- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Kanada Selidiki Kantor Polisi China Buntut Dugaan Campur Tangan

VokalOnline.Com-- Polisi Kanada menyelidiki laporan terkait 'kantor polisi China' yang beroperasi di Greater Toronto Area buntut dugaan campur tangan Beijing di negara itu.
"Tujuan kami adalah untuk mencegah intimidasi, ancaman dan pelecehan serta segala bentuk kerusakan yang dimulai atas nama entitas asing yang diterapkan pada komunitas manapun di Kanada," demikian pernyataan Angkatan Kepolisian Kerajaan Kanada (RCMP) seperti dikutip Reuters, Rabu (23/11).
Penyelidikan ini dilakukan setelah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Eropa, Safeguards Defenders, melaporkan pada September bahwa 'stasiun layanan polisi' China tersebar di kota-kota besar di seluruh dunia. Stasiun itu disebut dijalankan oleh sukarelawan lokal alih-alih polisi Tiongkok.
Stasiun itu ditujukan untuk membantu warga Tiongkok memperbarui dokumen dan menawarkan layanan masalah lain imbas pandemi Covid-19.
Menurut Safeguards Defenders, stasiun-stasiun itu merupakan perpanjangan dari upaya Beijing menekan beberapa warga negara China atau kerabat mereka di luar negeri agar kembali ke Beijing untuk menghadapi jerat pidana.
Stasiun itu juga ditengarai berkaitan dengan kegiatan Departemen Pekerjaan Front Bersatu China, sebuah badan Partai Komunis yang bertugas menyebarkan pengaruh dan propaganda ke luar negeri. Namun China membantah hal tersebut.
Kedutaan China di Ottawa sejauh ini belum menanggapi hal ini.
Selain Kanda, sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat hingga Belanda juga pelakukan penyelidikan terkait stasiun tersebut.
Hubungan Kanada dan China sendiri sudah memanas selama beberapa tahun terakhir. Ketegangan kedua negara baru-baru ini bahkan disorot setelah Presiden China Xi Jinping 'marah' ke Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau karena pembicaraan tertutup mereka bocor ke media.
China saat itu membantah bahwa Xi memarahi Trudeau atas bocornya pembicaraan mereka. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing mendukung pertukaran yang jujur selama pembicaraan berlangsung atas dasar kesetaraan.
Ia juga mengatakan China bakal mengambil tindakan untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Kanada.
"Video yang Anda sebutkan itu memang percakapan singkat yang dilakukan kedua pemimpin selama KTT G20. Ini sangat normal. Saya kira itu tak boleh diartikan bahwa pemimpin Xi mengkritik atau menuduh siapa pun," kata Mao, seperti dikutip Reuters, Kamis (17/11).**Syafira
Berita Terkait :
- Iran Kian Dekat Bikin Bom Nuklir, AS-Israel Ketar-ketir0
- Taliban Hukum Cambuk Belasan Warga Afghanistan0
- Warga Jepang Berhemat, Menjerit Harga-harga Meroket akibat Inflasi0
- Aktivis Islam Kecam Zakir Naik di Piala Dunia hingga Saudi Pesta Bola0
- PM Israel Netanyahu Ikut Girang Arab Saudi Tekuk Argentina0
_Black11.png)









