- Bhabinkamtibmas Petalongan Ajak Warga Manfaatkan Lahan Untuk Tanam Cabai
- Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Minta Dibebaskan, Nama Baik Dipulihkan
- Pangdam Kodam XIX Tuanku Tambusai Bersama Masyarakat Semarakkan Penutupan Festival Rakyat Nusantara
- Prof Abdul Mu'ti Lepas Dua Murid MAN 1 Pekanbaru Menuju Olimpiade Sains Internasional
- Kodam XIX/Tuanku Tambusai Siap Dukung Renovasi Kantor DPD LVRI Riau
- Kolaborasi Dinkes dan PT RAPP Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Riau
- TIMNAS Spanyol juara Piala Dunia 2026
- Welah Hatta, Srikandi Indonesia di Balik Suksesnya Pesta Piala Dunia 2026
- Diduga Kebakaran di SPBU Harapan Jaya Pekanbaru Jadi Sorotan, Penyebab Masih Diselidiki
- PLN UID Riau dan Kepulauan Riau Sukses Amankan Keandalan Listrik Riau Bhayangkara Run 2026
Italia: 50 Persen Penumpang Pesawat China ke Milan Positif Covid-19

Italia melaporkan setengah dari total ratusan penumpang dua pesawat China menuju Milan dinyatakan positif Covid-19. Ilustrasi.
Jakarta, VokalOnline.Com -- Pemerintah Italia bakal mewajibkan tes Covid-19 kepada seluruh pendatang dari China setelah 50 persen penumpang dalam dua penerbangan dari Beijing ke Milan dinyatakan positif virus corona.Dua pesawat dari China itu menjadi penerbangan perdana Negeri Tirai Bambu yang dikenakan pemeriksaan Covid-19 menyusul gelombang baru virus corona yang tengah berlangsung di negara Asia itu."Pada penerbangan pertama, dari 92 penumpang ada 35 orang (38 persen) positif Covid-19. Pada penerbangan kedua, dari 120 penumpang, 62 penumpang (52 persen) positif Covid-19," ujar Anggota Dewan Kesejahteraan Regional Lombardy, Guido Bertolaso, dalam konferensi pers pada Rabu (28/12) seperti dikutip SkyNews.Melansir Bloomberg, menurut laporan otoritas Milan, sebagian besar penumpang positif Covid-19 itu tidak menunjukkan gejala apa-apa.Namun, media lokal Italia melaporkan pemerintah khawatir soal kemunculan varian baru Covid-19 di tengah lonjakan penularan di China.Karena itu, selain melakukan tes Covid-19, otoritas Milan juga bakal melakukan tes sequencing guna meneliti apakah terdapat varian Covid-19 baru di antara para penumpang yang dinyatakan positif virus corona tersebut.Jika terkonfirmasi ada varian baru, pemerintah Italia berencana menerapkan pemeriksaan dan aturan yang lebih ketat kepada setiap pendatang dari Negeri Tirai Bambu.Italia berada dalam kesiagaan besar soal gelombang Covid-19 baru di China lantaran negara Eropa itu pernah menjadi pusaran penularan virus corona di awal pandemi berlangsung.Italia menjadi negara yang paling terdampak penularan Covid-19 di awal pandemi.Namun, Italia mampu dengan cepat meredam penularan itu menyusul tingkat vaksinasi Covid-19 yang tinggi.Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), lebih dari 80 persen warga Italia sudah melakukan vaksinasi lengkap. Banyak dari mereka pun telah mendapat vaksinasi booster.Selain Italia, sejumlah negara lainnya seperti Amerika Serikat, India, Malaysia, hingga Filipina telah merespons gelombang Covid-19 di China dengan memperketat pemeriksaan para pendatang dari Negeri Tirai Bambu.Sementara itu, negara lainnya seperti Inggris, Australia, dan Jerman masih memonitor dengan ketat situasi Covid-19 di China.China terus dihadapkan dengan gelombang Covid-19 terutama sejak pemerintahan Presiden Xi Jinping mencabut aturan lockdown ketat imbas protes warga yang merasa frustrasi.Sejumlah ahli menganggap keputusan Xi itu menjadi bumerang lantaran dilakukan mendadak dan tanpa persiapan soal pencegahan penularan Covid-19 setelah pembatasan lockdown dicabut.Sejauh ini, China belum mengeluarkan data resmi soal total jumlah kasus Covid-19 terbaru. Otoritas China bahkan berhenti melaporkan kasus harian Covid-19 di tengah lonjakan saat ini.Di sisi lain, WHO hingga AS mendesak China untuk transparan soal jumlah kasus Covid-19 dan situasi secara menyeluruh di Negeri Tirai Bambu.Sebab, rumah sakit hingga tempat krematorium jenazah di China dilaporkan mulai kewalahan menangani lonjakan pasien dan jenazah Covid-19 yang menumpuk.Laporan internal otoritas China yang bocor ke media bahkan memaparkan ada sekitar lebih dari 250 juta kasus Covid-19 di Negeri Tirai Bambu selama dua pekan pertama Desember ini. *Syafira
Berita Terkait :
- Duduk Perkara Konflik Kosovo dan Serbia yang Berkobar Lagi 0
- Ramalan Gila Rusia di 2023: Jerman-Prancis Perang, Elon Musk Presiden 0
- Elon Musk soal Ramalan Gila Jadi Presiden AS: Prediksi Paling Absurd0
- Israel Siap Serang Situs Nuklir Iran dalam 2-3 Tahun Mendatang0
- Raja Yordania Siap Angkat Senjata Jika Israel Ubah Status Al-Aqsa0
_Black11.png)









