- Kabar Duka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
- WKC Open Championship II 2026 Sukses Digelar, Inkai Prestasi Sabet Juara Umum
- Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
- Sambu Group Satukan Petani dan Industri dalam Kenduri Kelapa 2026
- Mitra SPPG se-Inhil Turun Tangan Ringankan Luka Korban Kebakaran di Pulau Kijang
- Polres Inhil Amankan Pengedar Sabu dan Ekstasi di Keritang
- Lapas Tembilahan Gelar Bakti Sosial, Salurkan 17 Paket Sembako untuk Keluarga Warga Binaan
- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
Periode Supercycle, Harga Komoditas Bakal Naik

(kompas.com)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memperingatkan Indonesia akan memasuki periode supercycle. Pada periode ini, harga beberapa komoditas bakal naik secara signifikan.
Periode supercycle terjadi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi pasca pandemi covid-19, permintaan pun diprediksi meningkat yang notabene membuat harga komoditas naik.
"Indonesia akan memasuki periode supercycle, di mana harga beberapa komoditas akan naik secara signifikan, terutama komoditas dasar, diakibatkan pertumbuhan ekonomi baru dari permintaan yang terjadi di masa pandemi dan setelah pandemi," jelasnya seperti dikutip dari rilis, Kamis (8/4).Menurut Lutfi, beberapa komoditas yang harganya naik dalam periode supercycle tersebut adalah minyak bumi, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), bijih besi, dan tembaga.
Kendati demikian, Lutfi optimistis periode supercycle kali ini akan mendatangkan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. "Ini bukan kali pertama Indonesia menghadapi periode supercycle. Beberapa tahun lalu, Indonesia telah mengalami dan seperti periode sebelumnya, periode supercycle kali ini pun diharapkan juga akan membawa keberuntungan dan dampak positif bagi perekonomian Indonesia," jelasnya.
Selain supercycle, ada beberapa hal lain yang juga akan menjadi tren perdagangan Indonesia ke depan. Tren pertama adalah munculnya investasi yang terjadi karena pasar yang besar.
Hal itu dapat dilihat melalui sektor otomotif yang banyak dilirik investor karena besarnya pasar otomotif di Indonesia. Tren kedua, komoditas dasar Indonesia memberikan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang baik.
Dengan memiliki keunggulan tersebut, Lutfi menilai Indonesia mampu menghasilkan barang dan jasa dengan biaya yang bersaing. Hal ini dapat dilihat dari produksi stainless steel Indonesia yang merupakan produsen kedua terbesar di dunia.
Tren ketiga, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Salah satu contohnya, komoditas perhiasan yang merupakan komoditas unggulan ekspor non-migas Indonesia.Lutfi menyebut dengan sumber daya alam dan manusia yang saling mendukung, Indonesia mampu menghasilkan produk perhiasan berdaya saing di pasar dunia.
Dengan keunggulan itu, Lutfi membidik beberapa negara untuk menjadi mitra khusus Indonesia. Terutama Jepang, Amerika Serikat, dan China.
"Negara-negara tersebut tak hanya sekadar menjadi mitra dagang, tetapi juga menjadi sumber investasi perekonomian nasional, dengan produk-produk yang menjadi pilar utama ekspor non-migas Indonesia," pungkasnya.
(wel/bir)
Berita Terkait :
- Pengusaha Pertanyakan Larangan Impor Sawit Oleh Sri Lanka 0
- Petani Penerima Subsidi Pupuk Akan Dibatasi 0
- Mengenal BI Fast Payment yang Bikin Transfer Jadi Lebih Murah 0
- Mimpi Jokowi Bikin Pengusaha Warteg Naik Kelas 0
- Pemerintah Belum Tetapkan Biaya Haji 2021, Tapi Bisa Naik 0
_Black11.png)









