- HUT JMSI ke-6 di Inhu, Sekda Zulfahmi: JMSI Mitra Strategis Pemerintah Daerah
- Puncak Musim Kemarau,Ketua forum komunikasi RT_RW kabupaten Meranti Masyarakat Waspadai Kebakaran
- Lima Oknum Personel Positif Narkoba AKBP Aldi : Saya Tegaskan Tak Toleransi Terhadap Lima Oknum
- Batam Harus Siap Jadi Alternatif Terbaik di Tengah Pelemahan Ekonomi Singapura
- Upacara Bulan K3 Nasional 2026, RAPP Perkuat Komitmen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
- Menghadapi Tekanan Eksternal: Bagaimana Industri Tekstil Indonesia Bisa Kembali Unggul
- Ketua APPSI Inhil Sampaikan Keluhan dan Pertanyaan Soal Kendala Perkebunan Sawit pada Diskusi Publik
- Hari Pers Nasional 2026, Pakar UPER Tekankan Pentingnya Profesionalisme dan Independensi Pers
- Anggota DPR RI Hendry Munief Silaturahmi dengan Ratusan Tokoh Siak: Bahas Berbagai Hal
- Siswa SMKN 1 Rengat Barat Kini Dapat Belajar Lebih Optimal dengan Ruang Praktik Baru
Harta Karun Yang Mulai Tergali
Oleh Doddi Ahmad Fauji

Doddi Ahmad Fauzi
VokalOnline.Com - SEBELUM internet booming semeriah saat ini, media massa cetak macam koran, tabloid, majalah, adalah jendela informasi dan pengetahuan terdepan. Bukan berarti media massa elektronik macam TV dan radio tidak ikut membuka jendela, tapi informasi dari TV dan radio tidak terjangkau oleh banyak kalangan. Tentu media massa cetak juga tidak terjangkau oleh banyak kalangan, namun material ini lebih mudah didokumentasikan dalam bentuk kliping, dan mudah diperbanyak dengan cara di-copy, jika ada yang membutuhkannya. Media massa elektronik juga bisa didokumentasikan, tapi termasuk mahal biaya pengerjaannya.
Bagi para peneliti akademik dan sejarawan, dokumentasi media massa cetak adalah babon (bahan) paling berharga. Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Jakarta misalnya, telah dikunjungi oleh para peneliti bahkan dari luar negeri, untuk menyusun skripsi, tesis, hingga disertasi dalam bidang sastra, seni, dan budaya. Keberadaan PDS Jassin terselamatkan karena kebijakan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, yang menyadari betapa pentingnya dokumentasi cetak, hingga PDS Jassin diberi ruang di Kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Para dokumentator di luar Jakarta, dapatkah memperoleh nasib semujur PDS Jassin? Meski, untuk ukuran negara besar Indonesia, fasilitas yang disediakan PDS Jassin pun tergolong kecil. Sangat kecil anggarannya.
Para dokumentator media massa ini tergolong manusia langka, karena selain butuh peminatan khusus, kesadaran tinggi, juga butuh biaya untuk pengadaan materi dan perawatannya. Karena itu, manusia langka seperti ini, patut diapresiasi bukan saja oleh para peneliti, tapi oleh semua stake-holder yang berkaitan dengannya, seperti Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten/Kota dan provinsi, perguruan tinggi, sekolah, perusahaan informasi.
Di era booming internet ini, tiba-tiba muncul postingan lewat FB awalnya, koleksi media massa cetak macam koran, majalah, bulletin, poster, flyer, dll. Salah seorang yang rajin memposting koleksinya itu adalah *Kin Sanubary*, yang tinggal di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Saya termasuk orang yang di-tag dalam postingan Kin, yang mengabarkan saya ternyata pernah menulis soal urgensi dakwah lewat karya seni. Tulisan dimuat pada Tabloid Salam, terbit tahun 1996. Tentu tag tersebut sangat menggembirakan, karena koleksi kliping saya hancur babak belur dihantam banjir bandang kota Jakarta pada 2002, dan sebagiannya tercecer dipinjam sana sini, dan tentu tak kembali. **Fira
Berita Terkait :
- Semalam di Melaka Malaysia, Negeri Bersejarah Warisan Dunia0
- Ketua MKA LAMR: Jika Mubes Dipercepat Dilaksanakan, Itu Tidak Sesuai Ketentuan0
- Suara Melenial Memandang Politik Kekinian0
- Jejak Digital Rachmat Gobel0
- Memaknai Serangan Umum 1 Maret melalui Seni 0
_Black11.png)









