- Diduga PETI Beroperasi di Sungai Bawang F5, Polda Riau Diminta Bertindak
- Inkanas Riau Pimpin Klasemen Sementara Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Masuki Hari Kedua, 1.050 Karateka Berebut Gelar Juara
- INKAI Riau Juara Umum Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Oktober 2026, JMSI Riau Gelar UKW Muda, Madya dan Utama
- Karmila Sari Dorong Sekolah Garuda Cetak Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas
- Cabor Karate Dumai Tegaskan Tidak Dukung Aci sebagai Calon Ketua KONI
- Kapolres Inhil: Penanganan Karhutla Harus Cepat dan Bersama-Sama
- Giat Dasawisma RT 03/08 Tobek Godang Sempena HUT RI ke-81
Demo Menggila, Iran Kaji Ulang Aturan Wajib Hijab

Iran akhirnya mengkaji ulang wajib hijab bagi perempuan, salah satu aturan yang memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dua bulan belakangan.
Jakarta, VokalOnline.Com - Iran akhirnya mengkaji ulang wajib hijab bagi perempuan, salah satu aturan yang memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dua bulan belakangan.
"Parlemen dan kehakiman sedang mengkaji [aturan itu]," ujar Jaksa Agung Iran, Mohammad Jafar Montazeri, seperti dikutip AFP, Sabtu (3/12).Montazeri tak menjabarkan lebih lanjut bagian mana dari hukum itu yang kemungkinan dapat diubah.Sebagaimana dilansir kantor berita ISNA, Montazeri hanya mengatakan bahwa tim pengkajian ulang itu sudah bertemu pada Rabu lalu "dan hasilnya dapat dilihat dalam satu atau dua pekan."
Presiden Iran, Ebrahim Raisi, menegaskan bahwa landasan Islam sebenarnya sudah mengakar dalam konstitusi Iran."Namun, ada metode-metode penerapan konstitusi yang bisa fleksibel," ucap Raisi.Iran sendiri mulai memberlakukan wajib hijab untuk perempuan sejak April 1983, empat tahun setelah revolusi 1979. Revolusi itu meruntuhkan monarki Iran yang didukung Amerika Serikat.Belakangan, mulai muncul desakan untuk menghapuskan aturan ketat tersebut. Namun hingga kini, isu tersebut masih menjadi perdebatan yang sensitif.Kaum konservatif menganggap aturan tersebut harus tetap ditegakkan. Sementara itu, kubu reformis ingin keputusan untuk pemakaian hijab berada di tangan individu.Di tengah perdebatan ini, kepolisian Iran masih terus menahan perempuan-perempuan yang kedapatan tak mematuhi aturan ketat soal hijab ini, termasuk Mahsa Amini.Namun, kasus Amini menjadi sorotan luas karena perempuan berusia 22 tahun itu meninggal dunia di tahanan polisi moral.Kematian Amini memicu gelombang protes besar-besaran di Iran. Tak hanya memprotes kematian Amini, para pengunjuk rasa juga menyuarakan penolakan atas aturan-aturan yang mengekang perempuan.Para demonstran mempertanyakan akuntabilitas dan impunitas yang dinikmati elite ulama di negara tersebut.Seruan mereka juga meluas hingga menuntut keadilan, transparansi, hingga isu-isu kebebasan berekspresi.Tak hanya di dalam negeri, protes juga menjalar ke luar negeri, seperti kala Piala Dunia 2022 digelar di Qatar.Para pemain tim nasional Iran menunjukkan protes mereka dengan menolak menyanyikan lagu kebangsaan di laga pembuka ajang olahraga bergengsi itu.Di sekitar arena Piala Dunia, para warga Iran juga berunjuk rasa sembari membawa foto Amini. **Syafira
Berita Terkait :
- Maju Mundur Iran Bubarkan Polisi Moral yang Picu Demo Besar-besaran 0
- Netanyahu Jadi PM Israel Lagi, AS Blak-blakan Dukung Negara Palestina 0
- 2.500 Anjing Laut Terancam Punah Mati Misterius di Pantai Rusia0
- Alasan Iran Kaji Ulang Aturan Wajib Hijab yang Picu Demo Besar 0
- Kenapa PM Anwar Ibrahim Sulit Bentuk Kabinet Pemerintahan Malaysia?0
_Black11.png)









