- Peringati Hari Mangrove Sedunia, Polres Inhil Bersama Forkopimda Tanam Bibit Mangrove
- Kodam XIX Tuanku Tambusai Perketat Kesiapan Latihan Operasi dan Satgas Pamtas RI–PNG
- RAPP Tanam 2.000 Bibit Mangrove di Meranti, Dukung Gerakan Nasional Hari Mangrove Sedunia 2026
- Panaskan Mesin Partai, Ratusan Kader PAN Inhil Berkumpul, Satu Barisan untuk Kemajuan Daerah
- Kabar Baik Dunia Pendidikan, 95 Sekolah di Meranti Lolos Program Revitalisasi 2026
- BRK Syariah Permudah Layanan Pensiun ASN di Meranti, Ingatkan Bahaya Penipuan Digital
- Kapolres Kepulauan Meranti Tegaskan Pelestarian Lingkungan Tanggung Jawab Bersama
- Polres Meranti Bongkar Dua Kasus Peredaran Sabu dalam Sehari, Empat Diduga Pengedar Diamankan
- Kolaborasi Generasi Hijau, Polsek Enok dan Warga Jaga Pesisir Lewat Mangrove
- Peringati Hari Mangrove Sedunia, Polsek Keritang Bersama Forkopimcam Tanam Mangrove di Kotabaru Rete
Manusia Masuk Habitatnya, Harimau Harus Diusir dari Rumahnya

Pekanbaru, VokalOnline.Com - Ibarat maling masuk rumah, penghuninya harus pergi karena menggangu kenyamanan maling dalam beraksi. Begitulah kira-kira nasib yang dialami harimau sumatra di Kampung Sibanga, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis.
Sejak 6 April hingga sekarang, sudah ada tiga kali harimau menampakkan belangnya. Dua di antara kemunculannya ada dua korban, pertama manusia dan kedua seekor anjing.
Yang ketiga, harimau mendatangi pondok penjaga lahan di desa itu. Si Datuk Belang sempat mengitari hunian semi permanen itu seolah memberi isyarat harus pergi karena sudah memasuki habitatnya.
Sejak kejadian ada penjerat rusa dimakan harimau pada 6 April lalu, BBKSDA Riau menyatakan lokasi kemunculan berada di Giam Siak Kecil. Ini merupakan kawasan hutan konservasi yang diperuntukkan melindungi satwa liar terancam punah.
Giam Siak Kecil sejak dahulu menjadi landscape harimau sumatra. Lokasi itu juga menjadi rumah bagi gajah sumatra dan satwa endemik Indonesia lainnya yang terancam tinggal nama.
Melihat konflik yang "diciptakan" manusia karena masuk habitat harimau, BBKSDA Riau menyatakan perlu menyelamatkan si kucing besar. Alasannya harimau sudah beberapa kali muncul dan menebar ancaman kepada manusia.
"Kami merasa kejadian ini sudah berulang kali, langkah saat ini menggeser kandang jebak," kata Plt Kepala BBKSDA Riau Fifin Arfiana Jogasora kepada wartawan terkait konflik ini.
Fifin mengakui lokasi konflik ini berada di hutan konservasi. Hutan yang menjadi tanggungjawab BBKSDA ini memang diperuntukkan menjaga kelestarian satwa liar.
Sebagai langkah awal, BBKSDA Riau akan memasang kamera intai di lokasi. Tujuannya mengetahui daerah perlintasan harimau untuk selanjutnya dipasang kandang jebakan.
Di sisi lain, BBKSDA Riau menyatakan di kawasan itu tengah terjadi perambahan hutan. Di sana berdiri sejumlah pondok hunian pekerja untuk membangun kebun dengan membabat hutan. ***
Tidak diketahui apa alasan BBKSDA Riau lebih memilih menyelamatkan para perambah hutan dari pada mempertahankan harimau di rumahnya sendiri.
Berita Terkait :
- Majelis Persekutuan Pemuda Melayu Serumpun Desak MKA LAMR Keluarkan Titah0
- Yusuf Daeng: Samsuarni Kalahkan Pemprov Riau Sampai MA Gugatan 3,8 haktar Tanah Stadion Utama Riau 0
- Hadiah Untuk Masyarakat Riau, Gubri Borong Anugerah Adinata Syari\'ah 20220
- Majelis Persekutuan Pemuda Melayu Serumpun Desak MKA LAMR Keluarkan Titah0
- Ketua MKA LAMR: Jika Mubes Dipercepat Dilaksanakan, Itu Tidak Sesuai Ketentuan0
_Black11.png)









