- Bhabinkamtibmas Pengalihan Ajak Warga Kembangkan Budidaya Ikan Untuk Ekonomi Keluarga
- PDC Perkuat Budaya Keselamatan untuk Dukung Operasi yang Andal dan Berkelanjutan
- Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Hadiri Riau Bhayangkara Run 2026, Gaungkan Green Policing
- Tanam Serempak OPLAH 2025, Siak Perkuat Langkah Menuju Swasembada Pangan Nasional
- Dongkrak Omzet UMKM dan Dorong Literasi, PEP Lirik Hadirkan Mitra UMKM dan LILAC dalam AMK Fest 2026
- Dukung Swasembada Pangan Nasional Polsek Merbau Sembang Petani Cabe
- MAN 1 Kepulauan Meranti Terima Perserta Didik,Baru Cerdaskan Anak Bangsa Lewat Program Matamuda
- Disambut Meriah dengan Tradisi Melayu,AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita Resmi Tiba di Kepulauan Meranti
- Bupati Asmar Sambut Kapolres Baru Kepulauan Meranti, Kenang Dedikasi AKBP Aldi Alfa Faroqi
- Farewell Parade Kapolres Meranti, AKBP Aldi Berpamitan, AKBP Gede Siap Lanjutkan Pengabdian
Perbedaan Gejala GERD dan Serangan Jantung

Ilustrasi. Nyeri pada dada bagian sebelah kiri (foto: KlikDokter)
Vokalonline.com- Dilansir dari CNN Indonesia -- Anda mungkin pernah merasakan sensasi rasa panas dari perut atas lalu menjalar ke dada. Rasanya seperti terbakar di area bagian dada. Tahukah Anda bahwa gejala tersebut bisa diakibatkan dua sebab, yakni GERD atau serangan jantung. Lalu bagaimana membedakannya dan apa yang harus dilakukan jika mengalami?.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastro Entero Hepatologi Mayapada Hospital Kuningan, dr. Suwito Indra, Sp.PD, KGEH menjelaskan, bahwa GERD atau Gastro Esophageal Reflux Disease merupakan kondisi di mana asam lambung naik ke esofagus atau kerongkongan yang disebabkan oleh banyak faktor.Dr. Suwito mengatakan, faktor-faktor yang menyertai di antaranya ada peninggian tekanan di dalam rongga usus yang menyebabkan isi lambung sulit turun, kelemahan otot lingkar pada kerongkongan bagian bawah yang menyebabkan isi lambung mudah naik ke kerongkongan.
"Kemudian faktor beberapa makanan atau minuman seperti makanan yang berlemak tinggi, kopi, merokok, atau obat obatan tertentu seperti obat batuk, obat pengurang rasa nyeri, atau obat tradisional tertentu," kata Dr. Suwito.
Dr. Suwito lebih lanjut menerangkan, GERD biasanya menimbulkan keluhan berupa rasa panas seperti terbakar di bagian tengah dada, kadang menjalar ke leher, kadang disertai rasa mengganjal di tenggorokan, mulut terasa asam atau pahit. Gejala berupa panas menjalar di dada ini yang menyerupai gejala serangan jantung .
"Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya," tambahnya.
GERD dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko mulai dari kegemukan, diabetes, gangguan fungsi ginjal, adanya cairan yang banyak di dalam rongga perut, stress, dan sebagainya. Untuk melihat adanya radang atau ada tidaknya kelainan pada otot lingkar esofagus yang mencegah refluk dari lambung dapat dilakukan pemeriksaan endoskopi.
Menurutu Dr. Suwito, dengan endoskopi ini, selain dapat menentukan adanya radang pada esofagus juga dapat melihat kelainan pada lambung dan usus dua belas jari. Dengan endoskopi juga dapat dilakukan biopsi mukosa (selaput lendir) esofagus, lambung dan usus dua belas jari untuk melihat kelainan jaringan pada organ-organ tersebut.
Penanganan GERD, lanjut Dr. Suwito, biasanya menggunakan obat pengendali keasaman lambung, meski tidak semua masalah GERD dapat diselesaikan hanya dengan minum obat penekan asam lambung saja.
"Perlu dievaluasi secara komprehensif kondisi yang menyebabkan keluhan GERD tersebut, juga dicari dan diatasi latar belakang permasalahannya," ujarnya.
