- Satgas PKH Diminta Bongkar Dalang Klaim Kebun Eks PT SAL di Rakit Kulim
- Pelajaran dari Masa Lalu untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia menuju New Paradigm Tata Kelola Dunia
- Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Enok dan stakeholder serta Pihak Perusahan Tanam Ja
- APBD Kepulauan Meranti 2026 Disahkan Rp 1,162 Triliun
- Bupati Meranti Asmar Bagikan 1.800 Takjil Ramadan di Tiga Titik Kota Selatpanjang
- RAPP Tegaskan Komitmen Cegah Karhutla di Riau Melalui Sistem Kesiapsiagaan Terpadu
- Syahrul Aidi Buka Rumah Aspirasi, Targetkan Wadah Pengembangan Komunitas dan Keahlian
- Batin Model: Suku Talang Mamak Dukung Penuh Operasional Kebun Agrinas di Eks PT SAL
- Tim Raga Beraksi Berantas Premanisme dan Genk Motor di Pelalawan
- Sinergi Pemkab dan Swasta, Bupati Asmar Resmikan Jalan Batang Malas–Tenan Sepanjang 1,8 Km
Diusia 21 Tahun, Sultan Muhammad Al Fatih Menaklukkan Konstantinopel

Sultan Muhammad al-Fatih
Turki, VokalOnline.Com - Siapa yang tidak mengenal Sultan Muhammad al-Fatih, dia adalah pahlawan besar Islam yang menaklukkan kota Konstantinopel, dalam usia yang masih muda, yakni (21 tahun) sultan Muhammad al-Fatih mampu menaklukkan kota Konstantinopel di Romawi Timur.
Saat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun mampu menaklukkan Konstantinopel. Tempat yang pernah disebutkan Rasulullah 825 tahun sebelumnya.
Rasulullah mengabarkan bahwa Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad)
Kunci kemenangan Al Fatih adalah melakukan hal berbeda dan tampak mustahil bagi kebanyakan orang. Saat itu, Al Fatih beserta ribuan tentaranya menarik kapal-kapal mereka melalui perbukitan Galata (tidak lewat laut) agar bisa masuk ke Selat Golden Horn.
Tujuh puluh kapal diseberangkan melalui bukit hanya dalam satu malam. Kejadian ini diabadikan Sastrawan Yoilmaz Oztuna.
"Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini, Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya di puncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander The Great.” dala tulisan sastrawan Yoilmaz Oztuna.
Selain berani melakukan hal yang berbeda. Al Fatih juga menyuntikkan semangat keimanan dan value yang mendasar bagi pasukannya (timnya).
Sehari sebelumnya berperang, Al Fatih memerintahkan semua tentaranya untuk berpuasa pada siang hari dan shalat tahajud pada malam harinya untuk meminta kemenangan kepada Allah. Tiada kemenangan tanpa izin-Nya.
Begitu Alfatih menaklukkan Konstantinopel dan memasuki Hagia Sophia dia bersujud menghadap kiblat, kemudian mengambil segenggam tanah dan kemudian ia taburkan di atas kepalanya.
Al Fatih tidak ingin gelar “pemimpin terbaik” merusak iman dan hatinya. Kita semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.
Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel yang sekarang telah berubah menjadi Istambul, Al Fatih menjadi pemimimpin di tempat itu.
Al Fatih melindungi seluruh rakyat baik yang beragam Islam maupun yang beragama selain Islam. Masyarakatnya jauh lebih sejahtera dibandingkan saat Konstantinopel dalam naungan Kerajaan Byzantium.
Begitulah pemimpin terbaik, menanamkan keimanan dan value, berani berpikir beda, rendah hati dan mengayomi seluruh yang dipimpinnya.
Salah satu ucapan Sultan Muhammad Al Fatih adalah, "Ketahuilah sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah tubuh negara maka muliakanlah mereka, semangati mereka. Bila ada dari mereka yang tinggal di tempat lain maka hadirkanlah dan hormatilah mereka, cukupilah keperluan mereka". **Vol-01
Berita Terkait :
- Kepala Kejati Riau Sampaikan Pentingnya Sabar dan Salat Sebagai Penolong0
- Inhu Pusat Peradaban Adat Melayu dan Sejarah Kerajaan Indragiri0
- Dua Tokoh Alumni 1973 Pesantren Sumatra Thawalib Parabek Hadir Milad ke 112 Tahun0
- Gubri Syamsuar Apresiasi Kekompakan Mahasiswa Asal Riau di Mesir0
- Temui Dubes RI di Mesir, Gubri Paparkan Potensi Riau0
_Black11.png)









