- JMSI Inhu Kirim Tiga Pengurus Ikuti Uji Kompetensi Wartawan di UIR Pekanbaru
- RAPP Dukung Upaya Pencegahan Karhutla Siak
- Akses Masyarakat Jadi Prioritas, RAPP Dukung Perbaikan Jalan di Segati dan Langgam
- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Dorong Pelindungan Kekayaan Intelektual UMKM Binaan
- Kolaborasi Dinas Kesehatan dan PT RAPP Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Riau
- Dukung Pelestarian Pesisir, RAPP Tanam 2.000 Mangrove di Desa Bagan Melibur
- RAPP Perkuat Upaya Pelestarian Mangrove di Kepulauan Meranti
- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual, Dorong Produk Lokal Naik Kelas
- Inhu Expo 2026 Jadi Panggung UMKM dan Kreativitas Generasi Muda, Resmi Ditutup Wabup Hendrizal
- Rakerda KORMI Dibuka Wako
Benarkah Omicron Bergejala Lebih Ringan, tetapi Lebih Berbahaya Dibanding Delta?

Virus Coronoa Variant Omicron
JAKARTA, (Vokalonline.com) - Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menegaskan, virus SARS-Cov-2 varian Omicron memang tidak menimbulkan penyakit Covid-19 seberat varian Delta. Meski demikian, virus ini tetap berbahaya. Bahkan, tak bisa dipungkiri, varian Omicron juga menimbulkan gejala penyakit berat bagi beberapa kelompok hingga menyebabkan kasus kematian. "Spektrum penyakit akibat Omicron luas, sebagian besar orang tanpa gejala. Namun, ada sebagian yang berat yang harus dirawat di rumah sakit dan beberapa meninggal," ujar Zubairi . Melansir dari Halaman Kompas.com, Minggu (6/2/2022). Zubairi menjelaskan, bahaya varian Omicron tercermin dari lonjakan jumlah kasus harian yang terjadi sejak pertengahan Januari 2022 lalu.
Pada 2 Januari 2022, jumlah kasus harian Covid-19 sebanyak 174, jumlah tersebut meningkat menjadi 850 kasus baru per 14 Januari dan menjadi 1.054 kasus baru per 15 Januari. Memasuki Februari, Indonesia mencatatkan 16.021 kasus Covid-19 baru secara harian per 2 Februari. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 33.729 kasus baru hanya dalam satu hari. "Terakhir angka kematian 44 kasus kemarin. Jadi nggak main-main. Tidak benar, Omicron ringan. Tidak benar Omicron tidak bisa masuk rumah sakit, tidak benar Omicron tidak menyebabkan kematian," kata Zubairi. Ia menjelaskan, pada dasarnya setiap virus memang berevolusi sepanjang waktu, hal inilah yang disebut dengan mutasi. Namun demikian, sebagian besar mutasi virus ini tidak memengaruhi kemampuan infeksi dan tingkat kegawatan penyakit.
Pada Omicron, Zubairi menjelaskan, risiko gejala berat pada pasien Covid-19 varian Omicron terjadi bila orang yang terinfeksi memiliki penyakit bawaan atau komorbid, seperti kanker, HIV, atau tiberculosis (TB), serta penyakit bawaan lain. Selain itu, risiko gejala berat juga terjadi pada orang dengan usia lanjut atau belum vaksinasi. Ia pun mengatakan, saat ini varian Omicron telah menyebabkan klaster-klaster baru di tingkat perkantoran hingga sekolah. "Saat ini Omicron telah menyebabkan klaster-klaster siswa sekolah, kemudian DPR, KPK. Dalam beberapa hari ini, teman-teman saya satu angkatan, grup saudara, mulai tertular satu per satu, kemudian beberapa hari kemudian seluruh keluarga terinfeksi juga, jadi cerita-cerita ini sudah mulai banyak," ujar Zubairi.**Vol/Ivn
Berita Terkait :
- Bejat, Pimpinan Ponpes di Mamuju Diduga Cabuli 7 Santrinya0
- Pedagang Gorengan Di Pasar Banyumas Terancam Gulung Tikar0
- Kasus Covid-19 Bertambah 33.729 Hari Ini, DKI Jakarta Penyumbang Terbanyak0
- Kemenkes Coret 5 Obat Covid dari Daftar Paket0
- Ganjar Pranowo Mengalami Kecelakaan dan Dilarikan ke Rumah Sakit0
_Black11.png)









