- Kasus ISPA di Meranti Capai 6.825 Kasus, Dinkes Minta Warga Waspadai Dampak Kabut Asap
- Cegah Masalah Hukum, Pemkab Meranti dan Kejari Ingatkan Kades Tertib Kelola Dana Desa
- Pemkab Meranti Bahas Isu LGBT, Fokus pada Pencegahan dan Pemetaan Titik Rawan
- Hendry Munief Bedah Program Mitra Komisi VII DPR RI saat Bimteknas DPP PKS se-Indonesia
- Persiapan Capai 99 Persen, Kejuaraan Karate GDR Championship Siap Digelar di Pekanbaru
- Gus Muhaimin Ungkap Kegelisahan saat Sowan UAS: Perpecahan Umat Tak Hasilkan Apa-Apa
- DPRD Pekanbaru Dukung Pelebaran Jalan HR Subrantas,
- KNARA Adukan PT SBP ke Komnas HAM RI, Dugaan Perusakan Kebun dan Kriminalisasi Petani Disorot
- Saran untuk Kapolda Riau yang Baru; Untuk Dihormati Tegakkan Keadilan
- RAPP dan Masyarakat Perkuat Kebersamaan melalui Founders Day 2026
Kasus ISPA di Meranti Capai 6.825 Kasus, Dinkes Minta Warga Waspadai Dampak Kabut Asap

MERANTI, VokalOnline.Com - Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi kualitas udara yang dipengaruhi kabut asap dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan laporan NAR, tercatat 6.825 kasus ISPA di Kabupaten Kepulauan Meranti selama periode Januari hingga Juli 2026. Kasus tersebut mencakup seluruh kelompok umur, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Sementara itu, data harian Dinas Kesehatan per 21 Oktober 2026 menunjukkan terdapat 58 kasus ISPA yang tersebar di sejumlah wilayah kerja puskesmas. Kasus terbanyak tercatat di Puskesmas Selatpanjang sebanyak 19 kasus, disusul Alahair 11 kasus dan Tanjung Samak 10 kasus.
Berdasarkan kelompok umur, kasus harian tersebut paling banyak ditemukan pada kelompok dewasa usia 19–59 tahun dengan 28 kasus. Berikutnya balita sebanyak 10 kasus, lansia 9 kasus, remaja 6 kasus dan anak-anak 5 kasus.
Data tren harian juga menunjukkan kasus ISPA mengalami fluktuasi. Pada periode pencatatan tersebut, kasus tertinggi mencapai 125 kasus pada 20 Oktober, kemudian turun menjadi 81 kasus dan kembali menjadi 58 kasus pada 21 Oktober.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti Ade Suhartian, SH., MM, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Widya Nengsih, SKM, mengatakan pihaknya tidak dapat memastikan berapa lama kondisi kabut asap maupun dampaknya akan berlangsung.
“Berapa lamanya itu kita tidak bisa perkirakan, karena ini kan cuaca dan lingkungan,” kata Widya.
Menurutnya, keberadaan titik api di sekitar wilayah Meranti maupun asap kiriman berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, Dinas Kesehatan telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan.
“Ketika ada kabut asap atau ketika udara tidak bagus, kurangi aktivitas di luar dan gunakan masker,” ujarnya.
Widya menjelaskan, karhutla dapat menimbulkan sejumlah dampak kesehatan, di antaranya ISPA dan iritasi. Karena itu, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Sejak kondisi mulai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, Dinas Kesehatan telah meminta seluruh puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, baik di dalam maupun di luar gedung. Edukasi juga dilakukan melalui media sosial, penyuluhan kelompok, serta berbagai kegiatan promosi kesehatan.
“Dari awal ketika sudah mulai ada, kami sudah mengimbau seluruh puskesmas, lewat puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, baik di dalam maupun di luar gedung,” jelasnya.
Selain edukasi, pembagian masker juga telah dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat terhadap paparan asap dan kualitas udara yang kurang baik.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan agar memperkuat pemantauan dan pelaporan kasus ISPA secara lengkap, tepat waktu dan berkesinambungan. Jika ditemukan peningkatan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB), fasilitas kesehatan diminta segera melakukan pelaporan melalui sistem surveilans berbasis kejadian.
Masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta menggunakan masker ketika sakit maupun saat berada di tempat ramai.
Warga yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, seperti batuk, pilek atau demam, terutama yang memiliki faktor risiko, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Yang harus masyarakat lakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan menghindari dampak karhutla seperti ISPA dan iritasi, dengan upaya-upaya pencegahan yang sudah diberikan,” pungkas Widya.(Bom)
Berita Terkait :
- Polisi Tembak Penampung Narkoba dari Malaysia di Bengkalis0
- Kompol YC Inisiator Pembeli Sabu Untuk Temannya0
- Kepala BPKAD Kuansing Bebas Dari Status Tersangka Korupsi0
- Kompol YC Hisap Sabu di Belakang Rumah Dinas Wakil Gubernur Riau0
- Polda Riau Bongkar Penambangan Ilegal di Hutan Produksi Rokan Hilir0
_Black11.png)








