- Pramuka Bengkalis Masa Bakti 2025–2030 Resmi dikukuhkan Bupati Bengkalis
- Bupati Bengkalis Menyambut Audiensi PGRI Kabupaten Bengkalis
- Bupati Bengkalis Menghadiri Pelantikan PC PMII Kabupaten Bengkalis
- Bhabinkamtibmas Turun ke Lahan, Pantau Jagung Pipil di Desa Aur Cina
- Disinyalir Rit dan AR Bebas Menggarap Hutan di Sungai Sembilan Tanpa Izin
- Petani Diusir dan Diancam Parang, Kasus Pengrusakan Kebun di Sungai Raya Dilaporkan ke Polisi
- Jaga Ketahanan Pagan Nasional Polsek Merbau Sembang Pertenak Sapi
- PWMOI Riau Hadiri Pelantikan DPW PWMOI Kepri, Besarkan PWMOI Di Pulau Sumatera
- Peringati HUT ke-15, GRIB Jaya Meranti Gelar Reboisasi Mangrove dan Bansos untuk Warga Pesisir
- Wabup Muzamil Instruksikan OPD Segera Tindak Lanjuti Catatan Strategis DPRD
Asrafaber: Penolakan Bank Syariah Karena Alasan Politis

Anggota Komisi III DPRD Sumbar, Drs H Asrafaber MM
Pekanbaru, VokalOnline.Com - Penolakan konversi Bank Nagari Sumatera Barat (Sumbar) dari konvensional menjadi Bank Syariah, oleh 9 kabupaten/kota, hanya karena alasan politis.
Anggota Komisi III DPRD Sumbar, Drs H Asrafaber MM, kepada wartawan di DPRD Riau pekan lalu mengatakan, 9 kabupaten yang menolak konversi itu, menganggap Bank syariah ini hanya maunya gubernur Sumbar, bukan keinginan masyarakat.
Dijelaskan Asrafaber yang melakukan studi banding ke DPRD Riau bersama 13 Anggota DPRD Sumbar lainnya, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansyarullah memang berasal dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera). 'Jadi mereka anggap ini program PKS. Padahal ini nyata untuk kemaslahatan rakyat Sumbar," katanya.
Selain itu, jelasnya, program Syariah ini sudah sejalan dengan falsafah Sumbar; Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dan masyarakat sudah menggagas Bank Syariah ini sejak 2005. Artinya, keinginan ini sudah berjalan 17 tahun, jauh sebelum Mahyeldi jadi Gubernur Sumatera Barat.
Juga, sebut alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi ini, konversi ke Bank Syariah akan sangat membantu masyarakat dari beban pinjaman. Mereka akan sangat terbantu untuk urusan bunga dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut masalah syariah.
Menjawab mengenai, mana banyak daerah yang mendukung atau menolak, kata Asrafaber, lebih banyak yang mendukung. Hanya saja, saham dan dukungan 9 kabupaten itu sangat diperlukan. Bank syariah bisa saja berjalan jika Pemrov Sumatera Barat memiliki 51 persen saham.
"Sejauh ini, dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, 10 kabupaten sudah mendukung, termasuk Pemprov Sumbar. Tapi mayoritas dukungan saja tidak cukup, karena masalah dukungan saham," kata mantan Kamenag di tiga kabupaten/kota di Sumbar ini.
Ditambahkannya, dalam salah satu PP nomor 54 tahun 2017 dan UU tahun 2014, dijelaskan bahwa Pemprov Sumbar harus memiliki saham 51 persen agar bisa melakukan konversi Bank Nagari menjadi syariah. Sedang saham Pemprov Sumbar saat ini hanya 31 persen lebih
"Artinya penyertaan modal yang harus diberikan Pemprov Sumbar mencapai Rp900 miliar lebih. Sedang tahun ini penyertaan modal yang diusulkan hanya Rp20 miliar," kata Alumni IAIN Imambonjol Padang ini.
Sejauh ini, katanya, baru beberapa kepala daerah yang menyetujui pengelolaan kas daerah jika Bank Nagari menjadi Bank Syariah. Mereka adalah Pemprov Sumbar, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Solok, Sawahlunto dan Kota Padang Panjang. Yang lainnya sudah menyatakan menolak dan ada pula yang menyatakan menurut saja mana yang baik.
Di sisi lain, Asrafaber memuji sikap dan kerja keras Gubernur Riau, Syamsuar, beserta kabupaten/kota di Riau yang mewujudkan Bank Riau Kepri (BRK) menjadi Bank Syariah dalam waktu yang tidak terlalu lama.
"Riau hanya butuh waktu 5 tahun mengkonversi BRK menjadi Bank Syariah. Tapi kami di Sumbar sudah berjuang 17 tahun, namun tetap belum terwujud. Karena itulah kami studi banding ke Riau," sebut Asrafaber mengakhiri. ***Vol
Berita Terkait :
- Asisten Intelijen Kejati Beri Masukan Dalam Rakor Inflasi Riau0
- Mahasiswa Balas Tudingan Moeldoko soal Demo BBM Bela Orang Kaya0
- Kemenkeu Perkirakan Garuda Indonesia Akan Mencatatkan Laba Mulai 20220
- Bandara Kualanamu Layak Jadi Penghubung Di Indonesia Wilayah Barat0
- Bantul Tanam Tembakau Seluas 40 Hektare Untuk Bahan Baku Cerutu0
_Black11.png)









