- Alat Berat Masuk Diam-diam, Kebun Petani di Sungai Raya Hancur dan Konflik Meledak
- Hadir di Tengah Masyarakat, Polsek Batang Cenaku Dukung Kesejahteraan Petani
- Gerak Cepat Polsek Merbau Tiga Pencuri Serang Walet Dibekuk Hanya Dalam Hitungan Jam
- Tragis, Seorang Ibu di Meranti Ditemukan Meninggal di Tangki Air Bawah Tanah
- Mahasiswa Pendidikan Biologi UNRI Gelar Pekan Penghijauan XXXV untuk Rehabilitasi Sungai Kampar
- Prestasi Internasional: Rafif Adinata Ramadhan Masuk NUS, Inspirasi Pelajar Indonesia
- Rombongan Harmoni Kasih Rayakan Silaturahim Lewat Wisata Budaya Siak
- Siak, Wajah Budaya Melayu Indonesia, Harus Dimanfaatkan untuk Ekonomi Kreatif
- Polsek Merbau Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pengecekan Lahan Jagung
- Ketua Yasrah Buka Suara Soal Kritik Mahasiswa terhadap Pembangunan Unilak
Waspada Bahaya yang Terjadi Karena Merokok

Ilustrasi. Merokok dapat mengakibat seseorang kecanduan (foto: KlikDoctor)
Vokalonline.com- Dilansir dari CNN Indonesia -- Sebagian besar orang masih ada yang menyepelekan gangguan tidur berupa mendengkur atau ngorok. Tak jarang, orang atau pasangan yang ngorok malah dijadikan sebagai bahan tertawaan. Ada pula yang masih salah kaprah menganggap ngorok sebagai wujud tidur nyenyak berkualitas. Padahal di balik itu, ada sejumlah bahaya kesehatan yang bisa terjadi akibat ngorok.
"Gangguan tidur itu bisa pada kuantitas atau kualitasnya. Kalau kuantitas itu bicara jam tidurnya, sedangkan gangguan pada kualitas itu sleep apnea [ngorok], saat tidur tiba-tiba seperti kesedak atau batuk, dan bisa sampai kebangun," papar dr Yuda Turana, spesialis saraf saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Dokter Yuda menambahkan bahwa ngorok memang terjadi pada orang yang tidurnya nyenyak. Namun yang baik, adalah tidur nyenyak tanpa ngorok.
"Saat ngorok, sebenarnya itu terjadi penyempitan dari jalur napas, terutama jalur napas yang atas. Dan saat terjadi penyempitan napas, bisa dibayangkan itu oksigenasi jadi tidak maksimal," tambahnya.
Selain oksigenasi tidak maksimal, Yuda mengungkapkan bahwa ngorok atau mendengkur dapat memicu stroke hingga serangan jantung.
"Ngorok merupakan faktor risiko mayor seseorang terkena vaskular, mau stroke ataupun serangan jantung," katanya
"Itu disebut faktor risiko mayor, maksudnya meskipun dia kolesterolnya enggak tinggi, enggak diabetes, tapi tetap [ngorok] bisa menyebabkan stroke maupun serangan jantung," paparnya. Dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), Nurul Rakhmawati Ismail pun mengatakan hal serupa saat dihubungi secara terpisah.
"Ketika [ngorok] lidahnya jatuh ke belakang, maka asupan oksigen ke otak kurang. Dan itu bisa mengakibatkan stroke," kata dr Nurul.
Sebagaimana dilansir dari LiveStrong, dr. Ann Romaker, profesor dan direktur di Sleep Medicine Center University of Cincinnati Medical Center, mengatakan ada bukti bahwa mendengkur bisa menjadi faktor risiko stroke. Dalam sebuah studi Juni 2014 di Laryngoscope, mereka menemukan bahwa semakin besar proporsi malam yang dihabiskan seseorang untuk mendengkur, semakin menyempit di arteri leher.
"Mereka percaya getaran mendengkur menyebabkan robekan kecil di lapisan arteri, yang kemudian diperbaiki tubuh dengan meletakkan plak," kata Romaker.
"Penumpukan plak itu meningkatkan kemungkinan Anda terkena stroke," tambahnya.
Selain itu, Romaker juga mengungkapkan bahwa saat ngorok, tingkat oksigen dalam tubuh jadi naik turun sehingga membuat tekanan pada jantung, otak, dan pembuluh darah.
"Sleep apnea yang tidak diobati dari waktu ke waktu telah terbukti menyebabkan tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, gagal jantung kongestif, masalah irama jantung, kecelakaan mobil, impotensi, diabetes, Alzheimer dan bahkan kanker," ungkapnya.
Bahaya ngorok pada anak
Selain pada orang dewasa, ngorok juga bisa terjadi dan berbahaya pada anak-anak. Menurut dr Yuda, gangguan tidur pada anak akan mempengaruhi fungsi kognitif serta proses pertumbuhannya..
"Kurang tidur secara kuantitas baik kualitas, itu tentu akan mengganggu fungsi otak. Apa sih pentingnya tidur? Itu karena banyak zat kimia misalnya neurotransmitter, hormon pertumbuhan pada anak yang terjadi pada tidur," jelas Yuda.
"Kalau secara kuantitas dan kualitas kurang, tentu akan mengganggu proses-proses yang terjadi pada anak seperti proses pertumbuhan dan fungsional pada otak (seperti kecerdasan)."
(agn)
Berita Terkait :
- Bakteri yang Terdapat Pada Bulu Kucing 0
- Tantangan Berat Tidur Teratur di Masa Pandemi 0
- Waspada Tanda Anda Mengalami Kelelahan0
- Kenali Tanda Tidur Anda Yang Berkualitas 0
- Pola Diet yang Tepat untuk Penderita Tukak Lambung0
_Black11.png)









