- FORKI Dumai Disebut Tak Koordinasi dengan Perguruan Karate Terkait Pencalonan Ketua KONI
- Aksi Warga Kepayang Sari di Lahan Eks Tasma Puja, PT Agrinas Palma Sepakati Penghentian Operasional
- Kodam XIX Tuanku Tambusai Matangkan Program Penyuluhan TNI AD untuk Cegah Karhutla di Riau
- Jalan Sungai Rawa Minim Rambu, Truk Bermuatan Besar PT EPE Disorot
- Matahari 08 Riau Hadir di Tengah Dampak Karhutla, Ribuan Masker Gratis Dibagikan ke Masyarakat
- FORKI Riau Gelar Karate Kid Serie 3 Riau Open 2026, Dipantau Langsung Puspresnas
- Gemilang di Kejurprov Forki Riau 2026, Dojo Rumah PAN Sabet 2 Emas, 3 Perak, 1 Perunggu dan 1 BOB
- Dugaan Mark-Up Anggaran Desa Talang Durian Cacar Mencuat, BPD Diminta Periksa Kegiatan 2024-2025
- Gokasi Dumai Minta FORKI Mengundang Pengcab Perguruan Karate untuk Bahas Calon Ketua KONI
- Diduga PETI Beroperasi di Sungai Bawang F5, Polda Riau Diminta Bertindak
Ormas Islam Protes Keras Kontes Busana Transpuan di Surabaya

Surabaya, vokalOnline.Com - Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur menolak acara 'Evening Dress Transpuan Competition' yang akan digelar di Surabaya. Acara itu dinilai menyebarkan kemaksiatan dan berbahaya bagi akhlak masyarakat.
Sekjen GUIB Jatim Mochammad Yunus menyatakan kompetisi yang diadakan di Royal Plaza Surabaya, Kamis (24/11), itu harus dibatalkan.
"Penyelenggaraan kompetisi ini berpotensi memunculkan penyakit sosial yang berdampak pada merebaknya kemaksiatan, kemungkaran, menjadi basis perdagangan narkoba dan obat-obat terlarang, minuman beralkohol, perjudian, penyimpangan seksual, prostitusi terselubung, promosi LGBT serta prilaku amoral lainnya," kata Yunus melalui keterangan tertulisnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/11).
Menurutnya, hal itu sudah bertentangan dengan ajaran agama, Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta bertolak belakang dengan arah pembangunan nasional.
Ditinjau dari aspek sosiologis, kata Yunus, dampak Evening Dress Transpuan Competition, juga dapat merusak nilai-nilai luhur dan pranata sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
"Ditinjau dari aspek etika dan sopan santun, dampak kompetisi ini dapat merusak etika, moral dan akhlak serta sendi-sendi kehidupan bermasyarakat yang baik," katanya.
Selain itu, acara tersebut juga dapat memberikan dampak pada perubahan sikap dan perilaku masyarakat, pergaulan bebas, hedonisme, relativisme, skeptisisme dan agnostisisme yang mengarah pada tergerusnya nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa.
"Dari perspektif keamanan, kegiatan ini berpotensi memunculkan gangguan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat yang berujung pada terganggunya kondusifitas kehidupan sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara di wilayah ini," ucapnya.
Yunus menilai tempat pelaksanaan kompetisi tersebut, yakni Royal Plaza adalah wilayah permukiman yang padat penduduk, berdekatan dengan tempat ibadah dan lembaga-lembaga pendidikan.
"Sehingga memiliki daya rusak signifikan bagi masyarakat, umat beragama dan murid murid di sekolah maupun mahasiswa di sekitar tempat pelaksanaan kompetisi ini," ucapnya.
Mereka pun meminta, kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan jajaran kepolisian untuk membubarkan dan tidak memberikan izin kepada acara tersebut.
"Kami meminta Pemerintah Provinsi Jatim dengan serius melindungi warganya dari bahaya perusakan akhlak dan moral masyarakat dengan menolak permohonan izin pelaksanaan kompetisi ini dan dampak negatif yang ditimbulkannya," katanya.
CNNIndonesia.com telah berupaya mengonfirmasi pihak penyelenggara Evening Dress Transpuan Competition, namun yang bersangkutan belum memberikan respons.**Syafira
Berita Terkait :
- China Mau Ketemu AS di Kamboja, Makin Mesra usai dari Bali0
- Penembak Kelab Gay AS Diduga Sama dengan yang Tebar Ancaman Bom 20210
- Siapa Mohd Suhaimi, yang Bikin KO Mahathir di Pemilu Malaysia?0
- KTT APEC Rusuh, Polisi Thailand Tembak Peluru Karet Bubarkan Demo0
- Polres Inhu Bagikan Makanan Gratis Untuk Masyarakat Kota Rengat 0
_Black11.png)









