- Dugaan Gratifikasi Guncang Inhu, Tiga Kades dan Satu Lurah Dilaporkan Terkait Konflik PT SBP
- BRK Syariah dan Pemkab Inhil Gelar Ramah Tamah ASN Pensiun dan Purnabakti
- Kodam XIX Tuanku Tambusai Perkuat Semangat Gotong Royong Lewat Karya Bakti Massal di Pekanbaru
- Hendry Munief Minta Pengusaha Perhatikan Buffer Zone Kawasan Industri demi Keseimbangan Semua Aspek
- Bukan Sekadar KKN, Mahasiswa FISIP Unri Resmikan Papan Edukasi Sampah di Sumahilang
- Bhabinkamtibmas Polsek Pelangiran Optimalkan Ketersediaan Daging Melalui Pengembangbiakan Ayam Kampu
- Heboh, Pengakuan Mantan Lurah, Forum Tiga Desa Digaji PT SBP Rampas Kebun Petani dan Bela Perusahaan
- Siswa MAN 1 Pekanbaru Lulus Beasiswa Indonesia Bangkit, Kuliah di National University of Singapore
- Hendry Munief Kunjungi Ponpes Hidayatullah Pekanbaru, Dorong Santri Jadi Entrepreneur
- Menanam Harapan Seusai Hujan, Ikhtiar Kecil Menjaga Bumi dari KUA Kecamatan Salo
Dr Yovi Sebut Pelaksanaan PPKM Mikro di Riau Tidak Berjalan Efektif

Juru bicara Satgas Covid-19 di Riau, dr Indra Yovi. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Puluhan kelurahan di Provinsi Riau sudah melakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Namun Covid-19 di Riau masih merajalela dan menjadi kasus konfirmasi harian tertinggi di Indonesia pada 26 Mei 2021.
Juru bicara Satgas Covid-19 Riau, dr Indra Yovi menyatakan lonjakan Covid-19 Riau karena PPKM mikro tidak efektif. Aturan yang sudah disusun untuk memutus penyebaran virus corona tidak berjalan maksimal.
"Indikasi PPKM mikro tidak efektif, buktinya kasus konfirmasi melonjak," kata Yovi, Kamis siang, 27 Mei 2021.
Yovi menjelaskan, rencana penerapan PPKM mikro kalau dibaca oleh masyarakat sangat bagus untuk memutus penyebaran Covid-19. Namun aturan dan rencana hanya di atas kertas.
"Bagus kalau itu memang diterapkan, tapi lihat sendirilah," ucap Yovi.
Selain tidak efektifnya PPKM mikro, Yovi juga menyinggung tidak efektifnya screening saat pembatasan atau larangan mudik lebaran beberapa waktu lalu.
"Banyak orang mudik sudah pulang, kemudian menginfeksi keluarga di Riau, ini yang terjadi," jelas Yovi.
Tidak efektifnya PPKM mikro membuat Pemerintah Provinsi Riau mewacanakan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Rencananya masih dalam pembahasan.
"Namun itu perlu disetujui oleh pemerintah pusat," kata Yovi.
Yovi menjelaskan, Riau pada Mei 2021 terjadi lonjakan Covid-19 sangat besar. Dia memprediksi puncaknya bisa terjadi pada Juni hingga Juli kalau tidak dilakukan pengetatan di masyarakat.
"Bisa jadi pada Mei ini sampai 15 ribu angka konfirmasi Covid-19, tertinggi di Riau," katanya.
Tahun lalu, sambung Yovi, angka konfirmasi Covid-19 di Riau tertinggi terjadi pada April dan Oktober. Pada April ada 9 ribu orang dan pada Oktober ada 7 ribu.
"Angka kematian tertinggi terjadi pada 26 Mei kemarin, ada 27 orang meninggal dalam sehari," jelas Yovi. (syu)
Berita Terkait :
- HMMM...Varian Baru Virus Corona Ternyata Pernah Singgah ke Riau0
- 10 ABK Asal India Positif Covid-19 di Dumai0
- Polisi Senapelan Tembak Jambret Spesialis Kalung Emas Emak-emak0
- Berkah Waisak, Satu Napi di Riau Langsung Bebas Saat Terima Remisi0
- Polisi Tangkap Begal Sadis Terhadap Tukang Ojek0
_Black11.png)









