Leumuria
Oleh Doddi Ahmad Fauji

Publisher Syafira Lacitra Amanda Opini
19 Jul 2022, 09:38:12 WIB
Leumuria

Doddi Ahmad Fauzi


VokalOnline.Com - Orang Inggris menyadari, tidak ada yang benar-benar baru di muka bumi ini, dan mereka membuat babasan (peribahasa) dengan bunyi: Nothing new under The Sun!

Menulis kata The, menggunakan huruf T kapital, dan dalam gramatika Inggris, bila the ditulis dengan T besar, itu artinya urgentif.

Ini menandakan, Sun yang dimaksud, diawali dengan The yang spesial, bahwa di sana terdapat simbol relijiusitas, bahwa Matahari adalah pralambang dari pencipta Matahari itu sendiri, yakni God.

Sikap orang Inggris dalam mengakui bahwa tidak ada yang benar-benar baru di muka bumi, sebab manusia hanya bisa merombak dan mengembangkan, energi tak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan dan manusia hanya bisa mengkonversi, menegaskan yén semua ide telah diciptakan Tuhan, dan menusia yang kreatif, akan mengembangkan ide tersebut.

Maka dari itu, saya berkali-kali sejak 2017 berujar, yén kesenian terbaik untuk masa kini dan ke depan ialah seni berkolaborasi (bekerjasama yang seimbang), hingga tercipta marwah sinergisitas (soliditas dan solidaritas). Ada yang berujar, kata sinergi itu ciptaan Tuhan, namun dibahasakan dengan fonemik atau fonetik yang berbeda, seperti di Sunda, sinergi ditulis dengan sinegér, dan akan dilanjutkan dengan kata tengah, lahirlah istilah sinegér tengah (berimbang).

Maka dalam kondisi dituntut untuk bisa sineger tengah itu, kompetisi tetap harus dijalankan dengan jujur dan adil, dan semangat silaturahmi batin juga harus ditingkatkan. Silaturahmi tidak cukup hanya bersalaman dan ‘pa’amprok jonghok’, seperti demonstran dan aparat, mereka paamprok (resiprokal) namun berjabatan fisik dengan batu dan peluru, atuh berakhir rusuh.

Maka kini, yang kerap menjadi mamala ialah, ketika mental megalomania masih dikembangkan, dikedepankan, dan menjadi latar untuk perjuangan yang dijalankannya. Ia menjadi ‘Yang Ter’ namun ditempuh dengan cara-cara akal bulus, dengan arogansi, dengan memperbudak manusia, sungguh itulah yang sering bikin ricuh. Punten misalnya, ingin dinobatkan sebagai sastrawan paling berpengaruh di Indonesia, kita lihat dampaknya, saling silang dan saling sikut antar-sastrawan, dan pergaulan antara sekian sastrawan jadi terganggu, antara yang pro dan kotra, hingga kini. Banggakah Anda?

Keingan menjadi Yang Ter adalah mental megalomania, dan itu merupakan titisan dari roh Firaun.

Kenapa Allah dalam Kitab Injil dan Quran menuturkan kedegilan Firaun, kemaruknya Yahudi, atau keberanian Musa? Tiada lain dan tiada bukan, selain ingin mengatakan yén mental-mental firaunisme, yudaisme, pun keberanian Musa, adalah bisa terjadi saat ini. Jika ada orang Islam keras kepala, jika ada orang Nasrani keras kepala, pun manusia lain dari ajaran lain keras kepala, pada dasarnya mereka sedang menjadi Yahudi secara ideologis, sedang menjadi Firaun. Maka terkutuklah manusia seperti itu. Ini kata Quran berdasarkan tafsir saya.

Berbondong-bondong manusia kini, bangga menjadi mahluk yang terkutuk. Nauudzubilahi min dalik.

