- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu di Batang Tuaka, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
- Polsek Kempas Ungkap Kasus Narkotika di Desa Danau Pulai Indah, Satu Pelaku Diamankan
- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
Kamera Rekam Harimau Pemakan Pekerja
Konflik Harimau Sumatra dengan Manusia di Desa Serapung, Kabupaten PelalawanHarimau Terlihat Bertubuh Sedang Diduga Kekurangan Makanan di Hutan

Mitigasi konflik harimau dengan manusia yang dilakukan BBKSDA Riau terhadap pekerja hutan tanaman industri di Desa Serapung, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan. IST
PEKANBARU, VokalOnline.Com -Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau masih melakukan mitigasi konflik harimau dengan manusia di Desa Serapung, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan. Sebanyak 10 kamera intai dipasang petugas untuk mengidentifikasi si Datuk Belang.
Dalam beberapa pekan terakhir, ada dua pekerja perusahaan hutan tanaman industri diterkam harimau sumatra. Satu pekerja tewas dan satunya selamat setelah ditolong pekerja lainnya.
Harimau muncul di sekitar barak pekerja pemanen kayu hutan industri. Antara lokasi pertama dan kedua tidak terlalu jauh atau masih dalam konsesi perusahaan yang sama.
Kepala Bidang I BBKSDA Riau Andri Hansen Siregar menyebut kamera jebak atau intai di lokasi pertama sudah merekam kemunculan harimau. Sementara di lokasi serangan kedua belum ada tanda-tanda kemunculan si Raja Hutan.
"Kalau dari rekaman itu, harimau sudah dewasa, harimau betina, satu ekor," kata Hansen, Rabu siang, 7 September 2022.
Berdasarkan analisa petugas, harimau itu belum pernah melahirkan. Artinya harimau menerkam atau mencari mangsa untuk diri sendiri, bukan untuk anak.
Dilihat dari fisiknya, harimau itu berukuran sedang. Petugas menduga ukuran itu karena dipengaruhi faktor makanan di lokasi.
"Kemungkinan kekurangan pakan," ucap Hansen.
Analisa sementara, korban pertama dan kedua masih diterkam harimau yang sama. Pasalnya dari kamera yang terpasang hanya tertangkap penampakan satu harimau.
"Dari kejadian kedua, kamera belum merekam penampakan, kalau nanti terekam baru dianalisa apakah individunya sama tapi kemungkinan masih satu individu," terang Hansen.
Beberapa hari sebelum kejadian pertama, operator alat berat pernah melihat harimau muncul. Hal ini dilaporkan ke perusahaan agar memperingatkan pekerja berhati-hati selama beraktivitas.
"Cuma itu tidak menjadi perhatian oleh pihak perusahaan," tegas Hansen.
Sebelumnya, BBKSDA membawa kandang jebak atau perangkap ke lokasi. Namun tak kunjung dipasang untuk mengevakuasi harimau dengan beberapa pertimbangan.
Hansen enjelaskan, dua lokasi itu merupakan kawasan hutan. Memang ada perusahaan di lokasi karena mendapatkan izin konsesi berupa hutan tanaman industri.
"Itu kawasan hutan, ada aktivitas pemanenan sehingga arealnya menjadi terbuka," kata Hansen.
Selain itu, BBKSDA Riau belum mendapatkan rekomendasi dari pimpinan untuk memasang kandang jebakan.
"Kandang jebak sudah disiapkan tapi belum ada rekomendasi, itu berdasarkan observasi dan investigasi petugas di lapangan," jelas Hansen.
Mengantisipasi tidak ada korban lagi, BBKSDA Riau menghimbau perusahaan mengurangi aktivitas pekerja di lokasi.
"Bila memungkinkan dihentikan untuk sementara," ujar Hansen.
Sebagai informasi, korban pertama adalah Sehat Sopiana Br Manik. Korban diterkam pada Jum'at malam, 19 Agustus 2022, saat duduk di pinggir kanal usai menemaninya suaminya mandi.
Korban tewas setelah diseret harimau tak jauh dari barak pekerja. Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian dengan kondisi tidak utuh.
Berdasarkan penelusuran BBKSDA Riau, barak itu sudah lama ditinggal dan belakangan dihuni lagi karena panen kayu hutan tanaman industri. Di lokasi banyak ditemukan jejak sebelum pekerja datang ke lokasi.
Korban kedua adalah Nihar pada 3 September 2022. Korban diterkam saat keluar dari kamar mandi dan bertemu harimau sehingga keduanya sama-sama kaget.
Harimau kaget itu langsung menerkam korban. Beruntung teriakan minta tolong korban didengar pekerja lainnya dan langsung ditolong.
Berita Terkait :
- Indeks KUB Riau Rendah0
- Mahasiswa Geruduk Gedung DPRD Riau Tiga Tuntutan Ini harus Dipenuhi Pemerintah0
- Anggaran Pengangkutan Sampah di Pekanbaru Capai Rp80 Miliar0
- Rektor UIR Raih Penghargaan Pembina Olahraga Berprestasi di Riau 0
- Diduga PT Arara Abadi Serobot Lahan Milik Masyarakat Koto Ringin 0
_Black11.png)









