- Hendry Munief Apresiasi Kebijakan Presiden Prabowo Perkuat Ekonomi Kerakyatan
- KNPI Inhil: Memaknai Merdeka dengan Berbuat dan Tetap Kondusif
- Bertahun-tahun Konflik Agraria Petani dengan PT SBP, Ini Kata Bupati Ade
- Peringati HUT ke-81 RI, PLN Grup Regional Riau Perkuat Semangat Kebersamaan dan Kepedulian
- Peduli Kegiatan Keagamaan, PT PAS Mitra Agrinas Salurkan Dukungan untuk MTQ Danau Rambai
- Desentralisasi Asimetris Berbasis Klaster: Solusi Pemerataan Pembangunan Daerah di Indonesia
- Panitia Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Gelar Rapat Terbatas, Pastikan Kesiapan Pertandingan
- Jelang Pacu Jalur 2026, Pemkab Kuansing Desak Penertiban PETI di Hulu Sungai Kuantan
- Plt Bupati Kuansing Tinjau Kesiapan Tepian Narosa Jelang Festival Pacu Jalur Nasional 2026
- Festival Pacu Jalur 2026 Siap Digelar, Plt Bupati Kuansing Ajak Masyarakat Sukseskan Pesta Rakyat
AS Siapkan Bansos Rp211 T untuk Bayar Tagihan Energi, Termasuk Listrik

VokalOnline.Com- Pemerintah Amerika Serikat (AS) siap mengucurkan dana bantuan sosial (bansos) sebesar US$13,5 miliar atau setara Rp211 triliun (kurs Rp15.685) untuk membayar tagihan energi rumah tangga, termasuk listrik.
Rinciannya, Departemen Energi AS (DOE) bakal mengalokasikan US$9 miliar (Rp141 triliun) dari Undang-Undang Pengurangan Inflasi untuk mendukung hingga 1,6 juta rumah tangga demi mendapatkan tagihan energi yang lebih rendah.
Sisanya dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) yang menyediakan US$4,5 miliar (Rp70 triliun) dalam pendanaan Program Bantuan Energi Rumah Berpenghasilan Rendah (LIHEAP).
Pemerintah AS menerangkan bansos ini akan membantu rumah tangga dengan biaya pemanas dan tagihan yang belum dibayar. Bagi yang mengalami perbaikan peralatan energi rumah, ini akan membantu menurunkan biaya energi yang harus dikeluarkan.
Menurut perkiraan Asosiasi Direktur Bantuan Energi Nasional (NEADA) pada Oktober, keluarga di AS kesulitan membayar tagihan listrik dan gas dengan sekitar satu dari enam keluarga menunggak.
NEADA yang mewakili direktur LIHEAP negara bagian, mengatakan rumah tangga AS harus mengejar sekitar US$16,1 miliar (Rp252 triliun) dalam urusan tagihan listrik.
"Kenaikan biaya energi rumah tangga musim dingin ini akan menempatkan jutaan keluarga berpenghasilan rendah pada risiko tertinggal dalam tagihan energi mereka dan tidak punya pilihan selain membuat keputusan sulit, antara membeli makanan, obat-obatan, dan sewa," tutur Direktur Eksekutif NEADA Mark Wolfe, dikutip dari Reuters, Kamis (3/11).
Dengan begitu, bansos ini cukup penting menjelang musim dingin di mana masyarakat AS bisa membayar hingga 28 persen lebih banyak untuk menghangatkan rumah mereka daripada tahun lalu ketika melonjaknya biaya bahan bakar dan cuaca yang lebih dingin.
Ada sebanyak 90 persen dari sekitar 130 juta rumah tangga AS bergantung pada gas alam atau listrik untuk panas. Sisanya menggunakan minyak pemanas, propana atau kayu.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan rata-rata rumah tangga AS menghabiskan sekitar US$931 untuk pemanas gas musim dingin ini dan sekitar US$1.359 untuk pemanas listrik. Angkanya meningkat 28 persen untuk gas dan 10 persen untuk listrik dibandingkan tahun lalu.**Syafira
Berita Terkait :
- Harga Minyak Dunia Naik ke US$96 Usai The Fed Kerek Suku Bunga0
- Menhub Klaim Jepang, Korea, dan Inggris Akan Investasi di Proyek MRT0
- Kabar XL Axiata PHK Karyawan Dibantah Manajemen0
- Bappebti Respons soal Kripto Diatur OJK dalam RUU PPSK0
- Jokowi Tetapkan Sanur Jadi Kawasan Ekonomi Khusus0
_Black11.png)