Kesenian kedua di era kini ke depan, setelah kolaborasi sinergitas, adalah daur ulang. Seni mendaur ulang adalah tabiat manusia dari waktu ke waktu, disebabkan apa-apa yang disebut indah, apa-apa yang disebut kreatif, telah dicontohkan Tuhan melalui ayat-ayat Qouniyah (ciptaan). Bukanlkah Tuhan Maha Kreatif, seperti menciptakan 9 planet berbaris dan berbanjar mengelilingi Matahari? Adakah sebuah bangsa yang bisa menciptakan benda seperti bumi misalnya?

Bukankah Tuhan maha kreatif dan Maha Indah, yang telah menggelontorkan air di Sungai Niagara yang mengancam, yang di sana terdapat ikan piranha, dan barangsiapa yang nganclomkeun kaki, siap-siap saja tinggal tulang, karena dimakan oleh piranha.

Tuhan maha indah, telah meledakkan Gunung Jayagiri di Pulau Jawa, yang telah mencairkan es di kutub Antartika, hingga dataran tinggi Jawa, Kalimantan, Sumatra menjadi terpisah. Laut tempat pertemuan antara Jawa, Kalimantan, Sumatra, dulunya merupakan lembah yang disebut dengan Sunda Land, yang kemudian setelah terkerem air, Sunda Land disebut dengan Paparan Sunda (Indonesia) atau Pentas Sunda (Malaysia), dan atau Sunda Major (Belanda). Kalau kawasan kepulauan Bali dan Nusa Tenggara, disebutnya oleh Belanda dengan Sunda Minor (Sunda Kecil).

Maha Suci Tuhan yang membiarkan komodo hidup hanya di Pulau Komodo, NTT. Ialah mahluk yang lebih tua dari gajah, yang hidup di era dinosaurus, sangat juah sekali dari saat ketika Musa membacakan sumpah di Bukit Tursina. Komodo itu hanya ada di NTT, dan ini mesti menjadi bahan penelitian untuk mengemukan dugaan adanya ‘The Lost Atlantic’, atau malah The Lost Haeven (sorga yang hilang), Paparan Leumuria atau Sunda Land.

Maka kini, kalau ada seniman (calon) mempeributkan pola tuang yang katanya baru hasil gubahannya, kadang saya suka mesem-mesem. Puisi seperti patidusa atau kebalikannya, sonian, dll. sungguh itu tidak benar-benar baru. Pun Pentigraf dan sejenisnya, bila diperiksa ke dalam sejarah jaman baheula, apa yang disebut baru sekarang ini, beberapa di antaranya sudah dilakukan pada zaman Plato belajar menuliskan resume dari pidato Socrates.

Malah puisi pendek haiku yang disebut berasak dari Jepang, secara cocokologi di depan para Haijin yang berhimpun dalam Haikuku Indonesia pimpinan Diro Aritonang, saya katakan, jangan-jangan itu sudah digubah oleh Nabi Nuh, ketika mereka terapung di Maha Samudra, bertemu dengan kejenuhan yang sublim, akhirnya mencatatkan suasana yang mereka rasakan, yang kemudian dituliskan pada dinding baktera.

Ketika banjir reda, itu bahtera terdampat di Bugis, dan setelah berabad kemudian bahtera itu ditemukan, orang Bugis kemudian mencipta karya sastra, yaitu puisi dan prosa. Yang puisi, belum saya temukan referensi-nya, tapi kemudian di-ekspor ke Nagoya, dan orang Jepang meniru-nya, hingga lahir haiku. Yang prosa, mereka menuturkannya dalam cerita yang berjuluk I La Galigo, yang menurut Unesco, naskah tersebut merupakan paling kompleks di muka bumi, lebih seru dari Illiad karya Homeros, lebih panjang dari Ramayana atau Mahabarata dari India. Bahkan konon, ada pengakuan dari Abiyasa dan Valmiki, mereka hanya mencatatkan dongeng yang dikisahkan oleh para pelaut dari Timur (Timur-nya India adalah Nusantara). Memang dapat dilacak, dalam I La Galigo terdapat tokoh sentral yaitu Batara Guru, pun dalam Ramayana gubahan Valmiki atau Mahabarata gubahan Abiyasa, terdapat juga tokoh Betara Guru.