GERD Beda dengan Serangan Jantung
Sementara serangan jantung atau Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan suatu kondisi di mana pembuluh darah koroner tersumbat secara mendadak sehingga otot jantung tidak mendapat suplai oksigen, darah, dan makanan dari pembuluh darah koroner sehingga menimbulkan sensasi nyeri dada. Jika tidak segera medapatkan penanganan, maka dapat menyebabkan kerusakan otot jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Tangerang, Dr. Aron Husink, Sp.JP(K), FIHA menerangkan, sumbatan tersebut tidak terjadi begitu saja, namun akibat proses penimbunan lemak/plak pada dinding pembuluh darah koroner (aterosklerosis) yang terjadi selama bertahun-tahun.
"Semakin lama pembuluh darah semakin menyempit sampai akhirnya menimbulkan gejala," ujar Dr. Aron.
Kondisi ini yang disebut penyakit jantung koroner. Tapi dalam perjalanannya, kata Dr. Aron, permukaan plak yang menyumbat pembuluh darah bisa tiba-tiba pecah dan bekuan darahnya menutup total pembuluh darah dengan cepat. Kondisi tersebut yang disebut serangan jantung.
"Ketika otot jantung mulai tersumbat, maka gejala yang akan timbul adalah sensasi nyeri dada yang khas seperti tertiban benda berat, rasa panas terbakar, rasanya di dalam bukan di permukaan dada, sensasinya luas dan dapat menjalar ke bahu kiri, lengan kiri, tidak jarang menjalar ke ulu hati dan kerongkongan sehingga memberikan sensasi seperti tercekik," kata dia.
Kondisi tersebutlah yang membuat gejalanya mirip seperti gejala GERD. Namun, tambah Dr. Aron, ada gejala tambahan lain yang menyertai seperti keringat dingin, sesak nafas, berdebar-debar, hingga pingsan. Gejala ini dapat muncul kapan saja, baik saat atau sesudah aktifitas berat seperti berolahraga atau bahkan ketika beristirahat.
"Faktor risiko serangan jantung antara lain berusia lebih dari 40 tahun, laki-laki lebih berisiko dibanding wanita, merokok, memiliki kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, dan memiliki riwayat keluarga sedarah dengan serangan jantung di usia muda atau di bawah 50 tahun," ucapnya.
Lebih jauh Dr. Aron menuturkan, jika terjadi serangan jantung maka pemeriksaan yang dilakukan adalah EKG/rekam jantung dan pemeriksaan enzim jantung yaitu troponin. Penanganan selanjutnya adalah tindakan membuka sumbatan pembuluh darah sesegera mungkin. Menurut Dr. Aron, penelitian menyebutkan bahwa tindakan harus dilakukan di bawah 12 jam sejak gejala pertama kali dirasakan agar semakin besar manfaat dan tingkat keberhasilannya. Semakin lama tertunda, maka risiko kerusakan otot jantung akan semakin besar dan angka keberhasilan akan semakin menurun.
"Tindakan pemasangan balon dan ring/stent adalah yang paling efektif dengan tingkat keberhasilan tinggi untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner dan mengembalikan aliran darah," katanya.
Untuk mencegah serangan jantung, lanjut Dr. Aron, yakni perlu dilakukan deteksi dini jantung secara berkala atau medial check up. Pemeriksaan yang dilakukan berupa EKG/rekam jantung, treadmill test, dan pemeriksaan CT Scan jantung.
Selain itu, pencegahan lainnya tentunya dari pola hidup yaitu dengan menjalankan gaya hidup sehat untuk mengontrol faktor risiko, antara lain tidak merokok, pola makan sehat, dan aktif berolahraga secara teratur.
"Karenanya, bila merasakan keluhan panas menjalar dan nyeri di sekitar dada, jangan abaikan gejala tersebut dan segera periksakan kondisi Anda ke dokter untuk mencari sumber keluhan dan penanganan medis yang tepat," tutup Dr. Aron.
(osc)
Berita Terkait :
- Manfaat Wortel Bagi Kulit 0
- Hindari Jenis Makanan ini Bagi Penderita Bipolar0
- Tanda Tubuh Perlu Berhenti Untuk Minum Kopi 0
- Makanan Peningkat Energi Bagi Tubuh0
- Tips Mudah Kembali Tidur Setelah Terbangun di Malam Hari0
_Black11.png)









