- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
Cerita Tim 13, Tenaga Medis Yang Merawat Pasien Covid-19 Pertama di Riau

Dokter pertama yang merawat pasien Covid-19 di Riau. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Sudah setahun lebih Covid-19 menginfeksi ribuan warga Riau. Ratusan di antaranya meninggal dunia karena gejala berat akibat penyakit penyerta, sementara ribuan lainnya sembuh, kembali ke keluarga dan beraktivitas seperti biasa.
Covid-19 di Riau mulai terdeteksi awal Maret 2020 setelah sejumlah warga di Pekanbaru menunjukkan gejala terinfeksi virus corona begitu pulang dari tabligh akbar di Malaysia. Barulah pada 18 Maret 2020 keluar hasil pemeriksaan dari laboratorium biomolekuler.
"Kalau gak salah itu hari Selasa, dikasih tahu ada yang positif oleh Litbangkes di Jakarta," kata dr Indra Yovi berbincang dengan wartawan di ruang kerjanya di Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru.
Sebagai dokter spesialis paru yang juga bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahmad Pekanbaru, dr Yovi begitu sapaan akrabnya, diperintahkan Gubernur Riau Syamsuar membentuk tim penanganan Covid-19.
Yovi ditunjuk karena pernah memaparkan potensi virus dari Wuhan ini bakal menyebar cepat ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, khususnya Riau. Mendapat arahan dari orang nomor satu di Riau, Yovi langsung mencari 12 anggota penanganan Covid-19 di RSUD tersebut.
Perasaan dr Yovi kala itu campur aduk. Khawatir dan ketakutan menerpa karena saat itu ilmunya mengenai virus corona yang mengakibatkan Covid-19 belum dalam.
"Semuanya serba meraba, petunjuk teknis belum ada, alat pelindung diri saat itu seadanya, belum semua dokter menangani (mau)," cerita dr Yovi.
Mau tidak mau, dr Yovi menerima tugas ini karena seorang dokter bekerja di bawah sumpah. Sudah kewajibannya merawat orang sakit meskipun saat itu dirinya tidak mengetahui Covid-19 seperti apa wujudnya.
"Akhirnya terbentuk tim, ada 13 orang, salah satunya nurse atau perawat Eko. Kami pilih orang yang mau karena saat itu tidak semua mau, tidak semua perawat mau," jelas dr Yovi.
Yovi menyebut 13 orang ini sebagai tim berani mati. Yovi meminta anggota tim mengikhlaskan diri karena penyakit yang dihadapi masih baru, tika tahu bahayanya bagi diri dan keluarga.
"Kalau nanti kena saya bilang ikhlaskan diri, dalam perjalanan tim ini solid," kata Yovi.
Menjadi dokter pertama menangani pasien Covid-19 di Riau, Yovi mengakui ada kecemasan dari orang tua, istri dan anaknya. Bahkan orang tuanya langsung menelpon ketika tahu Yovi menangani pasien Covid-19.
"Orang tua nanya apa benar menangani pasien, lalu saya jelaskan, berusaha menenangkan minta gak khawatir, saya jelaskan posisi aman," terang Yovi.
Merawat pasien Covid-19 pertama di Riau berinisial M, saban hari Yovi khawatir ketika pulang ke rumah. Terutama kepada anak-anaknya karena takut virus ini menempel di tubuhnya dan menginfeksi keluarga.
"Setiap pulang saya pastikan tubuh saya bersih," kata Yovi.
Warga sekitar rumahnya sangat tahu Yovi menangani pasien Covid-19. Apalagi dirinya sering muncul di televisi karena juga bertugas sebagai juru bicara Satgas Covid-19 di Riau.
Julukan dokter Covid melekat pada Yovi. Beruntung, warga sekitar rumah tidak memberikan stigma buruk dan menjauhi dirinya dan keluarga tapi malah Yovi yang menjaga jarak.
"Saya jaga jarak karena takut masyarakat yang kena," ucap Yovi.
Terhadap anggota tim 13 tadi, Yovi menyebut banyak mendapat stigma buruk dari masyarakat. Bahkan salah satu perawat tidak dibolehkan pulang oleh keluarga dan ibu kos-kosan.
Akhirnya, rumah sakit menjadi tempat menginap bagi perawat dan dokter umum yang tergabung dalam tim.
"Namun ini tidak menjadi beban pikiran, kami hanya berpikir saat itu memberikan yang terbaik, berbuat untuk orang banyak," terang Yovi.
Dengan kerja keras ini, pasien pertama tim 13 ini sembuh. Pasien M yang berusia 60 tahun lebih kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Selama perawatan, Yovi menyebut M sangat tenang. Dalam beberapa kali pembicaraan, M mengaku ada keluhan tapi tidak berat karena ketenangan pasien tadi.
"Ketenangan menjadi kunci, begitu juga dengan tim yang merawat pasien, selalu memberikan motivasi," imbuh Yovi.
Berita Terkait :
- Tiga Kompol di Polda Riau Dalam Jeratan Bahaya Narkoba0
- Diduga Libatkan Pengusaha SPBU, Polres Rohul Grebek Penimbunan BBM Subsidi0
- Tak Ingin Kepala BPKAD Lolos, Jaksa Kuansing Terbitkan Sprindik Baru Untuk Keken0
- PLN Terangi 10 Desa Terpencil di Kepulauan Riau0
- Polisi Tembak Penampung Narkoba dari Malaysia di Bengkalis0
_Black11.png)









