- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
Rusia Setop Mobilisasi Parsial Tentara ke Ukraina, Putin Menyerah?

Jakarta, VokalOnline.Com - Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan menghentikan semua aktivitas mobilisasi parsial pasukan cadangan ke Ukraina, termasuk panggilan wajib militer kepada warganya, pada Senin (31/10),dilansir dari cnn indonesia.
"Semua aktivitas yang berhubungan dengan wajib militer untuk pelatihan telah dihentikan," demikian pernyataan resmi Kemenhan Rusia.
Keputusan ini muncul ketika pasukan Rusia mengalami kemunduran di Ukraina. Sejak pasukan Ukraina melancarkan serangan balasan pada awal September lalu, Rusia terus kehilangan sejumlah wilayah pendudukan secara signifikan.
Pasukan Presiden Vladimir Putin juga disebut semakin kehilangan arah dalam melancarkan invasinya ke Ukraina yang berjalan delapan bulan lebih.
Untuk pertama kalinya, Rusia juga mengakui pasukannya di Ukraina mengalami masalah soal peralatan perang pada Rabu (26/10).
"Kalian semua telah mendengar pernyataan Presiden (Vladimir Putin dalam rapat Dewan Koordinasi). Memang, ada masalah dengan peralatan," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan di Moskow.
Peskov mengakui pasukan Rusia di Ukraina menghadapi sejumlah masalah di medan perang. Namun, ia menegaskan Rusia tengah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasinya.
"Langkah-langkah sedang diambil untuk menyelesaikan masalah ini," ucapnya seperti dikutip CNN.
Pada Selasa (25/10), Putin mengatakan peralatan tentara Rusia juga harus "efisien dan modern" untuk memenuhi kebutuhan pasukan dalam perang di Ukraina.
Putin juga meminta pemerintah untuk mempercepat pengambilan keputusan dan pembuatan peralatan militer.
Sementara itu, dalam pemberitahuannya kemarin, Kemhan Rusia juga meminta komandan distrik militer dan Armada Utara untuk menyerahkan laporan soal penyelesaian kegiatan mobilisasi parsial pada 1 November.
Namun, pengumuman kementerian itu bukan merupakan akhir resmi dari mobilisasi parsial pasukan Rusia. Ini hanya bisa dilakukan dengan keputusan resmi dari Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pada September lalu, Putin mengumumkan mobilisasi parsial tentara cadangan ke Ukraina. Seruan ini muncul usai Rusia mengalami kekalahan di negara yang diinvasinya.
Namun, pengumuman itu memicu gejolak di Negeri Beruang Merah. Banyak warga laki-laki Rusia kabur ke luar negeri karena takut direkrut untuk berperang.
Mayoritas yang kabur pergi ke negara tetangga Rusia seperti Armenia, Georgia, Azerbaijan, Kazakhstan dan beberapa ke Finlandia.
Selain itu, banyak warga turun ke jalan menuntut pembatalan mobilisasi wamil itu. Namun, Rusia menanggapinya dengan represi. Petugas menangkap dan menahan para pedemo itu.**Syafira
Berita Terkait :
- Terlalu Banyak Varian Produk, Apple Kehilangan Jati Diri?0
- Netizen Saudi Ribut-ribut soal Halal vs Haram Perayaan Halloween0
- Menteri Timor Leste Minta Telkom Bantu Akses Komunikasi di Pedesaan0
- Korban Tewas Tragedi Halloween Itaewon Jadi 156, Banyak Usia 20 Tahun0
- Biden Naik Pitam Zelensky Minta AS Terus Pasok Senjata via Telepon0
_Black11.png)









