- Dukung Swasembada Pangan, Kapolsek Keritang Lewat Bhabinkamtibmas Sambangi Petani Sayur di Pengaliha
- DPD KNPI Kabupaten Indragiri Hilir Jajaki Sinergi Strategis Bersama Bawaslu Inhil
- Sat Binmas Polres Inhil Cek dan Dampingi Peternakan P2B di Lorong Bunga Padi
- Polsek Enok Dampingi Warga Sulap Halaman Rumah Jadi Lumbung Pangan
- Polsek Enok Ajak Warga Perbanyak Tanam Kunyit dan Serai di Pekarangan
- Polsek Keritang Gencar Monitoring Peternakan Sapi Kotabaru, Cegah Curnak dan Dukung Ketahanan Pangan
- Jadi Sahabat Petani, Polsek Enok Dorong Warga Enok Rawat Cabe Rawit dan Serai Secara Rutin
- Personil Polsek Enok Imbau Warga Optimalkan Lahan untuk Hasil Panen dan Tingkatkan Perekonomian
- Agrinas dan Talang Mamak Bersinergi, Pengelolaan Kebun Eks PT SAL Buka Lapangan Kerja
- Polsek Keritang Monitor Tanaman Padi Menjelang Panen
Rekening Nasabah Beberapa Kali Dibobol, Sistem Keamanan Bank Riau Lemah?

Tersangka pembobol rekening nasabah di Bank Riau Kepri. IST
Bank Riau Kepri (BRK) kembali menjadi sorotan di tengah proses konversi menjadi bank syari'ah. Pembobolan rekening nasabah sudah beberapa kali mewarnai bank milik pemerintah daerah Riau dan Kepulauan Riau itu.
Terakhir pembobolan rekening Rp1,3 miliar oleh tersangka NH setelah mendapat password user ID dari AS. Manejemen BRK mengakui NH pernah menjadi teller dan AS merupakan head teller di Cabang Pasir Pangaraian di Kabupaten Rokan Hulu.
Sistem keamanan di bank yang mengaku punya aset Rp30 triliun itu dipertanyakan. Dikhawatirkan hal serupa terjadi dimasa mendatang sehingga bisa berimbas kepada kepercayaan masyarakat.
Direktur Utama BRK Andi Buchari menyatakan bank yang dikelolanya punya beberapa sistem keamanan. Salah satunya sistem akutansi sebagai deteksi dini sehingga jika ada satu pos terbuka akan ketahuan.
"Ini soal waktu saja, setiap kejadian akan ketahuan, akan ditemukan oleh auditor," kata Andi, Rabu siang, 31 Maret 2021.
Enam bulan belakangan, Andi menyebut BRK sudah punya tim anti fraud (kecurangan). Tim ini di luar auditor yang berfungsi melakukan pencegahan, investigasi, penanganan dan penyelesaian dana nasabah.
"Penyelesaian bagaimana uang nasabah kembali, bahkan kami punya divisi hukum yang mungkin melaporkan ke penegak hukum karena ini milik pemerintah daerah, milik masyarakat," kata Andi.
Andi juga menyebut BRK punya early warning sistem yang dipadukan dengan teknologi informasi untuk mencegah pembobolan rekening nasabah. Namun kecurangan bisa terjadi tapi hanya soal waktu.
"Soal waktu saja terungkap, kadang-kadang hanya terlewat satu minggu," jelas Andi.
Andi menambahkan, head teller di BRK saat ini tidak hanya dibekali password user ID. Namun juga menerapkan sistem fingerprint sehingga teller harus berhubungan langsung dengan atasan untuk mencairkan dana nasabah.
"Jadi tidak secara manual lagi, kecuali atasannya mau meminjamkan jarinya," seloroh Andi.
Menurut Andi, pembobolan rekening oleh NH terjadi karena atasannya berinisial AS memberikan password user ID. Seharusnya ini tidak terjadi karena rekening nasabah harus dijaga.
"Nasabah tidak boleh rugi, ini menjadi pembelajaran bagi segenap insan Bank Riau," kata Andi.
Terkait kejadian ini, manajemen BRK menyatakan tidak berpengaruh kepada masyarakat. Apalagi kasus ini sudah ditangani secara baik, di mana kerugian nasabah sudah diganti.
Dengan ragam sistem pencegahan tadi, apakah kedepannya BRK bisa kebobolan lagi? (syu)
Berita Terkait :
- Bank Riau Kepri Ganti Uang Rp1,3 Miliar Nasabah yang Dibobol, Uang dari Mana?0
- 20 Polsek di Riau Tak Berwenang Lagi Tangani Perkara Pidana0
- Heboh Beruang Masuk Desa di Siak, Sempat Melintasi Pasar0
- Mabes Polri Diserang, Terdengar Beberapa Kali Tembakan0
- Begini Cara Teller HN Jebol Rekening Nasabah Sampai Rp1,3 Miliar0
_Black11.png)









