- Dukung Program MBG, SPPG Pematang Reba 02 Ikuti Peresmian Serentak 980 SPPG
- 320 Posyandu Diperkuat, RAPP Bekali Ribuan Kader dengan Edukasi Kesehatan dan Gizi di Riau
- Merawat Silaturahmi, Menguatkan Kontribusi: IKA Unri RAPP Punya Nahkoda Baru
- Alam Cahayo Tuah Nagoghi dan Sari Jadi Gementar Alam Melaju ke Final Pacu Jalur 2026
- Dari Konflik Menuju Kolaborasi, RAPP dan Petani Beruk Sepakati Pengelolaan Lahan yang Kondusif
- Cegah Kabut Asap Makin Tebal Polsek Tebing Tinggi Bagikan Masker kepada Masyarakat
- Tradisi Penghormatan Polri, Welcome and Farewell Parade Tandai Pergantian Kapolda Riau
- DPRD Meranti Panggil Sejumlah OPD, Bahas Persoalan Pergaulan Remaja dan Perlindungan Anak
- Siompu Kampar Riau Tampilkan Parade Manjujuong Dulang dan Baju Bakuduong
- H. Ian Machyar Terpilih Aklamasi sebagai Ketua BPC Perhumas Pekanbaru Periode 2026-2029
Kemenkes: 14 Pasien Gagal Ginjal Akut Masih Dirawat di RSCM

Jakarta, VokalOnline.Com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan 14 pasien gagal ginjal akut progresif atipikal yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo atau RSCM Jakarta
Total pasien gagal ginjal akut di Indonesia mencapai 324 orang. Dari jumlah itu, 111 orang telah sembuh, 199 orang meninggal dunia, dan 14 orang pasien masih dirawat.
"Jadi ada 14 orang yang masih dirawat, ada di RSCM. Seperti yang saya sampaikan tadi, dia masuk kategori stadium tiga, berarti memang kerusakan ginjalnya cukup parah dengan kondisi-kondisi yang lain," kata Syahril Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril dalam konferensi pers, Rabu (16/11).
Syahril mengklaim kasus gagal ginjal akut mulai melandai sejak Kemenkes mengambil langkah konservatif dengan menyetop seluruh penggunaan obat sirop pada 18 Oktober lalu. Selain itu para pasien diberikan obat antidotum dengan merek Fomepizole.
"Kita sangat bersyukur dalam dua minggu terakhir ini, kasus di tanah air jumlahnya tidak bertambah ya," ujarnya.
Kendati demikian, Syahril tetap meminta seluruh pihak untuk waspada. Ia mewanti-wanti agar orang tua lebih waspada dengan terus memantau jumlah dan warna urin yang pekat atau kecoklatan pada anak.
Apabila urine berkurang atau berjumlah kurang dari 0,5ml/kgBB/jam dalam 6-12 jam atau tidak ada urine selama 6-8 jam, maka pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Selanjutnya, pihak rumah sakit diminta melakukan pemeriksaan fungsi ginjal yakni ureum dan kreatinin.
Apabila hasil fungsi ginjal menunjukkan adanya peningkatan, maka dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, evaluasi kemungkinan etiologi dan komplikasi.**Syafira
Berita Terkait :
- Deklarasi G20 Disahkan, Kompak Desak Rusia Angkat Kaki dari Ukraina0
- Erdogan soal Rudal Hantam Polandia: Hormati Rusia, Perlu Investigasi0
- Polisi Telusuri Aliran Dana Penjualan Mobil Keluarga Tewas Kalideres0
- 2 Anggota TNI Kaltara Aniaya Junior hingga Tewas Jadi Tersangka0
- G7-NATO Kutuk Serangan Biadab Rudal Rusia ke Ukraina saat KTT G200
_Black11.png)








