- Gokasi Dumai Minta FORKI Mengundang Pengcab Perguruan Karate untuk Bahas Calon Ketua KONI
- Diduga PETI Beroperasi di Sungai Bawang F5, Polda Riau Diminta Bertindak
- Inkanas Riau Pimpin Klasemen Sementara Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Masuki Hari Kedua, 1.050 Karateka Berebut Gelar Juara
- INKAI Riau Juara Umum Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Oktober 2026, JMSI Riau Gelar UKW Muda, Madya dan Utama
- Karmila Sari Dorong Sekolah Garuda Cetak Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas
- Cabor Karate Dumai Tegaskan Tidak Dukung Aci sebagai Calon Ketua KONI
- Kapolres Inhil: Penanganan Karhutla Harus Cepat dan Bersama-Sama
Keponakan Khamenei Ditangkap usai Sebut Rezim Iran Pembunuh Anak

Jakarta, VokalOnline.Com - Farideh Moradkhani, keponakan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ditangkap usai menyerukan agar dunia memutus hubungan dengan negaranya. Menurutnya, rezim Iran merupakan pembunuh anak.
CNN melaporkan bahwa Moradkhani ditahan pada Rabu pekan lalu, ketika ia datang ke kantor kejaksaan untuk menjawab panggilan pengadilan.
Sebelum ditangkap, Moradkhani merilis video di mana ia menyerukan agar dunia memutus hubungan dengan Iran di tengah gelombang protes yang tak kunjung usai di negaranya.
"Oh, orang-orang yang bebas, dukung kami dan katakan ke pemerintah kalian untuk berhenti mendukung rezim pembunuh dan pembunuh anak ini," ujar Moradkhani dalam video itu.
Ia kemudian berkata, "Negara ini tak taat pada prinsip-prinsip keagamaannya dan tak tahu aturan apa pun kecuali pemaksaan dan mempertahankan kekuasaan mereka dengan cara apapun."
Saat ini, Iran memang sedang panas karena serangkaian demonstrasi akibat kematian Mahsa Amini di tahanan. Amini ditahan karena tak memakai penutup kepala yang sesuai dengan aturan Iran.
Berawal dari aksi damai, demonstrasi itu kerap berakhir ricuh karena aparat menggunakan kekerasan. Moradkhani menyebut insiden-insiden ini membuat mata dunia tertuju ke Iran.
"Ini merupakan momen kritis dalam sejarah. Semua mengamati rakyat Iran, tangan kosong mereka, dengan keberanian melawan pasukan iblis," katanya.
"Di titik ini, rakyat Iran memikul beban dari tanggung jawab berat ini sendirian dengan mengorbankan nyawa mereka."
Berawal dari aksi damai, demonstrasi itu kerap berakhir ricuh karena aparat menggunakan kekerasan. Moradkhani menyebut insiden-insiden ini membuat mata dunia tertuju ke Iran.
"Ini merupakan momen kritis dalam sejarah. Semua mengamati rakyat Iran, tangan kosong mereka, dengan keberanian melawan pasukan iblis," katanya.
"Di titik ini, rakyat Iran memikul beban dari tanggung jawab berat ini sendirian dengan mengorbankan nyawa mereka."
Moradkhani kemudian menyatakan bahwa para warga Iran berperang dengan semua pemerintahan yang mendukung rezim Iran. Ia lantas menyerukan semua pihak untuk mengusir perwakilan Iran di negara masing-masing.
"Yang sangat dibutuhkan bukan dukungan terhadap rezim yang membunuh ribuan warga Iran dalam empat hari pada November 2019, ketika dunia hanya bisa menonton," ucapnya.
Pernyataan ini menggemparkan karena datang dari keluarga Khamenei sendiri. Moradkhani merupakan anak dari Ali Tehrani, seorang imam yang juga tokoh oposisi di Iran.
Namun, ia menikah dengan adik dari pemimpin tertinggi Iran, yaitu Badri Hosseini Khamenei. Tehrani sendiri meninggal dunia pada bulan lalu.
Sebagai anak tokoh oposisi yang juga vokal, Moradkhani sudah tak asing lagi dengan tahanan rezim. Pada 13 Januari lalu, ia juga ditangkap saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya.**Syafira
Berita Terkait :
- Demo China Tuntut Xi Jinping Mundur hingga Suporter Piala Dunia Rusuh0
- Suporter Rusuh di Brussels Usai Belgia Kalah di Laga Piala Dunia0
- Tanah Longsor Tewaskan 7 Orang, Italia Umumkan Situasi Darurat0
- Ratusan Mahasiswa China Protes Aturan Lockdown Covid-19 di Kampus0
- Kim Jong Un Klaim Korut Bakal Punya Senjata Nuklir Terkuat di Dunia0
_Black11.png)









