- Dojo Tirex Pekanbaru Raih Juara Umum 1 Kejuaraan Karate GDR Open Championship se-Riau
- Dari Rohil untuk Dunia Kerja, Politeknik Mulia Rokan Kantongi Izin Pendirian
- Anggota DPR RI Dapil Riau-1 Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau
- Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026
- Jum'at Keliling, Kapolres Pelalawan Sambangi Masjid Al Aziim
- Polres Inhu Gelar Razia Sarang Narkoba di Kambesko, Dukung Terwujudnya Kampung Bersinar
- Perebutkan Piala Bupati, Kejuaraan Drumband Inhu Resmi Dibuka
- Syahrul Aidi Dukung MUI dan Forkomnas, Minta Pemerintah Konsisten Bela Palestina
- 600 Atlet INKANAS Berlaga di GDR Open Championship 1 Riau, Matangkan Persiapan Menuju Piala Kapolri
- Kasus ISPA di Meranti Capai 6.825 Kasus, Dinkes Minta Warga Waspadai Dampak Kabut Asap
Perubahan Iklim Dan Penurunan Muka Tanah Picu Banjir Di Jawa Tengah

Jakarta, VokalOnline.Com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan kombinasi perubahan iklim dan penurunan muka tanah menjadi faktor pemicu banjir rob di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Rita Susilawati dalam konferensi pers yang dipantau di Jakarta, Selasa menjelaskan penurunan muka tanah tersebut lebih disebabkan karena karakteristik tanah maupun bebatuan akibat konsolidasi alamiah.
Mengenai pengaruh penurunan muka tanah, menurut dia, karena pengambilan air tanah secara kasus per kasus berbeda-beda, sehingga masih membutuhkan studi komprehensif.
Berdasarkan data Badan Geologi, karakteristik geologi di daerah Pekalongan, Semarang dan Demak, sebagian besar disusun oleh endapan tanah lunak yang biasanya memang berpotensi terjadinya penurunan muka tanah.
"Dari 30 titik lokasi banjir rob itu tanah lunak bebatuan aluvial berumur muda, sehingga belum terkonsolidasi," ujar Rita.
Banjir rob atau air pasang yang merendam daratan dengan ketinggian dua meter lebih melanda kawasan pesisir di Jawa Tengah, seperti Semarang, Rembang, Pati, Demak, Pekalongan hingga Tegal.
Peristiwa bencana alam itu merendam ribuan rumah dan sempat melumpuhkan aktivitas perekonomian masyarakat.
Sekretaris Badan Geologi Ediar Usman menyampaikan pembangunan dan pemanfaatan lahan di Pantai Utara Jawa Tengah saat ini terletak pada sedimen-sedimen yang belum terkonsolidasi.
Namun, katanya, pada kawasan tersebut, seperti permukiman, maka penurunan muka tanah akan lebih cepat karena ada beban di atas tanah tersebut yang menyebabkan terjadinya pemadatan yang lebih cepat.
"Apabila mengalami sedimentasi, maka akan terjadi konsolidasi pemadatan. Apabila ada beban di atasnya, maka tentu saja ini akan mempercepat pemadatan dan terjadi penurunan tanah. Setelah terjadi penurunan, maka air laut saat pasang atau gelombang tinggi naik ke lahan tersebut," kata Ediar.
Lebih lanjut ia berpesan agar pembangunan kota yang berada di kawasan pesisir harus dilakukan dengan sistem rekayasa ataupun desain pembangunan yang lebih teliti, lantaran tanah yang belum terkonsolidasi, terutama endapan aluvium, rawa, danau dan lain sebagainya. **Fira
Berita Terkait :
- Polisi Amankan Empat Remaja Pelaku \"Klitih\" Di Bantul0
- Kejagung Tetapkan 6 Tersangka Korporasi Pada Dugaan Korupsi Impor Besi0
- Akhirnya Suporter Sepak Bola Indonesia Hadir Lagi Di Stadion0
- Penerbangan Umrah Di Bandara Soekarno-Hatta Terus Naik0
- Polda Jabar Perintahkan Tembak Di Tempat Geng Motor Ganggu Keamanan0
_Black11.png)








