- SD Darma Yudha Kembali Gelar Latihan Ekskul Karate Inkanas
- Jaga Pulau Padang Tetap Bebas Asap, Pemkab Meranti Gandeng RAPP
- Posyandu Jadi Garda Terdepan Kesehatan Anak, RAPP Dukung Penguatan Kader
- Teguh Santosa: UKW Bukan Basa-basi, Pers Jangan Produksi Suara Bising
- JMSI Riau dan NasDem Bahas Isu Strategis, Dari Media hingga Persoalan Daerah
- MAN 1 Pekanbaru Kembali Kirim Delegasi ke Olimpiade Sains Internasional
- Hendry Munief: Konektivitas Antar Pulau Jadi Isu Penting dalam RUU Daerah Kepulauan
- PERTAHANKAN TINGKAT BUNGA PENJAMINAN: MENJAGA KEPERCAYAAN MASYARAKAT
- DPRD Inhu Tolak Ranperda Perubahan APBD 2026 Lewat Voting Terbuka
- Satu Jam Razia Humanis di Lapas Tembilahan, 2 Botol Kaca Hingga Elemen Listrik Disita dan Dibakar
Izinkan Natal-Halloween, Apa Benar Saudi Larang Perayaan Maulid Nabi?

VokalOnline.Com-- Arab Saudi baru-baru ini telah merayakan festival Halloween. Beberapa pihak membandingkan perayaan ini dengan Maulid Nabi Muhammad yang dilarang kerajaan.
Perbandingan itu banyak muncul di media sosial. Salah satu yang turut menyuarakan adalah pemilik akun @rashid88861.
"Apakah merayakan Maulid Nabi adalah sebuah inovasi [yang berarti bid'ah di Saudi] dan merayakan Halloween adalah sunnah? Tuhan cukup, dan ya, ini agen," kata dia.
Warganet lain menyerukan hal serupa.
"Perayaan Halloween di Riyadh, Arab Saudi. GEA Saudi mengadakan acara yang disebut "Scary Weekend", sementara perayaan Maulid masih dilarang," tulis pemilik akun @Musa_Maliki di Twitter.
Halloween di Saudi dilaporkan dikemas dalam acara yang disebut Scary Weekend. Acara ini merupakan rangkaian dari Riyadh Season.
Meski identik dengan perayaan Halloween, sejumlah warga menyebut festival itu bukan perayaan Halloween melainkan pekan kostum horor.
Terlepas dari itu, apakah Saudi melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad?
Saudi tetap mengizinkan bagi warga yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di negara tersebut.
Setidaknya demikian dalam pemberitaan di Arab News bahwa pada 2020 sejumlah warga yang ingin merayakan Maulid Nabi tetap diperbolehkan.
Perayaan Maulid atau kelahiran Nabi Muhammad biasanya dirayakan di wilayah Barat Saudi, Hijaz. Perayaannya tentu tidak besar-besaran seperti di sejumlah negara mayoritas muslim.
"Kami merayakan secara sederhana dengan mendengar pembacaan riwayat Nabi dan mendengarkan puji-pujian untuk Nabi yang tertulis dalam bentuk syair atau prosa dari berbagai sumber terdahulu," tutur salah satu tokoh agama Islam di Hijaz, Usama Al-Kubaisi, seperti dikutip dari Arab News.
Tepat di bulan Rabiul Awal kelahiran Nabi, para warga Hijaz merayakannya dengan melakukan santunan dengan membagikan makanan hingga uang kepada orang-orang miskin di sana. Puncak perayaan tentu pada 12 Rabiul Awal yang merupakan tanggal lahir Nabi.
Tak Ada Perayaan Resmi Maulid Nabi dari Kerajaan Saudi
Meski tak melarangi, Kerajaan Saudi secara resmi memang tidak ikut merayakan Maulid Nabi Muhammad karena perbedaan pandangan sesuai mazhab dan ajaran resmi negara itu.
Arab Saudi memiliki mazhab resmi yakni Hambali. Namun, negara ini tak lepas dari citra ajaran Salafi-Wahabi.
Wahabi sendiri merupakan ajaran yang berpegang pada Al-Quran-hadis, dan ingin memurnikan Islam atau purifikasi seperti di zaman Nabi Muhammad dan tiga generasi setelahnya.
Beberapa pengamat menilai ajaran Wahabi ketat dan menolak inovasi karena dianggap tak sesuai ajaran Islam atau bidah.
"Saudi dengan Wahabinya sangat ketat dan menolak segala bentuk akulturasi Islam dan kebudayaan (bidah)," kata pakar kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Sya'roni Rofii, pada Senin (31/10).**Syafira
Berita Terkait :
- Mengapa Paham Wahabi Ditolak di Indonesia0
- Cerita WNI Selamat dari Tragedi Halloween Itaewon Menyayat Hati0
- Menteri Israel Diklaim Masuk Daftar Musuh Ukraina yang Patut Dibunuh 0
- Bisakah Kreator Konten Twitter Dapat Duit bak YouTuber?0
- Rusia Setop Mobilisasi Parsial Tentara ke Ukraina, Putin Menyerah?0
_Black11.png)








