- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
- Walikota Pimpin Upacara HUT Kota Dumai ke-27, Soroti Program Unggulan
- Pesan Menteri Nusron untuk Jajaran di Riau: Pemimpin Harus Memudahkan Pelayanan bagi Masyarakat
- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
Petani Sawit Kopsa-M Stempel Darah di Atas Tanda Tangan
Tuntut Hak ke Anthony Hamzah

Petani sawit anggota Kopsa-M buat tanda tangan dan dikasih cap darah untuk menuntut hak yang sudah lama tak dibayarkan Anthony Hamzah. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Satu persatu dari ratusan anggota Koperasi Sawit Makmur (Kopsa-M) membubuhkan tanda tangan di sehelai kain putih di depan Balai Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Di bagian atas kain tertulis "Pulanglah Anthony".
Bukan meminta dosen di Universitas Riau itu kembali mengurus koperasi, melainkan anggota menagih hak mereka yang sudah lama tak dibayarkan. Pasalnya di kain itu masih ada tulisan lain "Bayarkan Hak Kami".
Selain tanda tangan, petani sawit anggota Kopsa-M ini menempelkan darah di kain tersebut. Ini sebagai gambaran jeritan hati karena kepayahan menyambung hidup akibat kebun tak terurus serta hasil panen tak pernah dibayarkan.
Hal serupa sebelumnya juga dirasakan oleh puluhan pekerja sawit di Kopsa-M. Namun kini mereka sudah bisa menghela napas karena mendapat talangan dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V Rp233 juta lebih.
Kini, anggota Kopsa-M (petani bukan pekerja) juga berharap serupa dan sudah mendapat sinyal bantuan dari perusahaan perkebunan milik negara itu. Puluhan anggota sudah datang ke balai itu membawa kartu anggota dan mendaftar mendapatkan talangan serupa.
Pengakuan petani sawit anggota Kopsa-M, sudah lama mereka tidak menerima haknya. Uang pembayaran sudah ada tapi tertahan di rekening Anthony dan dirinya tak mau mencairkan.
Anggota sudah berusaha menemui Anthony, bahkan sampai ke rumahnya di Pekanbaru, tapi tak pernah berhasil. Bendahara Kopsa-M bahkan juga ditemui tapi mengaku sudah mengundurkan diri.
Tak dapat dipungkiri, kini memang terjadi konflik internal di Kopsa-M. Anthony sudah tidak diakui lagi sebagai ketua karena anggota melakukan rapat anggota luar biasa (RALB).
Anggota Kopsa-M, Muhammad Rifai, menyebut Anthony tidak pernah menyajikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) sejak tahun 2019.
"Kami akan meminta jasa auditor eksternal untuk membongkar yang kalian sembunyikan," kata Rifai bersama ratusan anggota Kopsa-M lainnya di bala desa itu, Minggu siang, 7 November 2021.
Sementara itu, Kepala Desa Pangkalan Baru, Yusry Erwin menjelaskan, keadaan di Kopsa-M membuat kebun plasma yang bermitra dengan PTPN V tidak terurus. Begitu juga dengan gaji dan hak-hak anggota lainnya.
"Bahkan ada petani yang ingin mencuri berondolan sawit untuk menyambung hidup," kata Yusry.
Yusry menjelaskan, Anthony menjadi ketua pada tahun 2016. Entah bagaimana prosesnya Anthony duduk karena dirinya tidak berdomisili di desa dan masuk sebagai anggota luar biasa.
"Dia tidak terdaftar di SHM, setelah itu (beberapa tahun kemudian) dia tidak pernah ke sini lagi sehingga mengabaikan semua tanggungjawabnya," kata Yusry.
Kealpaan Anthony membuat pekerjaan kebun tidak terurus. Petani juga sulit masuk ke kebun karena ada sejumlah parit penghalang yang baru saja digali orang tak bertanggung jawab.
"Ada juga jalan yang digali, dia ingin desa ini kacau," kata Yusry.
Sejak konflik kepengurusan ini, Yusry sering mencarikan solusi. Anthony juga diundang tapi tidak pernah datang bahkan belakangan menghembuskan berbagai isu terhadap Yusry.
"Sangat sedih saya, sebagai kepala desa sering dilaporkan ke penegak hukum tentang pembangunan di desa ini," terang Yusry.
Yusry menjelaskan, Kopsa-M punya 1.650 hektare lahan. Sementara anggotanya ada 825 kepala keluarga dan bermitra dengan PTPN V sebagai bapak angkatan (kebun plasma).
Dengan ini, Yusry sekaligus membantah PTPN V merampas ribuan hektare ratusan warga di sana. Pasalnya selama ini PTPN V menampung hasil panen karena kemitraan tadi.
"Bahkan saat pekerja Kopsa-M tidak gajian, ada dana talangan sementara yang masih sebagai ketua koperasi malah tidak pernah kelihatan," jelas Yusry.
Yusry menyebut saat ini Kopsa-M punya hutang ke Bank Mandiri. Ada kewajiban membayar angsuran setiap bulan tapi tidak pernah dilakukan pengurus Kopsa-M versi lama.
"PTPN V saat ini yang membayar, membantu hutang koperasi," kata Yusry.
Yusry berharap pengurus lama Kopsa-M segera menyelesaikan hak pekerja dan petani anggota. Pasalnya jabatan Anthony sesuai dengan periodenya tinggal satu bulan lagi.
"Datanglah ke sini, bayarkan hak petani," jelas Yusry.
Sementara itu, Anthony Hamzah sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. Dia bahkan sudah dua kali mangkir dipanggil oleh polisi terkait status tersangkanya dalam perkara penyerangan karyawan PT Langgam Harmuni. (syu)
Berita Terkait :
- Bukannya Dilindungi, Sejumlah Oknum Dosen Malah Intimidasi Mahasiswi0
- BEM Unri Kawal Ketat Dugaan Pelecehan Mahasiswi oleh Dosen0
- Polisi Tangkap Pembantu Rumah Tangga Live Bugil di Kediaman Majikan0
- Mahasiswi Universitas Riau Ngaku Dilecehkan Dosen Lapor Polresta Pekanbaru0
- Kejati Riau Tangkap Buron Terpidana Kejahatan Perbankan BPR 0
_Black11.png)









