Breaking News
- RAPP Dukung Upaya Pencegahan Karhutla Siak
- Akses Masyarakat Jadi Prioritas, RAPP Dukung Perbaikan Jalan di Segati dan Langgam
- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Dorong Pelindungan Kekayaan Intelektual UMKM Binaan
- Kolaborasi Dinas Kesehatan dan PT RAPP Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Riau
- Dukung Pelestarian Pesisir, RAPP Tanam 2.000 Mangrove di Desa Bagan Melibur
- RAPP Perkuat Upaya Pelestarian Mangrove di Kepulauan Meranti
- Kemenkum Riau Gandeng RAPP Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual, Dorong Produk Lokal Naik Kelas
- Inhu Expo 2026 Jadi Panggung UMKM dan Kreativitas Generasi Muda, Resmi Ditutup Wabup Hendrizal
- Rakerda KORMI Dibuka Wako
- Dukung Generasi Bebas Stunting, Agrinas Palma Nusantara Salurkan Bantuan Susu di Rohil
Krisis Pangan Sri Lanka Makin Jadi, Petani Didesak Tanam Padi

Jakarta, VokalOnline.Com - Pemerintah Sri Lanka mendesak petani untuk menanam padi selama lima sampai sepuluh hari ke depan. Hal ini dilakukan untuk mengatasi krisis pangan yang dialami negara itu.
Kekurangan pangan ini terjadi saat Sri Lanka tengah mengalami krisis ekonomi terburuk selama lebih dari 70 tahun. Krisis ini membuat negara itu kekurangan bahan pokok makanan hingga inflasi melonjak dengan harga naik ke rekor tertinggi.
Desakan untuk petani menanam padi sesegera mungkin disampaikan oleh Menteri Pertanian Sri Lanka, Mahinda Amaraweera. Ia mengatakan saat ini situasi krisis pangan menjadi lebih buruk.
"Kami meminta semua petani untuk masuk ke ladang mereka dalam lima hingga sepuluh hari ke depan dan menanam padi," katanya, dikutip dari BBC, Kamis (2/6/2022).
Pejabat Sri Lanka juga telah mencari cara untuk meningkatkan produksi pangan. Salah satunya meminta bantuan dari bank makanan yang merupakan program dari Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Regional (South Asian Association for Regional Cooperation/SAARC).
SAARC sendiri telah memasok beras dan barang-barang lainnya ke negara-negara yang membutuhkan. Komisaris Departemen Makanan Sri Lanka J Krishnamoorthy mengatakan pihaknya sudah mulai proses meminta bantuan kepada SAARC.
Menurut, Krishnamoorthy Sri Lanka membutuhkan sekitar 100.000 metrik ton makanan dalam bentuk sumbangan atau penjualan bersubsidi.
Selain krisis pangan, Sri Lanka mengalami krisis obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya. Tingkat inflasi Sri Lanka naik ke rekor 39,1% pada Mei. Itu telah mencapai angka tertinggi dari sebelumnya 29,8% pada bulan April.
Tingginya inflasi menyebabkan masyarakat mengeluarkan uang lebih sedikit untuk berbelanja. Hal ini tentu berdampak kepada pendapatan negara.
Kemudian, pemerintah Sri Lanka memutuskan untuk menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 8% menjadi 12%. Selain itu, pajak perusahaan akan naik pada Oktober dari 24% menjadi 30%.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pemerintah sebesar 65 miliar rupee Sri Lanka atau US$ 179,9 juta. **Fira
Berita Terkait :
- IHSG Diperkirakan Bergerak Variatif Cenderung Melemah0
- INDONESIA Rupiah Melemah Jelang Rilis Data Inflasi Mei 20220
- Airlangga Apresiasi Dukungan Dan Kerja Sama Bilateral Dengan Singapura0
- BPK Temukan DKI Kelebihan Bayar Gaji Dan Belanja Barang Pada 20210
- Menkeu Sebut Anggaran Perlinsos Capai Rp441,3 Triliun Pada 20230
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









