- Dukung Swasembada Pangan, Kapolsek Keritang Lewat Bhabinkamtibmas Sambangi Petani Sayur di Pengaliha
- DPD KNPI Kabupaten Indragiri Hilir Jajaki Sinergi Strategis Bersama Bawaslu Inhil
- Sat Binmas Polres Inhil Cek dan Dampingi Peternakan P2B di Lorong Bunga Padi
- Polsek Enok Dampingi Warga Sulap Halaman Rumah Jadi Lumbung Pangan
- Polsek Enok Ajak Warga Perbanyak Tanam Kunyit dan Serai di Pekarangan
- Polsek Keritang Gencar Monitoring Peternakan Sapi Kotabaru, Cegah Curnak dan Dukung Ketahanan Pangan
- Jadi Sahabat Petani, Polsek Enok Dorong Warga Enok Rawat Cabe Rawit dan Serai Secara Rutin
- Personil Polsek Enok Imbau Warga Optimalkan Lahan untuk Hasil Panen dan Tingkatkan Perekonomian
- Agrinas dan Talang Mamak Bersinergi, Pengelolaan Kebun Eks PT SAL Buka Lapangan Kerja
- Polsek Keritang Monitor Tanaman Padi Menjelang Panen
Petani Karet di Kuansing Tewas Misterius, Ada Lobang Kecil di Leher

Ilustrasi. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Seorang petani di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Wariso, meninggal dunia secara misterius di kebun karet miliknya. Dugaan sementara, korban 53 tahun itu diserang oleh hewan yang tak diketahui pasti jenisnya.
Kepala Bidang I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Andri Hansen Siregar menjelaskan, kejadian bermula ketika Wariso bersama Siti Rahayu berangkat ke kebun pada Sabtu pagi, 4 Desember 2021. Keduanya mengambil hasil karet yang dideres beberapa hari sebelumnya.
Menjelang siang, Wariso dan istri pulang ke rumah untuk istirahat. Setelah makan siang, korban berangkat lagi ke kebun dan meminta istri untuk tinggal karena karet getah yang akan diambil tidak banyak lagi.
"Setelah pergi dari rumah, korban tak kunjung pulang menjelang malam," kata Andri, Senin siang, 6 Desember 2021.
Siti sudah berulang kali menghubungi suaminya memakai telepon tadi tak diangkat. Akhirnya bersama keluarga dan masyarakat, Siti mencari korban ke kebun.
Korban ditemukan tergeletak sudah tak bernyawa. Korban akhirnya dibawa ke rumah dan istrinya melapor ke Polsek setempat lalu dilakukan visum di Puskesmas.
"Hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, tidak ada pula bekas cakaran satwa," kata Andri.
Hanya saja, tambah Andri, di dekat leher korban ada satu lobang mengeluarkan darah. Ada juga sejumlah titik luka lain atau bintikan yang tidak mengeluarkan darah.
"Namun tidak bisa dipastikan itu bekas apa, petugas berniat melakukan otopsi tapi pihak keluarga menolak sehingga jasad korban dikembalikan dan dikebumikan keluarga," jelas Andri.
Andri menerangkan, kepolisian dan dokter sempat melakukan analisa apakah korban digigit binatang. Analisa pertama, kalau digigit ular berarti ada dua lobang yang berdekatan.
"Kalau digigit lebah atau tawon tidak akan mengeluarkan darah pada lobang," jelas Hansen.
Selain itu, tambah Andri, pada permukaan kulit tidak ditemukan kulit yang koyak atau robek. Sementara bercak darah pada tubuh korban tidak bisa dipastikan karena keluarga tidak bersedia di otopsi. (syu)
Berita Terkait :
- Ketum JMSI Pusat Teguh Santosa Buka Rakerda I JMSI Riau0
- Sayembara Baca Puisi Multimedia PWI Ditutup, 27 Karya Tereliminasi0
- Korban: Teknologi Digital Sangat Membantu Menjemput Keadilan bagi Saya0
- KPA Gandeng Harian Vokal Taja Seminar Nasional0
- Emak-emak Petani Sawit Tuntut Anthony Hamzah Sajikan LPJ0
_Black11.png)









