0,6 persen ke 21.722,16, dan Indeks Straits Times menguat 7,86 poin atau 0,25 persen ke 3.111,97. **Fira
Berita Terkait :
- Hari Ini, Tarif Listrik 5 Golongan Pelanggan Resmi Naik0
- Subholding Gas Pertamina Dan Gunvor Kerja Sama Bisnis LNG Global0
- Menperin Tawarkan Insentif Guna Tarik Investasi Industri Atsiri0
- Harga Sawit Melorot, Kamsol Sekjen AKapsi RI Angkat Bicara 0
- Minyak Perpanjang Kerugian Karena Kekhawatiran Resesi Meningkat0
_Black11.png)