Puisi haiku itu bila ditinjau oleh syariat Islam, tampak sangat relijius karena mengandung simbol-simbol ke-Islaman. Pertama, haiku terdiri dari tiga larik, sebagai mana dalam jumlah ruas/buku ibu jari manusia untuk wirid, terdiri dari 3 ruas, atau salat Magrib, terdiri dari 3 rakaat.

Larik pertama terdiri dari 5 sukukata, sebagaimana rukun Islam terdiri dari lima rukun. Pada larik kedua terdiri dari tujuh sukukata, sebagaimana Tuhan menciptakan semesta dalam tujuh hari, langit dan bumi ada tujuh lapis, samudra dan benua juga tujuh, pun jumlah hari ada tujuh. Pada larik ketiga, kembali ada lima, menjadi petanda jadwal salat wajib itu ada lima. Bila sukukata dalam tiga larik itu digabung, melahirkan angka 17, di mana jumlah rakaat dalam solat wajib ada 17. Lalu ada dua larik yang terdiri dari lima sukukata, yaitu larik kesatu dan ketiga, menunjukkan bila 5+5 akan 10, sama dengan jumlah solat sunnat rowatib qobla dan ba’da yang berjumlah 10 rakaat.

Jadi, sangat mungkin Basho dari Jepang, tidak mencipta haiku, melainkan mengadopsi dari Haiku yang ditulis oleh Nuh dan pengikutnya di atas bahtera, ketika mereka berkelana ke nusa-nusa dua, untuk menanam kopi dan menurunkan gajah serta komodo di paparan Leumuria, atau mungkin The Lost Atlantic itu berada, dan atau mungkin, itulah The Lost Heaven, Sunda Land yang terkérem.

Akrostik dan anagram adalah puisi masa silam, bahkan pernah puisi disebut dengan istilah akrostik.

Ada pertanyaan, dari mana lahir istilah puisi? Di Indonesia, istilah puisi muncul belakangan, setelah istilah pantun eksis, juga setelah kata sanjak (gaya bahasa) digunakan duluan. Kata sanjak menjadi sajak. Dan, kini antara sajak dan puisi adalah itu-itu juga, seperti kata manusia dan orang, merujuk pada mahluk yang nyaris serupa.

Poeima, pathema, mathema, nah ini adalah bentangan jalur hidup manusia menurut orang Yunani kuna. Poeima artinya pengembaraan, dalam bahasa jawa disebut kalangwan (pengembara). Pathema artinya masa fatal, melahirkan kondisi phatos dan ilmu fatologi. Dalam pengembaraannya itu, manusia bisa menghadapi masa kebingungan, tersesat, samar arah, fatal.

Ujung dari jalur hidup manusia, diharapkan mencapai husnul khotimah (akhir yang baik), yang dalam bahasa Latin disebut dengan mathema, yaitu suatu kondisi pengembaraan yang sampai pada masa aufklarung (Jerman: cerah), atau enlightenment (Inggris: tercerahkan), rennaisance (Latin: tercerahkan), sadrah/sadar/eling (Sunda dan Jawa), atau dalam Quran Surat Ibrahim ayat perdana, dimaknai sebai terhijrahkan dari gelap menuju terang pikiran.

الۤرٰ‌ ۚكِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰهُ اِلَيۡكَ لِـتُخۡرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوۡرِ  ۙ بِاِذۡنِ رَبِّهِمۡ اِلٰى صِرَاطِ الۡعَزِيۡزِ الۡحَمِيۡدِۙ

QS Ibrahim ayat 1: Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.

Jika manusia masih meributkan yang syariat, pola tuang baru, Yang Ter, dan tetek-bengek duniawi, patut diperiksa, jangan-jangan masih bermukim mental Firaun dalam diri kita. Cag.

Esai-esai lain dengan suara liyah, dapat ditemui di: https://jurdik.id/2022/07/18/leumuria/

**Fira

Berita Terkait :




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment