- Inkanas Riau Pimpin Klasemen Sementara Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Masuki Hari Kedua, 1.050 Karateka Berebut Gelar Juara
- INKAI Riau Juara Umum Kejurprov Karate FORKI Riau 2026
- Oktober 2026, JMSI Riau Gelar UKW Muda, Madya dan Utama
- Karmila Sari Dorong Sekolah Garuda Cetak Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas
- Cabor Karate Dumai Tegaskan Tidak Dukung Aci sebagai Calon Ketua KONI
- Kapolres Inhil: Penanganan Karhutla Harus Cepat dan Bersama-Sama
- Giat Dasawisma RT 03/08 Tobek Godang Sempena HUT RI ke-81
- Pelatihan Jurnalistik Digital, Koneksi Tingkatkan Kompetensi di Era Media Digital
IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Makin Suram ke Depan

Jakarta, VokalOnline. Com - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global semakin suram dibanding prediksi bulan lalu. Perkiraan mereka buat berdasarkan hasil survei purchasing manager index (PMI) yang dalam beberapa bulan terakhir semakin terlihat memburuk.
Survei terbaru menunjukkan PMI manufaktur dan jasa melemah hampir di seluruh 20 kelompok utama perekonomian. Hal ini terjadi beriringan dengan aktivitas ekonomi yang melambat sementara pada saat bersamaan inflasi tetap tinggi.
"Proyeksi pertumbuhan negara-negara G20 yang diprediksi meningkat pada awal tahun kini justru menunjukkan sinyal penurunan," ujar IMF seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/11),dilansir dari cnn indonesia
"Tantangan yang dihadapi oleh ekonomi global sangat besar dan makin lemahnya indikator ekonomi menunjukkan tantangan ke depannya akan lebih besar. Terlebih kebijakan yang ada saat ini menunjukkan ketidakpastian," sambung mereka
Perkiraan itu kata IMF, makin muram akibat dari pengetatan kebijakan moneter yang disebabkan oleh meluasnya lonjakan inflasi, lemahnya momentum pertumbuhan di China, dan terganggunya pasokan bahan pangan akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Karena kondisi itu, pada Oktober lalu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan 2023 dari yang sebelumnya 2,9 persen menjadi 2,7 persen.
Memburuknya krisis energi di Eropa juga semakin memperparah pertumbuhan dan meningkatnya inflasi. Sementara, inflasi tinggi yang berkepanjangan ini terus mendorong sejumlah bank sentral menerapkan kebijakan suku bunga agresif.
Selain itu, kondisi cuaca buruk yang semakin parah juga akan semakin merusak pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.**Syafira.
Berita Terkait :
- Dukung Amazon Penuhi 100 Persen Energi Hijau, PLN Bangun 4 PLTS0
- Harga Cabai-cabaian Turun di Tengah Kenaikan Daging Ayam0
- Bulog Hadiri dan Sukseskan Forum Ketahanan Pangan Global G200
- Kripto Terbang Kembali, Polygon Melesat 29 Persen0
- PLN Gaet Laboratorium EBT Amerika Kembangkan Teknologi Transisi Energi0
_Black11.png)









