- Gokasi Dumai Minta FORKI Mengundang Pengcab Perguruan Karate untuk Bahas Calon Ketua KONI
- Diduga PETI Beroperasi di Sungai Bawang F5, Polda Riau Diminta Bertindak
- Inkanas Riau Pimpin Klasemen Sementara Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Masuki Hari Kedua, 1.050 Karateka Berebut Gelar Juara
- INKAI Riau Juara Umum Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Oktober 2026, JMSI Riau Gelar UKW Muda, Madya dan Utama
- Karmila Sari Dorong Sekolah Garuda Cetak Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas
- Cabor Karate Dumai Tegaskan Tidak Dukung Aci sebagai Calon Ketua KONI
- Kapolres Inhil: Penanganan Karhutla Harus Cepat dan Bersama-Sama
Demo Covid Meluas, TV China Sensor Penonton Piala Dunia Tak Bermasker

Jakarta, vokalOnline.Com - Stasiun televisi China menyensor tayangan penonton Piala Dunia yang terlihat tak memakai masker, Minggu (27/11), ketika demonstrasi menolak lockdown Covid meluas ke berbagai penjuru Negeri Tirai Bambu.
South China Morning Post melaporkan bahwa stasiun televisi pemerintah, CCTV Sports, melakukan proses sensor itu ketika laga antara Jepang dan Costa Rica sedang berlangsung.
Dalam tayangannya, CCTV Sports meniadakan rekaman yang menunjukkan para penonton dari jarak dekat. Sementara itu, stasiun TV dunia memperlihatkan penonton di tribun, yang memang sudah tak diwajibkan memakai masker.
CCTV Sports mengganti gambar tersebut dengan tayangan gerak-gerik para pemain dan ofisial di stadion Qatar.
Sensor serupa terjadi kala pertandingan antara Australia dan Tunisia di Piala Dunia berlangsung. Para warganet pun dengan sigap menangkap momen tersebut, termasuk seorang jurnalis olahraga, Mark Dreyer.
"Ini menakjubkan. Akibat protes dari penggemar China karena melihat penonton tak bermasker di Qatar, TV China sekarang mengganti tayangan langsung penonton selama pertandingan dengan sorotan dekat pemain dan pelatih," tulisnya di Twitter.
Tayangan Piala Dunia ini memang menjadi senjata warga China untuk memprotes pemerintah yang dianggap menerapkan lockdown Covid-19 terlampau ketat.
Dalam sepucuk surat terbuka pada pekan lalu, warganet Negeri Tirai Bambu mempertanyakan "Apakah China berada di planet yang sama" dengan Qatar.
Surat itu tersebar luas di aplikasi percakapan China, WeChat, pada Selasa pekan lalu. Namun, tak lama setelah itu, China menyensor surat tersebut.
Beberapa hari kemudian, amarah warga kian membara setelah 10 orang dilaporkan tewas dalam kebakaran di Urumqi, Xinjiang, pada Kamis pekan lalu.
Sebagaimana diberitakan Reuters, warga menganggap korban berjatuhan karena petugas pemadam kebakaran terlambat akibat aturan lockdown Covid-19 yang terlalu ketat.
Demo pertama kali merebak di Urumqi, tapi kemudian meluas hingga berbagai kota besar, seperti Beijing dan Shanghai.
Dalam aksi pada Minggu (27/11), demonstran membawa kertas putih kosong. Menurut mereka, aksi ini merupakan simbol frustrasi karena tak dapat menyuarakan protes dengan leluasa di tengah sensor yang begitu ketat.**Syafira
Berita Terkait :
- Keponakan Khamenei Ditangkap usai Sebut Rezim Iran Pembunuh Anak0
- Demo China Tuntut Xi Jinping Mundur hingga Suporter Piala Dunia Rusuh0
- Suporter Rusuh di Brussels Usai Belgia Kalah di Laga Piala Dunia0
- Tanah Longsor Tewaskan 7 Orang, Italia Umumkan Situasi Darurat0
- Ratusan Mahasiswa China Protes Aturan Lockdown Covid-19 di Kampus0
_Black11.png)









