Pesantren Abdurrab Mendadak Jadi Lokasi Isolasi Terpadu
Sekolah dan Orang Tua Tolak Evakuasi

Publisher Vol/Syu Kesehatan
30 Nov 2021, 17:40:23 WIB
Pesantren Abdurrab Mendadak Jadi Lokasi Isolasi Terpadu

Suasana Abdurrab Pekanbaru ketika awal puluhan santri terpapar Covid-19. IST


PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Islamic Boarding School Abdurrab Pekanbaru mendadak jadi tempat isolasi terpadu. Hal ini dilakukan setelah pengelola pesantren itu menolak mengevakuasi ratusan santri yang terkonfirmasi Covid-19 dari asrama.

Penolakan ini berlangsung sejak Kamis pekan lalu ketika masih ada puluhan santri yang terpapar Covid-19. Pihak sekolah kompak dengan orang tua karena menolak santri dievakuasi ke isolasi terpadu di Asrama Haji Riau.

Transportasi medis, seperti ambulan bahkan mendapat hadangan. Jalur ambulan dihambat sehingga tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah.

Pihak sekolah juga tertutup dengan kehadiran jurnalis. Wartawan tidak boleh mendekat ke sekolah bahkan diminta menjauh dari pagar sekolah Abdurrab itu.

Penolakan ini kini membuat jumlah terkonfirmasi yang awalnya puluhan kini menjadi 127 orang. Dari yang awalnya terkonfirmasi hanya santri saja kemudian menyebar ke tenaga pendidik.

Kepala Polresta Pekanbaru Komisaris Besar Pria Budi mengakui adanya penolakan evakuasi itu. Namun untuk keselamatan santri yang terkonfirmasi, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Pekanbaru memutuskan asrama Abdurrab sebagai lokasi isolasi.

"Lokasi itu dijadikan isolasi terpadu seperti isolasi terpadu milik pemerintah," kata Pria usai meninjau proses tracing, swab dan pengobatan santri di sana, Senin malam, 29 November 2021.

Meski sifatnya isolasi terpadu darurat, Pria memastikan pengobatan berjalan aman. Ada tim medis dan dokter siaga selama 24 yang standby di lokasi. Ada juga tim pengamanan dari Polsek.

Pria menyatakan, Satgas Covid-19 Pekanbaru mengakomodir permintaan orang tua dan pengelola sekolah untuk menghindari benturan fisik dengan petugas keamanan.

"Kalau dipaksa (dibawa ke fasilitas pemerintah) akan chaos," kata Pria.

Pria menceritakan, pihaknya langsung ke lokasi begitu mendapat informasi ada Covid-19 di sekolah. Langkah-langkah eh aku sudah disiapkan pemerintah tapi ditolak orang tua.

"Waktu malam akan evakuasi, ada perlawanan, ambulan dipalang," ucap Pria.

Polres dan Pemerintah Kota Pekanbaru akhirnya mengisolasi link sekolah atau lockdown. Namun sehari sebelum penguncian itu, ada 25 santri yang sudah dibawa pulang orang tua.

"Itu sebelum Jum'at, hari Kamis," ucap Pria.

Pria mengakui memberi pemahaman kepada masyarakat terpapar Covid-19 terkadang membutuhkan tantangan. Kondisi ideal seperti evakuasi dan pengobatan tidak berjalan mulus karena penolakan tadi.

"Idealnya dibawa ke rumah sakit atau isolasi terpadu pemerintah, tapi tidak segampang itu," jelas Pria.

Meski demikian, Pria menghimbau masyarakat agar mematuhi pemerintah agar virus ini tidak menyebar ke orang lain. Masyarakatnya diminta menerapkan protokol kesehatan ketat meskipun saat ini Pekanbaru sudah PPKM level 1.

"Nikmati PPKM level 1 ini, tetap prokes, kalau nanti PPKM level 4 susah semuanya," imbuh Pria. (syu)

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment